<?xml version='1.0' encoding='UTF-8'?><?xml-stylesheet href="http://www.blogger.com/styles/atom.css" type="text/css"?><feed xmlns='http://www.w3.org/2005/Atom' xmlns:openSearch='http://a9.com/-/spec/opensearchrss/1.0/' xmlns:georss='http://www.georss.org/georss' xmlns:gd='http://schemas.google.com/g/2005' xmlns:thr='http://purl.org/syndication/thread/1.0'><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936</id><updated>2011-12-11T01:02:19.216-08:00</updated><category term='politik'/><category term='dakwah'/><category term='Fiqihdakwah'/><category term='tausiah'/><category term='akhlaq'/><category term='Keluarga'/><category term='tsaqafah'/><category term='dunia islam'/><category term='taujihat tarbawi'/><category term='Tazkiyatunnafs'/><category term='Idhul Adha'/><category term='Idulfitri'/><category term='aqidah'/><title type='text'>KHUTBAH   JUMAT</title><subtitle type='html'></subtitle><link rel='http://schemas.google.com/g/2005#feed' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/posts/default'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default?max-results=100'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/'/><link rel='hub' href='http://pubsubhubbub.appspot.com/'/><link rel='next' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default?start-index=101&amp;max-results=100'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><generator version='7.00' uri='http://www.blogger.com'>Blogger</generator><openSearch:totalResults>101</openSearch:totalResults><openSearch:startIndex>1</openSearch:startIndex><openSearch:itemsPerPage>100</openSearch:itemsPerPage><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-2642570602356886864</id><published>2011-11-03T19:10:00.001-07:00</published><updated>2011-11-03T19:39:42.300-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idhul Adha'/><title type='text'>Khutbah Idul Adha 1432 H: Bergerak dan Berkorban Dalam Kebenaran</title><content type='html'>الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر &lt;br /&gt;اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أََنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.&lt;br /&gt;Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2011/10/15667/khutbah-idul-adha-1432-h-bergerak-dan-berkorban-dalam-kebenaran/"&gt;dakwatuna.com &lt;/a&gt;- Puji dan syukur kita panjatkan ke hadirat Allah swt yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita bisa hadir pada pagi ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha. Kehadiran kita pagi ini bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Semua ini karena nikmat terbesar yang diberikan Allah swt kepada kita, yakni nikmat iman dan Islam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalawat dan salah semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikut setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.&lt;br /&gt;Kaum Muslimin Yang Berbahagia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang amat kita butuhkan dalam menjalani kehidupan yang  baik adalah keteladanan dari figur-figur yang bisa diteladani. Dengan adanya keteladanan, kita memiliki tolok ukur untuk menilai apakah perjalanan hidup kita sudah baik atau belum. Karena itu, hari ini kita kenang kembali manusia agung yang diutus oleh Allah swt untuk menjadi Nabi dan Rasul, yakni Nabi Ibrahim as beserta keluarga Ismail as dan Siti Hajar. Keagungan pribadinya membuat kita bahkan Nabi Muhammad saw harus mampu mengambil keteladanan darinya, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَدْ كَانَتْ لَكُمْ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِى اِبْرَاهِيْمَ وَالَّذِيْنَ مَعَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia&lt;/span&gt; (QS Al Mumtahanah [60]:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari sekian banyak hal yang harus kita teladani dari Nabi Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan dia serta mengambil hikmah dari pelaksanaan ibadah haji yang sedang berlangsung di tanah suci, dalam kesempatan khutbah yang singkat ini ada empat hikmah yang menjadi isyarat bagi kaum muslimin untuk mewujudkannya dalam kehidupan ini, apalagi bagi kita bangsa Indonesia yang masih terus berjuang untuk mengatasi berbagai persoalan besar yang menghantui kehidupan berkeluarga, bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama, &lt;/span&gt;Tinggalkan Yang Haram, dan Lakukan Yang Halal. Sebagaimana kita ketahui, ibadah haji dimulai dengan ihram dan diakhiri dengan tahallul. Saat ihram, pakaian yang dikenakan jamaah adalah kain putih tak berjahit, yang melambangkan kain kafan yang nanti akan dikenakan di sekujur tubuhnya ketika akan kembali kepada Allah swt pada saat kematiannya. Pakaian ihram yang putih-putih itu juga melambangkan tidak adanya perbedaan di mata Allah di antara sesama manusia. Segala perbedaan harus ditanggalkan dalam arti jangan sampai memiliki fanatisme secara berlebihan seperti perbedaan suku, organisasi, partai politik, paham, status sosial, ekonomi atau profesi. Kesatuan dan persamaan merupakan sesuatu yang harus diutamakan dalam upaya menegakkan kebenaran, bahkan siap mempertanggungjawabkan segala yang dilakukannya. Pakaian ihram juga melambangkan kesiapan berdisiplin dalam menjalankan kehidupan sebagaimana yang ditentukan Allah swt, hal ini karena selama berihram, jamaah haji memang berhadapan dengan sejumlah ketentuan, ada yang boleh dan ada yang tidak boleh dilakukan. Dengan demikian, seorang haji semestinya selalu disiplin menjalankan syariat Islam dan siapa pun yang menjalankan syariat Islam mendapat kedudukan yang terhormat, karena kehormatan manusia bukanlah terletak pada pakaiannya, tapi pada ketaqwaannya di hadapan Allah swt. Bila ihram maknanya adalah pengharaman dan tahallul maknanya adalah penghalalan, maka seorang haji siap meninggalkan yang diharamkan Allah swt dan hanya mau melakukan sesuatu bila memang dihalalkan. Ini merupakan prinsip yang harus dilaksanakan oleh setiap muslim, bahkan setiap manusia. Karena itu amat tercela bila ada orang ingin mendapatkan sesuatu yang tidak halal dengan memanfaatkan jalur hukum sekadar untuk mendapatkan legalitas hukum agar terkesan menjadi halal, padahal keputusan hakim sekalipun tetap saja tidak bisa mengubah sesuatu yang tidak halal menjadi halal, Allah swt melarang keras hal ini dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُواْ بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقاً مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui&lt;/span&gt; (QS Al Baqarah [2]:188).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilmamdu.&lt;br /&gt;Kaum Muslimin Rahimakumullah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, hikmah yang harus kita raih adalah Bergerak Untuk Kebaikan dan Berkorban. Ibadah haji merupakan ibadah bergerak. Para jamaah bergerak dari rumahnya menuju ke asrama haji, hanya beberapa jam di asrama haji, para jamaah harus bergerak lagi menuju Bandara, sesudah naik pesawat, mereka diterbangkan menuju bandara King Abdul Aziz, Jeddah, dari Jeddah para jamaah harus bergerak lagi menuju Madinah bagi jamaah gelombang pertama untuk selanjutnya Menuju Mekah, sedangkan bagi jamaah gelombang kedua para jamah langsung ke Mekah. Di sana jamaah langsung menunaikan umrah hingga tahallul. Selama beberapa hari di Mekah, para jamaah sudah harus bergerak lagi untuk melaksanakan puncak ibadah haji, mereka harus bergerak lagi menuju Arafah untuk wuquf, malam harinya menuju Muzdalifah untuk mabit dan mengumpulkan batu, keesokan harinya melontar di Mina, Tawaf ifadhah di Mekah, kembali lagi ke Mina untuk melontar hingga selesai, lalu kembali lagi ke Mekah untuk bersiap meninggalkan Mekah menuju Tanah air masing-masing dan sebelum meninggalkan Mekah, para jamaah bergerak lagi untuk melakukan tawaf wada, yakni tawaf perpisahan dengan Ka’bah. Dari rangkaian ibadah haji, puncak kesulitan bahkan resiko yang paling besar adalah saat melontar yang melambangkan perlawanan atau peperangan melawan syaitan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari rangkaian ibadah haji, kita bisa mengambil pelajaran bahwa setiap muslim apalagi mereka yang sudah menunaikan haji seharusnya mau bergerak dan menjadi tokoh-tokoh pergerakan untuk memperbaiki keadaan dan kualitas umat Islam. Setiap muslim harus bergerak untuk mencari nafkah, bergerak mencari ilmu, bergerak untuk menyebarkan, menegakkan dan memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, bergerak untuk memberantas kemaksiatan dan kemunkaran. Ini semua menunjukkan bahwa seorang muslim jangan sampai menjadi orang yang pasif, diam saja menerima kenyataan yang tidak baik, apalagi bila hal itu dilakukan dengan dalih tawakkal, padahal tawakkal itu adalah berserah diri kepada Allah swt atas apa yang akan diperoleh sesudah berusaha secara maksimal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.&lt;br /&gt;Jamaah Shalat Id Yang Dimuliakan Allah swt&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, Jadikan masjid sebagai Pusat pergerakan. Ibadah haji dan rangkaian ibadah lainnya berpusat di masjid. Ketika jamaah haji kita mendapat kesempatan untuk berziarah ke Madinah, maka seluruh jamaah berbondong-bondong untuk melaksanakan shalat berjamaah yang lima waktu di masjid Nabawi, bahkan sampai ditargetkan mencapai angka arbain (40) waktu meskipun hal ini tidak menjadi bagian dari ibadah haji. Oleh karena itu, sebagai muslim setiap kita harus memiliki ikatan batin dengan masjid yang membuat kita mau mendatangi masjid setiap hari untuk melaksanakan shalat lima waktu secara berjamaah, khususnya bagi laki-laki, ikatan batin kita yang kuat kepada masjid membuat kita akan menjadi orang yang dinaungi Allah swt pada hari kiamat, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَبْعَةٌ يُظِلُّهُمُ اللهُ فِى ظِلِّهِ يَوْمَ لاَظِلَّ اِلاَّظِلُّهُ:..وَرَجُلٌ قَلْبُهُ مُعَلَّقٌ بِالْمَسْجِدِ إِذَاخَرَجَ مِنْهُ حَتَّى يَعُوْدَ اِلَيْهِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ada tujuh golongan orang yang akan dinaungi Allah yang pada hari itu tidak ada naungan kecuali dari Allah: …seseorang yang hatinya selalu terpaut dengan masjid ketika ia keluar hingga kembali kepadanya &lt;/span&gt;(HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu aneh sekali bila ada lelaki muslim tapi sehari-hari tidak suka dan tidak mau datang ke masjid. Karena tidak mau dipertanyakan keimanannya benar apa tidak, maka pada zaman Nabi Muhammad saw, orang munafik yang sudah mengaku beriman pun akhirnya datang juga ke masjid untuk menunaikan shalat berjamaah, namun hati mereka terasa berat dan malas, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً   &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali &lt;/span&gt;(QS An Nisa [4]:142).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila setiap lelaki muslim saja harus berusaha untuk selalu menunaikan shalat berjamaah di masjid, apalagi bila ia sudah melaksanakan ibadah haji. Karena seorang haji yang sudah menyempurnakan keislamannya seharusnya bisa menjadi contoh yang baik bagi masyarakat di sekitarnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pelajaran &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, yang kita peroleh dari Nabi Ibrahim as adalah keinginannya yang amat besar untuk memiliki ilmu, menjadi pribadi yang shalih dan menjadi bahan pembicaraan yang baik bagi generasi yang akan datang, hal ini tercermin dalam doanya yang disebutkan oleh Allah swt dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ وَاجْعَل لِّي لِسَانَ صِدْقٍ فِي اْلآخِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Ibrahim berdoa): “Ya Tuhanku, berikanlah kepadaku hikmah dan masukkanlah aku ke dalam golongan orang-orang yang saleh, dan jadikanlah aku buah tutur yang baik bagi orang-orang (yang datang) kemudian,&lt;/span&gt; (QS As Syu’ara [26]:83-84)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;tafsir Al Mishbah&lt;/span&gt;, kata hukman dipahami oleh al-Biqai berarti amal ilmiah, yakni amal yang baik berdasar ilmu. Sungguh sangat mulia pada diri Nabi Ibrahim yang berdoa meminta ilmu dan pemahaman agar selalu menjalani kehidupannya di jalan Allah swt. Namun yang amat disayangkan adalah banyak orang yang meminta ilmu kepada Allah, bahkan sampai memiliki gelar kesarjanaan tertinggi tetapi ilmu tersebut diamalkan untuk hal-hal yang tidak bermanfaat dan malah mendatangkan dosa. Karena itu dengan ilmu manusia bisa saja masuk surga dengan selamat dan dengan ilmu juga manusia bisa saja masuk neraka jika ilmunya digunakan untuk hal-hal yang negatif, bahkan memperoleh siksa yang lebih dahsyat, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَشَدُّ النَّّّاسِ عَذَابًا عِنْدَ اللهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ عَالِمٌ لَمْ يَنْفَعْهُ عِلْمُهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Orang yang paling keras siksanya pada hari kiamat adalah orang yang berilmu tapi tidak dimanfaatkannya &lt;/span&gt;(HR. Thabrani dari Abu Hurairah ra).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hal yang luar biasa dari doa Nabi Ibrahim di atas adalah beliau meminta kepada Allah swt agar dimasukkan ke dalam golongan orang yang shalih, padahal seorang Nabi sudah pasti shalih, tapi masih saja ia berdoa agar dimasukkan ke dalam kelompok orang yang shalih, ini menunjukkan betapa pentingnya menjadi shalih dan beliau tidaklah merasa tinggi hati dengan keshalihannya hingga akhirnya ia tetaplah berdoa meminta dimasukkan ke dalam golongan orang yang shalih. M. Quraish Shihab dalam bukunya Wawasan Al-Qur’an menyatakan bahwa; Kata shalih terambil dari akar kata shaluha yang merupakan lawan dari fasid (rusak). Dengan demikian shalih diartikan dengan tiada atau terhentinya kerusakan. Shalih juga diartikan sebagai bermanfaat dan sesuai. &lt;br /&gt;Amal shalih adalah pekerjaan yang apabila dilakukan tidak menyebabkan dan mengakibatkan mudharat (kerusakan) atau bila pekerjaan itu dilakukan akan diperoleh manfaat dan kesesuaian (hal 562).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selanjutnya, Muhammad Abduh seperti yang dikutip oleh Quraish Shihab menyatakan bahwa amal shalih adalah segala perbuatan yang berguna bagi pribadi, keluarga, kelompok dan manusia secara keseluruhan. Dengan demikian, orang yang shalih adalah orang yang menjalani kehidupan yang sesuai dengan ketentuan Allah swt dan Rasul-Nya sehingga memberi manfaat kebaikan dan tidak mengakibatkan kerusakan atau kemudharatan bagi dirinya dan orang lain, baik di dunia maupun di akhirat kelak.&lt;br /&gt;Begitu penting menjadi shalih, sehingga selain Nabi Ibrahim, jauh sebelumnya Nabi Sulaiman as juga berdoa agar dimasukkan ke dalam kelompok orang yang shalih, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِى أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِى أَنْعَمْتَ عَلَىَّ وَعَلَى وَالِدَىَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِى بِرَحْمَتِكَ فِى عِبَادِكَ الصَّالِحِيْنَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maka dia tersenyum dengan tertawa karena (mendengar) perkataan semut itu, dan dia berdoa: “Ya Tuhanku, berilah aku ilmu untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal shalih yang Engkau ridhai; dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang shalih &lt;/span&gt;(QS An Naml [27]:19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Doa ketiga dari Nabi Ibrahim as yaitu agar menjadi buah tutur yang baik bagi orang-orang yang datang kemudian. Tentu sebagai seorang nabi, Ibrahim as tidak berucap atau bertindak yang buruk kepada keluarga dan kaumnya, meskipun begitu beliau khawatir bila ada saja orang yang membicarakan keburukannya. Oleh karena itu, kesempatan hidup kita yang amat terbatas ini harus kita gunakan untuk membuat sejarah hidup yang mulia sehingga menjadi bahan pembicaraan yang baik saat kita sudah wafat, bukan karena kita ingin mendapat pujian, tapi karena memang hanya kebaikan yang boleh dibicarakan tentang orang yang sudah mati, namun bila tidak ada kebaikan yang bisa dibicarakan, lalu apa yang akan orang bicarakan tentang kita. Karena itu menjadi penting bagi kita untuk merenungi kira-kira bila kita sudah mati, apa yang orang bicarakan tentang kita, tentu seharusnya kebaikan dan manfaat hidup kita yang mereka rasakan, bukan karena kita suka menceritakannya kebaikan kita kepada orang lain. Manusia terbaik adalah yang paling bisa dirasakan manfaat keberadaannya oleh orang lain, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خَيْرُالنَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sebaik-baik orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain&lt;/span&gt; (HR. Qudha’i dari Jabir ra).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas, dapat kita ambil pelajaran bahwa meneladani Nabi Ibrahim as dan Nabi Muhammad saw serta mengambil hikmah dari ibadah haji menuntut kita untuk selalu berusaha memperbaiki diri dan keluarga serta memperbaiki orang lain untuk selanjutnya terus bergerak dalam menegakkan nilai-nilai kebenaran dan mau berkorban untuk mencapainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhirnya marilah kita tutup khutbah Idul Adha pagi ini dengan berdoa kepada Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan doa.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang zhalim dan kafir&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selama kami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمِ لاَ يَنْفَعُ  وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَسْبَعُ وَمِنْ دُعَاءِ لاَيُسْمَعُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tak khusyu dan jiwa yang tak pernah merasa puas serta dari doa yang tak didengar (Ahmad, Muslim, Nasa’i)&lt;/span&gt;.http://www.blogger.com/img/blank.gif&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَّشْكُوْرًا وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, jadikanlah mereka (para jamaah haji) haji yang mabrur, sa’i yang diterima, dosa yang diampuni, perdagangan yang tidak akan mengalami kerugian&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh: &lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2011/11/16155/khutbah-idul-adha-1432-h-empat-pelajaran-dari-kisah-nabi-ibrahim-as-dan-keluarganya/"&gt;Drs. Ahamad Yani&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-2642570602356886864?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/2642570602356886864/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/11/khutbah-idul-adha-1432-h-bergerak-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2642570602356886864'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2642570602356886864'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/11/khutbah-idul-adha-1432-h-bergerak-dan.html' title='Khutbah Idul Adha 1432 H: Bergerak dan Berkorban Dalam Kebenaran'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-520231035822796066</id><published>2011-10-20T20:40:00.000-07:00</published><updated>2011-10-20T20:45:01.946-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tausiah'/><title type='text'>EMPAT AKIBAT AMBISI DUNIA</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jamaah Sidang Jumat Yang Dimuliakan Allah swt.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat dunia sebagai tempat sementara seharusnya membuat manusia, apalagi kaum muslimin menyadari bahwa dunia ini adalah yang oleh Rasulullah saw dikatakan sebagai tempat bercocok tanam dan panennya dalam kehidupan di akhirat nanti. Namun tetap saja begitu banyak manusia yang lupa akan hakikat dunia sehingga kesenangan dan kenikmatan dunia menjadi ambisi manusia dan yang lebih tragis lagi adalah menjadi ambisi kaum muslimin yang seharusnya mengingatkan orang yang menjadikan dunia sebagai tujuan hidupnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dunia seringkali dilambangkan dengan harta, tahta dan wanita. Orang yang berambisi terhadap dunia akan mencapai semua itu meskipun dengan menghalalkan segala cara, bahkan yang lebih mengkhawatirkan lagi adalah mencari pembenaran dengan nilai-nilai Islam yang dipahaminya, salah satunya adalah dengan menggunakan istilah, dalil dan kaidah agama agar sesuatu yang tidak benar yang disikapi dan dilakukannya menjadi seolah-olah benar. Oleh karena itu, Rasulullah saw mengingatkan bahayanya bila seseorang berambisi kepada dunia.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هِمَّتَهُ وَسَدَمَهُ وَلَهَا شَخَصٌ وَإِيَّاهَا يَنْوِى جَعَلَ اللهُ الْفَقْرَ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَشَتَّتْ عَلَيْهِ ضَيْعَتَهُ وَلَمْ يَأْتِهِ مِنْهَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ مِنْهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa yang dunia ini adalah semangat dan hasratnya, kepadanya ia memberikan perhatian dan untuknya ia berniat, niscaya Allah menjadikan kefakiran dihadapan kedua matanya, dan Dia memporakporandakan segala urusannya dan tidak akan ia peroleh darinya  kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya darinya&lt;/span&gt; (HR. Bazzar, Thabrani dan Ibnu Hibban).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam hadits lain, disebutkan oleh Ibnu Abbas ra:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;خَطَبَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِى مَسْجِدِ الْخَيْفِ فَحَمِدَ اللهَ وَذَكَرَهُ بِمَا هوَ أَهْلُهُ ثُمَّ قَالَ: مَنْ كَانَتِ الدُّنْيَا هِمَّتَهُ فَرَّقَ الله شَمْلَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يُؤْتِهِ مِنَ الدُّنْيَا إِلاَّ مَا كُتِبَ لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suatu ketika Rasulullah saw berceramah kepada kami di masjid Al Khaif, beliau memulainya dengan memuji Allah dan beliau menyanjung-Nya dengan apa yang menjadi hak-Nya, kemudian bersabda: Barangsiapa yang dunia adalah semangat (hasrat)nya, niscaya Allah mencerai beraikan kekuatannya dan menjadikan kefakirannya dihadapan kedua matanya dan Allah tidak akan memberinya dari harta dunia ini, kecuali apa yang telah ditetapkan untuknya&lt;/span&gt; (HR. Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari hadits di atas, dapat kita simpulkan bahwa orang-orang yang memiliki ambisi keduniaan secara berlebihan ternyata tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, bahkan ia mengalami kerugian di dunia dan akhirat yang terangkum dalam empat akibat. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; menjadi fakir. Berapapun atau sebanyak apapun materi yang diperoleh, orang yang memiliki hasrat dunia tidak pernah merasa cukup dengan apa yang sudah diperolehnya itu. Orang lain melihatnya sebagai orang yang selalu kekurangan meskipun sebenarnya ia sudah punya harta yang berlimpah. Sudut pandang matanya yang merasa fakir atas harta akan membuatnya terus mencari dengan menghalalkan segala cara, merampas miliki dan hak orang lain.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kenyataan menunjukkan begitu banyak pengusaha yang tidak memenuhi hak-hak buruh yang dipekerjakannya, perusahaannya yang besar ternyata tidak membuatnya mau memberi gaji atau kesejahteraan yang memadai meskipun para buruh telah menuntut kesejahteraan bertahun-tahun, bahkan sampai mati ada diantara mereka yang tidak memperoleh hak-haknya. Ketika terjadi musibah, perusahaan besar seolah-olah menjadi begitu kecil karena tidak mau memberikan ganti rugi yang nilainya tidak seberapa dibanding aset perusahaan yang sedemikian banyak.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hasrat dunia membuat anggota DPR dan DPRD serta para pejabat di pusat dan daerah yang sudah bergaji besar serta tunjangan yang luar biasa masih saja melakukan korupsi, seperti orang yang masih kekurangan. Begitu juga dengan para padagang yang beromset besar tapi masih saja menimbun barang dan melakukan penipuan yang menyengsarakan masyarakat banyak, masyarakat yang sudah susah menjadi bertambah susah dan masih banyak contoh-contoh lain yang menggambarkan betapa orang yang berambisi atas kenikmatan dunia tidak membuatnya merasa memperoleh banyak, tapi masih merasa amat sedikit meskipun sebenarnya sudah begitu banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Saudaraku Kaum Muslimin Rahimakumullah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;kedua &lt;/span&gt;dari orang yang berambisi pada hal-hal yang sifatnya duniawi adalah &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;urusannya menjadi kacau&lt;/span&gt;. Ketika upaya menghalalkan segala cara dilakukan untuk mendapatkan ambisi duniawi, maka dampak buruk baginya tidak bisa dicegah, tidak hanya di dunia tapi juga di akhirat. Qarun dengan kekayaannya yang banyak membuatnya berhadapan dengan azab Allah swt di dunia dengan diamblaskan diri dan hartanya ke dalam bumi, sedangkan para pedagang dibenci oleh masyarakat yang membuat harta yang diperolehnya tidak berkah dan para politisi serta pejabat tidak hanya masuk penjara dan tidak bisa dicalonkan lagi untuk priode berikutnya, tapi citra dirinya menjadi hancur sehingga ia termasuk sebagai penjahat negara dan masyarakat yang harus diwaspadai. Keinginannya membangun negeri menjadi kacau dan ambisi lainnya yang berkaitan dengan hal-hal yang sifatnya duniawi sekalipun tidak bisa dikejarnya lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ambisi dunia tidak hanya berupa harta dan tahta, tapi juga wanita. Akibatnya ia lakukan upaya menghalalkan segala cara dengan melakukan perzinahan yang membuat karirnya terhenti dan meninggalkan citra yang sangat buruk. Ini tidak hanya terjadi di negeri kita, pada masyarakat barat yang sedemikian bebas dalam masalah seksual ternyata tidak rela bila pemimpinnya melakukan perzinahan, karena berapa banyak pemimpin yang terpaksa harus mundur atau dimundurkan dari jabatannya karena skandal seksual, ini membuat urusan yang hendak dikerjakannya menjadi kacau dan ibarat bangunan sudah porakporanda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt; yang merupakan akibat orang yang berambisi kepada dunia adalah menghilangkan kekuatan. Dalam konteks organisasi atau jamaah, ambisi keduniaan terbukti telah membuat kekuatan jamaah itu menjadi hilang, terjadi konflik yang tajam antara orang-orang yang idealis dengan nilai-nilai kebenaran yang diperjuangkan dengan orang yang pragmatis karena sekadar mencapai kenikmatan sesaat berupa harta, tahta dan wanita. Kekuatan pasukan kaum muslimin dalam perang Badar yang dengan mudah mengalahkan kekuatan lawan yang lebih besar ternyata hancur dengan mudah dengan korban 70 sahabat yang menjadi syahid dalam perang uhud karena harta yang diperebutkan meskipun sudah ada aturan pembagiannya yang diatur sesudah parang badar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan sekarang, para aktivis yang ingin memperjuangkan kesejahteraan rakyat dan menegakkan keadilan, baik dari kalangan Islam maupun nasionalis telah hilang kekuatannya, bahkan sudut pandang materi menjadi semakin kuat untuk meraih kemenangan. Target pencapaian keberhasilan bisa jadi hanya diawang-awang. Akibatnya, jangankan mau menambah keberhasilan, mempertahankan keberhasilan yang sudah dicapai saja menjadi sangat sulit. Konflik dengan sebab ambisi duniawi memang tidak bisa dipungkiri telah mengakibatkan hilangnya kekuatan barisan perjuangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;keempat &lt;/span&gt;sebagai akibat dari ambisi duniawi yang dilakukan manusia adalah mendapatkan harta hanya sedikit. Keinginan mendapatkan jabatan yang lebih tinggi atau paling tidak bertahan pada kedudukan sekarang serta ingin mendapatkan harta yang banyak dan lebih banyak lagi ternyata pupus dengan sebab ambisi duniawi. Hal ini karena ambisi duniawi yang menyebabkan ia melanggar hukum membuatnya menjadi manusia yang bermasalah dari sisi hukum, akibatnya harta yang diperolehnya habis untuk membayar pengacara dan berbagai upaya melindunginya dari jeratan hukum, bahkan kenyataan menunjukkan tidak sedikit orang yang menjadi pejabat di pusat atau daerah hanya dua sampai lima tahun tapi harus masuk penjara lima sampai sepuluh tahun, bahkan lebih lama lagi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akibatnya harta yang didapat dan bisa dinikmatinya hanya sedikit, sesuai dengan standar yang ditetapkan, bahkan bisa jadi malah berkurang dengan sebab perkara yang dihadapinya ditambah lagi citra diri yang sudah susah untuk dikembalikan.&lt;br /&gt;Apa yang dikemukakan oleh Rasulullah saw sejak lenih dari 15 abad yang lalu kita rasakan amat relevan dengan kehidupan kita sekarang dan kapanpun, karenanya berpedoman kepada Al-Qur’an dan Sunnah tidak hanya dalam aspek ubudiyah, tapi seluruh aspek kehidupan yang kita jalani.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian khutbah Jumat kita yang singkat pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amien ya rabbal alamin&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh Drs. Ahmad Yani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-520231035822796066?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/520231035822796066/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/10/empat-akibat-ambisi-dunia.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/520231035822796066'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/520231035822796066'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/10/empat-akibat-ambisi-dunia.html' title='EMPAT AKIBAT AMBISI DUNIA'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-2098211974732793242</id><published>2011-08-25T19:46:00.000-07:00</published><updated>2011-08-25T20:03:27.729-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idulfitri'/><title type='text'>Khutbah Idhul Fitri 1432 H</title><content type='html'>&lt;div align="center" class="style1"&gt;LIMA CARA MEMPERLAKUKAN HATI&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;div align="center"&gt;Oleh: Drs. H. Ahmad Yani&lt;/div&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر &lt;br /&gt;اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ إِِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ أََنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin Yang Berbahagia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kembali puji dan syukur kita panjatkan kepada Allah swt yang telah memberikan kenikmatan beribadah kepada kita, khususnya pada bulan Ramadhan yang baru saja kita lalui, bahkan ibadah shalat Id kita pada pagi ini,  Karenanya kita berharap semoga semua itu dapat mengokohkan ketaqwaan kita kepada Allah swt dalam menjalani sisa kehidupan kita di dunia. Ketaqwaan yang membuat kita bisa keluar dari berbagai persoalan hidup dan mengangkat derajat kita menjadi amat mulia dihadapan Allah swt.  &lt;br /&gt;Shalawat dan salam semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para penerusnya hingga hari akhir nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin Yang Berbahagia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pagi ini kita memiliki perasaan yang sama, yakni gembira. Gembira bukan karena banyak makanan di rumah kita, bukan karena uang kita lebih dari cukup atau bukan pula karena pakaian kita baru. Tapi kita gembira karena berada dalam kesucian jiwa, kebersihan hati setelah melaksanakan ibadah Ramadhan. Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ اللهَ عَزَّ وَجَلَّ فَرَضَ صِيَامَ رَمَضَانَ وَسَنَنْتُ قِيَامَهُ فَمَنْ صَامَهُ وَقَامَهُ إِحْتِسَابًا خَرَجَ مِنَ الذُّنُوْبِ كَيَوْمِ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Allah yang Maha Mulia lagi Maha Tinggi mewajibkan puasa Ramadhan dan aku mensunnahkan shalat malam harinya. Barangsiapa puasa Ramadhan dan shalat malam dengan mengharap ridha Allah, maka dia keluar dari dosanya seperti bayi yang dilahirkan ibunya”&lt;/span&gt; (HR. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu seharusnya kitapun bersedih karena Ramadhan yang sudah berlalu belum kita jalani ibadah di dalamnya dengan penuh kesungguhan, banyak diantara kita yang berpuasa hanya tidak makan dan tidak minum, shalat tarawih hanya mengejar jumlah rekaat tanpa kehusyuan, tilawah al-Qur’an yang hanya mengejar target khatam tanpa berusaha memahaminya sampai begitu sayang kita kepada harta sehingga tidak mau bersedekah atau hanya sedikit sedekah harta yang kita keluarkan dibandingkan dengan banyaknya harta yang kita miliki. Padahal belum tentu tahun depan Ramadhan bisa kita dapati lagi karena mungkin saja umur kita tidak sampai pada Ramadhan tahun depan sebagaimana hal itu dialami oleh orang tua kita, saudara-saudara, teman dan jamaah kita hingga tokoh-tokoh kita yang sudah lebih dahulu dipanggil oleh Allah swt, karenanya kita doakan mereka yang sudah mendahului kita semoga diampuni dosa-dosa mereka, diluaskan kubur mereka dan dimasukkan mereka ke dalam surga yang penuh kenikmatan oleh Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua tentu menyadari betapa banyak pribadi, keluarga, masyarakat, jamaah hingga bangsa dan negara yang tidak baik, amat jauh perjalanan hidupnya dari ketentuan yang digariskan oleh Allah swt, bahkan bisa jadi kita termasuk orang yang demikian, semua itu berpangkal pada hati. Karena itu, hati memiliki kedudukan yang sangat penting. Baik dan buruknya seseorang sangat tergantung pada bagaimana keadaan hatinya, bila hatinya baik, maka baiklah orang itu dan bila hatinya buruk, buruklah orang itu. Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَلاَ إِنَّ فِى الْجَسَدِ مُضْغَةً إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ أَلاَ وَهِيَ الْقَلْبُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ingatlah, di dalam tubuh manusia terdapat segumpal daging. Apabila ia baik, baiklah anggota tubuh dan apabila ia buruk, buruk pulalah tubuh manusia. Ingatlah, segumpal daging itu adalah hati &lt;/span&gt;(HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu hati harus kita perlakukan dengan baik dalam kehidupan ini. Melalui khutbah pada pagi ini akan kita bahas paling tidak lima hal yang harus kita perlakukan terhadap hati kita masing-masing. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; hati harus dibuka dan jangan sampai kita tutup. Yang menutup hati biasanya orang-orang kafir sehingga peringatan dan petunjuk tidak bisa masuk ke dalam hatinya, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُواْ سَوَاءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنذِرْهُمْ لاَ يُؤْمِنُونَ  خَتَمَ اللّهُ عَلَى قُلُوبِهمْ وَعَلَى سَمْعِهِمْ وَعَلَى أَبْصَارِهِمْ غِشَاوَةٌ وَلَهُمْ عَذَابٌ عظِيمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak akan beriman. Allah telah mengunci-mati hati dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagimereka siksa yang amat berat. &lt;/span&gt;(QS Al Baqarah [2]:6-7) &lt;br /&gt;       &lt;br /&gt;Itu sebabnya, ketika Umar bin Khattab menutup hatinya dari petunjuk ia menjadi kafir bahkan sangat membenci Rasulullah saw hingga bermaksud membunuhnya, namun ketika hati sudah dibuka dengan mudah petunjuk bisa masuk ke dalam hatinya yang membuatnya tidak hanya beriman tapi amat mencintai Rasulullah saw. Hal yang amat berbahaya bila hati tertutup selain petunjuk dan nasihat tidak bisa masuk, keburukan yang ada di dalam hati juga tidak bisa keluar sehingga meskipun kita tahu bahwa itu buruk amat sulit bagi kita untuk mengeluarkan atau membuangnya. Ibarat ruangan, bila kita buka pintu dan jendelanya, maka udara kotor bisa keluar dan udara bersih bisa masuk sehingga akan kita rasakan kesegaran jiwa. Berbagai bencana yang kita nilai dahsyat dalam kehidupan kita di dunia ini bisa kita pahami sebagai bentuk upaya menggedor hati manusia agar mau membukanya dan mengakui kebesaran Allah swt, namun ternyata hati yang tertutup rapat tetap saja tidak terbuka, mereka hanya mengatakan hal itu sebagai fenomena alam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memperlakukan hati yang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt; adalah dibersihkan. Seperti halnya badan dan benda-benda, hati bisa mengalami kekotoran, namun kotornya hati bukanlah dengan debu, hati menjadi kotor bila padanya ada sifat-sifat yang menunjukkan kesukaannya kepada hal-hal yang bernilai dosa, padahal dosa seharusnya dibenci. Oleh karena itu, bila dosa kita sukai apalagi sampai kita lakukan, maka jalan terbaik adalah bertaubat sehingga ia menjadi bersih kembali, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;التاَّ ئِبُ مِنَ الذَنْبِ كَمَنْ لاَ ذَنْبَ لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Orang yang bertaubat dari dosanya seperti orang yang tidak menyandang dosa&lt;/span&gt; (HR. Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hati yang bersih akan membuat seseorang menjadi sangat sensitif terhadap dosa, karena dosa adalah kekotoran yang membuat manusia menjadi hina, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تُخْزِنِي يَوْمَ يُبْعَثُونَ. يَوْمَ لاَ يَنفَعُ مَالٌ وَلاَ بَنُونَ. إِلاَّ مَنْ أَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيمٍ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan janganlah engkau hinakan aku pada hari mereka dibangkitkan, (yaitu) di hari harta dan anak-anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih &lt;/span&gt;(QS Asy Syu’araa [26]:87-89).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; cara memperlakukan hati adalah harus dilembutkan. Kelembutan hati merupakan sesuatu yang amat penting untuk dimiliki, hal ini karena dengan hati yang lembut, hubungan dengan orang lain akan berlangsung dengan baik dan ia mudah menerima nilai-nilai kebenaran. Kelembutan hati akan membuat kita memandang dan menyikapi orang lain dengan sudut pandang kasih sayang sehingga bila ada orang lain mengalami kesulitan hidup, ingin rasanya kita mengatasi persoalan hidupnya, ketika kita melihat orang susah, ingin sekali kita mudahkan, tegasnya kelembutan hati menjauhkan kita dari rasa benci kepada orang lain meskipun ia orang yang tidak baik, karena kitapun ingin memperbaiki orang yang belum baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu yang harus kita waspadai yang menyebabkan hati menjadi keras sehingga kita menjadi semakin jauh dari Allah swt adalah berbicara yang tidak baik dan tidak benar, hal ini karena ketika bicara kita demikian lalu ada orang lain menegur, meluruskan atau menasihati, kita cenderung mempertahankan dan membela diri atas pembicaraan kita yang tidak benar itu sehingga tanpa kita sadari kitapun memiliki hati yang menjadi keras, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لاَ تُكْثِرُوا الْكَلاَمَ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ, فَإِنَّ كَثْرَةَ الْكَلاَمِ بِغَيْرِ ذِكْرِ اللهِ تَعَالَى قَسْوَةٌ لِلْقَلْبِ, وَإِنَّ أََبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللهِ الْقَلْبُ الْقَاسِى&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Janganlah kalian banyak berbicara yang bukan (dalam rangka) dzikir kepada Allah. Karena banyak bicara yang bukan (dalam rangka) dzikir kepada Allah akan membuat hati keras. Sementara manusia yang paling jauh dari Allah adalah yang hatinya keras&lt;/span&gt; (HR. Tirmidzi). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk bisa melembutkan hati, kita bisa melakukannya dengan banyak cara, diantaranya menyayangi anak yatim dan orang-orang miskin. Dalam satu hadits disebutkan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أنَّ رَجُلاً شَكَا إلَى رَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَسْوَةَ قَلْبِهِ فَقَالَ: إِمْسَحْ رَأْسَ الْيَتِيْمِ وَ أَطْعِمِ الْمِسْكِيْنِ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seorang lelaki pernah datang kepada Rasulullah saw seraya melaporkan kekerasan hatinya, maka beliau menasihatinya: “Usaplah kepala anak yatim dan berilah makanan kepada orang miskin”&lt;/span&gt; (HR. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, amat disayangkan bila ada orang yang hatinya keras bagaikan batu sehingga sulit untuk diberi nasihat dan peringatan sebagaimana yang terjadi pada Bani Israil seperti yang disebutkan Allah swt dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ثُمَّ قَسَتْ قُلُوبُكُم مِّن بَعْدِ ذَلِكَ فَهِيَ كَالْحِجَارَةِ أَوْ أَشَدُّ قَسْوَةً وَإِنَّ مِنَ الْحِجَارَةِ لَمَا يَتَفَجَّرُ مِنْهُ الأَنْهَارُ وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَشَّقَّقُ فَيَخْرُجُ مِنْهُ الْمَاء وَإِنَّ مِنْهَا لَمَا يَهْبِطُ مِنْ خَشْيَةِ اللّهِ وَمَا اللّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemudian setelah itu hatimu menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi. Padahal diantara batu-batu itu sungguh ada yang mengalir sungai-sungai daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang terbelah lalu keluarlah mata air daripadanya dan di antaranya sungguh ada yang meluncur jatuh, karena takut kepada Allah. Dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang kamu kerjakan.&lt;/span&gt; (QS Al Baqarah [2]:74).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu&lt;br /&gt;Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat,&lt;/span&gt; hati harus disehatkan.Jasmani yang sehat membuat kita memiliki gairah dan semangat dalam menjalani kehidupan dan makanan yang lezat bisa kita nikmati. Namun bila jasmani sakit tidak ada gairah hidup dan makanan yang enak tidak antusias bagi kita untuk memakannya dan bila kita makanpun tidak kita rasakan kelezatannya. Begitu pula halnya dengan hati, bila hati sakit kita tidak suka pada kebaikan dan kebenaran. Islam merupakan agama yang nikmat, namun bagi orang yang hatinya sakit tidak dirasakan kenikmatan menjalankan ajaran Islam kecuali sekadar menggugurkan kewajiban. Hati yang sakit biasanya dimiliki oleh orang munafik, mereka nyatakan beriman tapi sekadar di lisan, mereka laksanakan kebaikan  termasuk shalat tapi maksudnya adalah untuk mendapatkan pujian orang, karena itu tidak mereka rasakan nikmatnya beribadah dan berbuat baik. Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمِنَ النَّاسِ مَن يَقُولُ آمَنَّا بِاللّهِ وَبِالْيَوْمِ الآخِرِ وَمَا هُم بِمُؤْمِنِينَ. يُخَادِعُونَ اللّهَ وَالَّذِينَ آمَنُوا وَمَا يَخْدَعُونَ إِلاَّ أَنفُسَهُم وَمَا يَشْعُرُونَ. فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ فَزَادَهُمُ اللّهُ مَرَضاً وَلَهُم عَذَابٌ أَلِيمٌ بِمَا كَانُوا يَكْذِبُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Diantara manusia ada yang mengatakan: "Kami beriman kepada Allah dan Hari kemudian", padahalmereka itu sesungguhnya bukan orang-orang yangberiman. Mereka hendak menipu Allah dan orang-orangyang beriman, pada hal mereka hanya menipu dirinyasendiri sedang mereka tidak sadar. Dalam hati mereka ada penyakit, lalu ditambahAllah penyakitnya; dan bagi mereka siksa yang pedih,disebabkan mereka berdusta.&lt;/span&gt; (QS Al Baqarah [2]:8-10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, orang munafik akan mengalami penyesalan yang amat dalam disebabkan keburukan yang mereka sembunyikan di dalam hatinya, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; فَتَرَى الَّذِينَ فِي قُلُوبِهِم مَّرَضٌ يُسَارِعُونَ فِيهِمْ يَقُولُونَ نَخْشَى أَن تُصِيبَنَا دَآئِرَةٌ فَعَسَى اللّهُ أَن يَأْتِيَ بِالْفَتْحِ أَوْ أَمْرٍ مِّنْ عِندِهِ فَيُصْبِحُواْ عَلَى مَا أَسَرُّواْ فِي أَنْفُسِهِمْ نَادِمِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maka kamu akan melihat orang-orang yang ada penyakit dalam hatinya (orang-orang munafik) bersegera mendekati mereka (Yahudi dan Nasrani), seraya berkata: "Kami takut akan mendapat bencana.”  Mudah-mudahan Allah akan mendatangkan kemenangan (kepada Rasul-Nya), atau sesuatu keputusan dari sisi-Nya. Maka karena itu, mereka menjadi menyesal terhadap apa yang mereka rahasiakan dalam diri mereka."&lt;/span&gt; (QS Al Maidah [5]:52 &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelima,&lt;/span&gt; ditajamkan. Hati harus kita asah hingga menjadi seperti pisau yang tajam. Pisau yang tajam akan mudah memotong dan membelah sesuatu. Bila hati kita tajam akan mudah pula membedakan mana haq dan mana yang bathil, bahkan perintahpun tidak selalu harus disampaikan dengan kalimat perintah, dengan bahasa isyarat saja sudah cukup dipahami kalau hal itu merupakan perintah yang harus dilaksanakan. Nabi Ibrahim dan Ismail as merupakan diantara contoh orang yang memiliki ketajaman hati sehingga perintah Allah swt untuk menyembelih Ismail cukup disampaikan melalui mimpi dan Ismail menangkap hal itu sebagai perintah ketika Nabi Ibrahim menceritakannya, padahal Nabi Ibrahim tidak menyatakan bahwa hal itu merupakan perintah dari Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk mendidik kita menjadi orang yang memiliki ketajaman hati, puasa merupakan salah satu caranya, karenanya pada waktu puasa, teguran orang lain kepada kita meskipun dengan bahasa isyarat sudah menyadarkan akan kesalahan yang kita lakukan, ini membuat kita dengan mudah bisa menangkap dan membedakan mana yang haq dan mana yang bathil, sesuatu yang selama ini semakin hilang dari pribadi masyarakat kita sehingga yang haq ditinggalkan dan yang bathil malah dikerjakan, Allah swt mengingatkan soal ini dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُواْ بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقاً مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan janganlah sebagian kamu memakan harta sebagian yang lain diantara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itukepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebagian daripada harta benda orang lain dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu mengetahui&lt;/span&gt; (QS Al Baqarah [2]:188).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, menjadi amat penting bagi kita semua untuk memperlakukan hati dengan sebaik-baiknya sehingga perbaikan diri, keluarga, masyarakat dan bangsa sesudah Ramadhan berakhir dapat kita lakukan. Akhirnya, marilah kita akhiri ibadah shalat Id kita pada pagi ini dengan sama-sama berdo’a:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اْلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَاْلأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اِنِّى أَعُوْذُ بِكَ مِنْ عِلْمِ لاَ يَنْفَعُ  وَمِنْ قَلْبٍ لاَ يَخْشَعُ وَمِنْ نَفْسٍ لاَ تَسْبَعُ وَمِنْ دُعَاءِ لاَيُسْمَعُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tak bermanfaat, dari hati yang tak khusyu dan jiwa yang tak pernah merasa puas serta dari do’a yang tak didengar (Ahmad, Muslim, Nasa’i)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-2098211974732793242?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/2098211974732793242/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/08/khutbah-idhul-fitri-1432-h.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2098211974732793242'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2098211974732793242'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/08/khutbah-idhul-fitri-1432-h.html' title='Khutbah Idhul Fitri 1432 H'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-1670020735104971171</id><published>2011-08-11T20:38:00.000-07:00</published><updated>2011-08-11T20:42:15.058-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tsaqafah'/><title type='text'>BAGAIMANA RASULULLAH SAW MENGHADAPI SYAITAN</title><content type='html'>Allah swt menciptakan malaikat, jin, manusia, hewan dan tumbuh-tumbuhan. Semuanya diciptakan dalam rangka untuk beribadah kepada Allah swt. Hanya tunduk dan taat pada-Nya saja. Namun ada makhluk yang membangkang perintah-Nya sehingga Allah pun mengutuknya, dialah Iblis. Al Qur’an telah menjelaskan bahwa syaithan telah bersumpah utk menjadi musuh manusia setelah dikeluarkannya dia dari surga. Di dalam Surat Al A’raf:16-17, Iblis menjawab: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَالَ فَبِمَا أَغْوَيْتَنِي لأقْعُدَنَّ لَهُمْ صِرَاطَكَ الْمُسْتَقِيمَ {16} ثُمَّ لآتِيَنَّهُمْ مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ وَمِنْ خَلْفِهِمْ وَعَنْ أَيْمَانِهِمْ وَعَنْ شَمَائِلِهِمْ وَلا تَجِدُ أَكْثَرَهُمْ شَاكِرِينَ {17}&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Karena Engkau telah menghukum saya tersesat, saya benar-benar akan menghalang-halangi mereka dari jalan Engkau yg lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka, dari kanan dan dari kiri mereka. Dan Engkau tidak akan mendapati kebanyakan mereka bersyukur (ta'at)”&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Maka Iblis dan bala tentaranya yaitu jin dan para syaitan akan menggoda manusia agar mereka ingkar pada jalan Tuhannya. Sehingga ada banyak teman untuk masuk neraka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada beberapa kiat untuk menghadapi tipu daya syaitan, yaitu: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1.	Selalu  Memperbaharui Iman kapan dan dimana saja berada.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Senantiasa mengingat Allah dg menyebut nama-Nya pada saat kita melakukan segala sesuatu. &lt;br /&gt;Sungguh syetan bersemayam dalam hati manusia. Saat manusia berdzikir kepada Alloh, syetan akan berlari. Namun, saat manusia lupa berdzikir, syetan datang kembali membisiki ke jalan kejahatan. Nabi memerintahkan untuk senantiasa memperbaharui iman. Sahabat bertanya bagaimana caranya? Nabi menjawab, perbanyaklah membaca, memahami dan mengamalkan laa ilaha illalloh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rosul dan sahabat saja, yang paling benar imannya, selalu memperbaharui iman mereka dengan berbagai cara. Senantiasa mengingat Allah dengan  menyebut nama-Nya pada saat kita melakukan segala sesuatu. Tidak ada waktu yang tersisa, untuk memberikan kesempatan syetan menjegal kehidupan kita. Hadirkanlah selalu iman kapan dan dimana kita berada. Iman tidak hanya hadir di mesjid, namun ia hadir dimana-mana dalam aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita patut belajar dari kisah dialog antara pengembala kambing dengan Umar bin Khatab. Seorang pengembala sapi yang notabene memiliki tingkat intelektual yang relatif rendah, namun memiliki nuansa keimanan yang sangat tinggi. Saat pengembala dites keimananannya oleh sahabat Umar bin Khatam untuk dibeli kambingnya. Umar berkata, “Bilang saja kepada majikanmu, kambing dimakan serigala”. Pengembala pun berkata, “Dimana Alloh?”. Mendengar jawaban ini, Umar pun menangis.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2.	Mentadabburi Al-Quran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kiat kedua untuk memenangi pertarungan dengan syetan adalah mentadabrui al-Quran. Dalam berbagai ayat al-Quran, dikatakan bahwa merenungi dan menghayati al-Quran akan berkorelasi dengan penambahan iman dan otomatis syetan akan menjauh. Ketika berinteraksi dengan al-Quran, maka iman akan bertambah. Dan inilah yang membedakan antara orang beriman dengan munafiq. Orang iman akan bertambah imannya, sementara orang munafik bertambah penyakit nifaqnya, sampai mati dalam keadaan kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;At-Taubah 124&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَإِذَا مَا أُنْزِلَتْ سُورَةٌ فَمِنْهُمْ مَنْ يَقُولُ أَيُّكُمْ زَادَتْهُ هَذِهِ إِيمَانًا فَأَمَّا الَّذِينَ آمَنُوا فَزَادَتْهُمْ إِيمَانًا وَهُمْ يَسْتَبْشِرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan apabila diturunkan suatu surah, maka di antara mereka (orang-orang munafiq) ada yang berkata, “Siapakah di antara kamu yang bertambah imannya dengan (turunnya) surah ini?” Adapun orang-orang yang beriman, maka surah ini menambah imannya, dan mereka merasa gembira”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi, merenungi Al-Quran merupakan kebutuhan yang lebih besar dibandingkan makan dan minum. Saat tidak makan, bahaya ektrimnya adalah sakit. Sementara, kalau tidak tadabur al-Quran, konsekwensinya bukan hanya mati secara fisik namun juga hati nurani. Hati akan terkunci untuk menerima nasehat dan akhirnya mati dalam keadaan kafir. Qs Muhammad 24&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفَلا يَتَدَبَّرُونَ الْقُرْآنَ أَمْ عَلَى قُلُوبٍ أَقْفَالُهَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Maka tidaklah mereka menghayati al-Quran, ataukah hati mereka sudah terkunci?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kondisi hidup yang penuh dengan fitnah, diharuskan kita selalu mentadaburi al-Quran. Karena inilah sumber energi yang akan hadir untuk mengalahkan syetan. Imam Ahmad bin Hambal, seorang sholeh, saat diminta bantuan merukyah seseorang yang kesurupan jin. Sang Imam tidak bersedia datang. Ia cukup mengirimkan sandalnya. Dan syetan pun langsung lari.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3.	Komitmen  untuk Selalu Berjamaah dengan Orang-orang yang Benar dan Jujur&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kiat ketiga adalah berkomitem untuk selalu berjamaah dengan orang benar dan jujur dalam aqidah, ibadah dan akhlaq.  Sebagaimana tercantum dalam QS At-Taubah 119. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَكُونُوا مَعَ الصَّادِقِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai orang-orang yang beriman, bertaqwalah kepada Alloh, dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang benar”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang sendirian akan relatif mudah terperangkap tipu daya syetan dan tenggelam dalam perbuatan haram. Awalnya coba-coba namun akhirnya menjadi kebiasaan. Saat syetan menggoda manusia, sebagian mereka saling mendukung kelompok lainnya, sehingga kalau manusia sendirian, maka syetan akan mudah menjadi pemenang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam islam, apa saja yang berjamaah, memiliki pahala yang besar, misalnya sholat berjamaah, makan berjamaah, bepergian berjamaah, dan lain-lain. Berjamaah akan memberikan kekuatan dan sinergi satu sama lain. Seorang mukmin akan kuat karena disebabkan saudaranya. Jangan bingung memilih ‘label’ jamaah. Karena dasar pemilihan jamaah berdasar tuntutan al-Quran dan Hadits bukan atas dasar label, namun berdasarkan kriteria yakni mereka yang benar dan jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4.	Memahami Islam secara Mendalam&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Kita keempat adalah memahami islam dengan mendalam. Tidak mungkin orang bodoh akan memiliki iman kuat sehingga memenangi pertempuran dengan syetan. Dalam sebuah hadits, &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barangsiapa dikehendaki Alloh baik, maka ia diberi pemahaman islam baik”. Syetan akan menyerah saat berhadapan orang yang berilmu (paham), karena seorang faqih akan mengetahui tipu daya syetan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat pertama al-quran yang turun menyeru tentang pemahaman (ilmu) bukan solan jihad, sholat, dan ibadah lainnya. Karena semua ibadah tidak akan diterima Alloh SWT kalau tidak didasari ilmu yang dimiliki. Jadi jangan mengikuti sesuatu yang kita tidak mengetahuinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan pernah bosan memahami islam, sebagai modal melawan syetan yang tidak pernah berhenti menggoda manusia sampai qiamat. Perbanyak kajian yang didasari kesadaran diri bahwa pertarungan dengan syetan tidak akan pernah berhenti. Dan semoga kita dimudahkan mencintai ilmu al-Quran, Sunah dan bersama orang-orang yang sholeh. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5.	Hidup sederhana dan tidak cinta dunia.&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Menghindari makan yg berlebih-lebihan meskipun makanan itu halal dan bersih karena Allah telah berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yg indah di setiap (memasuki) masjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tdk menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. 7:31)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW telah bersabda: &lt;br /&gt;Sesungguhnya syaitan itu memasuki anak Adam seperti aliran darah, karena itu tahanlah jalannya syaithan itu melalui lapar. (HR Ahmad) &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Dyah Sudarsi&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-1670020735104971171?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/1670020735104971171/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/08/bagaimana-rasulullah-saw-menghadapi.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/1670020735104971171'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/1670020735104971171'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/08/bagaimana-rasulullah-saw-menghadapi.html' title='BAGAIMANA RASULULLAH SAW MENGHADAPI SYAITAN'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-8523250714389229038</id><published>2011-07-28T18:48:00.000-07:00</published><updated>2011-07-28T18:59:20.075-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tausiah'/><title type='text'>Tiga Bentuk Disiplin</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ada begitu banyak makna penting dari ibadah Ramadhan yang kita lakukan dari tahun ke tahun. Salah satu makna penting yang harus kita peroleh dari ibadah Ramadhan adalah betapa kaum muslimin harus betul-betul disiplin dalam melaksanakan nilai-nilai kebenaran yang datang dari Allah swt. Untuk itu, manusia  telah dibimbing dengan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuknya sehingga manusia bisa membedakan mana jalan hidup yang benar dan mana yang salah, Allah swt berfirman:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). (QS Al Baqarah&lt;/span&gt; [2]:185).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Paling tidak, ada &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;tiga bentuk disiplin dalam kebenaran&lt;/span&gt; yang amat penting untuk kita laksanakan yang merupakan didikan dari ibadah Ramadhan. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, disiplin dalam menunaikan kewajiban yang harus ditunaikan, apalagi kewajiban ini tidak hanya ditujukan kepada kita tapi juga kepada generasi sebelum kita, ini berarti tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau melaksanakan segala bentuk kewajiban dalam hidup ini, karena setiap generasi terdahulu juga telah dibebankan kewajiban kepada mereka, sebagai apapun mereka, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa&lt;/span&gt; (QS Al Baqarah [2]:183).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Dalam kaitan disiplin melaksanakan kewajiban, utang juga sesuatu yang harus kita tunaikan, baik utang kepada Allah swt maupun kepada manusia. Karenanya bila kewajiban puasa belum kita tunaikan dengan sebab-sebab tertentu yang memang ditentukan, maka kewajiban itu tidak gugur begitu saja, tapi harus ditunaikan dengan berpuasa pada kesempatan lain atau menggantinya dengan fidyah sebagaimana ketentuannya, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;أَيَّامًا مَعْدُودَاتٍ ۚ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۚ وَعَلَى الَّذِينَ يُطِيقُونَهُ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِينٍ ۖ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَهُ ۚ وَأَنْ تَصُومُوا خَيْرٌ لَكُمْ ۖ إِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُونَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui&lt;/span&gt; (QS Al Baqarah [2]:184).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ini semua menunjukkan bahwa kedisiplinan tidak dimaksudkan untuk menyusahkan manusia, tapi tetap ada kemudahan sebagaimana yang dikehendaki manusia, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلاَ يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur &lt;/span&gt;(QS Al Baqarah [2]:185).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Bentuk disiplin &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt; yang harus kita tunjukkan dari nilai pendidikan ibadah Ramadhan adalah disiplin dalam waktu, yakni menggunakan waktu sebaik mungkin dalam konteks pengabdian kepada Allah swt, karenanya berpuasa dan ibadah lainnya di dalam Islam ditentukan  waktu-waktunya. Saat fajar atau subuh tiba, maka kaum muslimin harus menghentikan makan dan minum serta hubungan suami isteri untuk memulai puasa, sedangkan bila maghrib tiba, kita harus segera makan dan minum untuk mengakhiri puasa pada hari ini meskipun harus menunda beberapa saat pelaksanaan shalat maghrib. Bila saat bersenang-senang dengan makan dan minum serta hubungan suami isteri ada batas waktunya, maka kita bisa tarik lebih jauh bahwa hidup kitapun ada batas waktunya karenanya kita amat dituntut mengefektifkan penggunaan waktu dalam kerangka pengabdian kepada Allah swt karena hidup kita memang sebenarnya untuk itu sebagaimana firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَاْلإِنْسَ إِلاَّ لِيَعْبُدُونِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku&lt;/span&gt; (QS Adz Dzariyat [51]:56).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, disiplin yang harus dihasilkan dari ibadah ramadhan adalah dalam mentaati hukum, hal ini karena sebagai manusia kita amat membutuhkan ketentuan-ketentuan hukum dan Allah swt paling tahu tentang hukum seperti apa yang cocok untuk kita. Karenanya melalui ibadah Ramadhan kita dilatih untuk disiplin dalam hukum sehingga sesuatu yang semula boleh menjadi tidak boleh untuk dilakukan pada siang hari dan baru dibolehkan pada malam hari seperti makan dan minum serta melakukan hubungan seksual dengan isteri. Bila sesuatu yang amat penting bagi manusia, yakni makan dan minum serta hubungan seksual sudah bisa dikendalikan, insya Allah kita bisa mengendalikan diri dan disiplin dalam hukum-hukum lain yang memang sangat penting untuk mengatur kehidupan manusia, Allah swt berfirman: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;ثُمَّ جَعَلْنَاكَ عَلَىٰ شَرِيعَةٍ مِنَ اْلأَمْرِ فَاتَّبِعْهَا وَلاَ تَتَّبِعْ أَهْوَاءَ الَّذِينَ لاَ يَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Kemudian kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), Maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak Mengetahui&lt;/span&gt; (QS Al Jatsiyah [45]:18).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Oleh karena itu, berbahagialah kita mendapatkan kesempatan sekali lagi untuk membina diri melalui ibadah Ramadhan dan kita menjadi lebih bahagia lagi bila sukses menjalankan ibadah Ramadhan yang membuat kita menjadi semakin bertaqwa kepada Allah swt, apalagi hal ini merupakan kunci kemuliaan manusia dihadapan Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Demikian khutbah Jumat kita yang singkat pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita bersama, amien ya rabbal alamin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;oleh &lt;a href="http://www.facebook.com/note.php?note_id=10150241670312852"&gt;Ustad Drs. Ahmad Yani&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-8523250714389229038?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/8523250714389229038/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/07/tiga-bentuk-disiplin.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/8523250714389229038'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/8523250714389229038'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/07/tiga-bentuk-disiplin.html' title='Tiga Bentuk Disiplin'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-7057103684768638091</id><published>2011-07-14T18:12:00.001-07:00</published><updated>2011-07-14T18:16:24.100-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tazkiyatunnafs'/><title type='text'>Menahan Dan Mengendalikan Diri</title><content type='html'>Harapan dan doa kita agar bisa melaksanakan kembali ibadah Ramadhan pada tahun ini insya Allah terkabul, meskipun banyak diantara saudara, sahabat, jamaah dan tokoh-tokoh kita sudah tidak bisa menikmati lagi karena telah meninggal dunia. Karena itu kehadiran Ramadhan tahun ini dan kita berada di dalamnya tentu tidak akan kita sia-siakan atau kita lewatkan begitu saja tanpa upaya peningkatan ketaqwaan kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat utama dari puasa adalah menahan, bukan semata-mata menahan dari tidak makan dan minum serta melakukan hubungan seksual sejak subuh sampai maghrib, tapi menahan atau mengendalikan diri agar sikap dan tingkah laku kita tidak keluar dari nilai-nilai yang ditentukan oleh Allah swt. Paling tidak, ada empat bentuk pengendalian diri yang harus selalu kita lakukan dalam hidup ini yang kita hasilkan dari pembinaan dalam ibadah Ramadhan, khususnya puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Mengendalikan Lisan.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Orang yang berpuasa sangat dituntut untuk mengendalikan lisannya dari ucapan yang tidak dibenarkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Hal ini karena nilai pendidikan puasa bukan hanya secara jasmaniyah dalam arti orang tidak makan dan minum, tapi puasa itu mendidik kearah peningkatan kualitas iman, karena yang Allah swt inginkan dari kita adalah memiliki iman yang berkualitas, bukan agar kita menjadi haus dan lapar, karenanya ukuran keberhasilan puasa bukanlah terletak pada berat badan kita yang turun beberapa kilo gram, tapi bisakah kita mengendalikan lisan dari ucapan yang tidak benar, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan beramal dengannya, maka Allah tidak mempunyai keperluan bahwa dia meninggalkan makanan dan minumannya &lt;/span&gt;(HR. Ahmad, Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian lisan menjadi amat penting bagi seorang muslim dari ucapan yang tidak benar karena hal itu menjadi salah satu tolok ukur iman yang berkualitas. Ini berarti, dalam kacamata iman, seorang muslim lebih baik diam saja daripada harus melontarkan ucapan yang tidak bisa dibenarkan, ini pula yang oleh masyarakat kita disebut dengan “diam itu emas”, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam &lt;/span&gt;(HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Mengendalikan Nafsu Seksual.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap manusia memiliki hasrat seksual yang ingin dilampiaskannya. dalam pandangan Islam, manusia dibolehkan untuk melampiaskan keinginan seksualnya itu, namun hal itu hanya dibenarkan untuk dilakukan kepada isteri atau suaminya. Karena itu, Allah swt mengisyaratkan dan mengingatkan kita melalui larangan melakukan hubungan seksual bagi suami isteri pada siang hari di bulan Ramadhan. Makna yang bisa kita tangkap adalah bila kepada isteri atau suami yang sah dan pada dasarnya halal untuk berhubungan seks saja dilarang pada siang hari Ramadhan, apalagi kepada orang lain yang bukan isteri atau suaminya, hal ini karena zina merupakan sesuatu yang sangat nista sehingga mendekatinya saja sudah tidak dibenarkan, Allah swt berfirman: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. &lt;/span&gt;(QS Al Isra [17]:32).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar manusia tidak melakukan perzinahan, maka Islam amat menekankan kepada manusia untuk melakukan aqad nikah, karena di dalam Islam tidak ada orang yang dilarang untuk menikah meskipun di dalam agama lain karena seseorang ingin menjadi tokoh agama, maka ia disyaratkan tidak menikah, karena itu perintah menikah berlaku umum, tidak hanya untuk yang beriman sehingga seruan ini menggunakan kata an nas (manusia), bukan amanu (orang beriman), Allah swt berfirman: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu.&lt;/span&gt; (QS An Nisa [4]:1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Mengendalikan Nafsu Makan dan Minum&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Makan dan minum merupakan kebutuhan manusia yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan itu sendiri. Meskipun demikian, pemenuhan kebutuhan ini harus tetap dalam kendali yang benar sehingga sebagai mukmin kita hanya mengkonsumsi sesuatu yang halal, baik dari sisi jenisnya maupun cara mendapatkannya. Memperoleh makanan dan minuman secara halal membuat seorang muslim semakin mudah dalam menempuh jalan ketaqwaan, sedangkan memperoleh sesuatu yang tidak halal atau dengan cara yang tidak halal membuat seseorang semakin sulit menempuh jalan taqwa, Allah swt berfirman: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah Telah rizkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya." &lt;/span&gt;(QS Al Maidah [5]:88).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena masalah kehalalan merupakan sesuatu yang amat mendasar, maka Allah swt menegaskan agar manusia jangan memutarbalikkan hukum agar sesuatu yang tidak halal seolah-olah menjadi halal, padahal ia sendiri mengetahui bahwa hal itu memang bukan miliknya dan tidak halal baginya, hal ini dinyatakan dalam firman-Nya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui." &lt;/span&gt;(QS Al Baqarah [2]:188)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pengendalian diri dalam masalah makan dan minum, seorang muslim jangan sampai makan dan minum secara berlebihan melebihi takaran yang ada pada diri kita, akibatnya sekarang ini banyak orang yang terserang penyakit akibat kelebihan dalam makan dan minum. Ibadah puasa seharusnya membuat kita mampu mengendalikan makan dan minum, bukan malah justeru saat berbuka kita memindahkan segala jenis makanan dan minuman yang ada di meja makan ke dalam perut kita tanpa kendali, karenanya Allah swt berfirman: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." &lt;/span&gt;(QS Al A’raf [7]:31).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Mengendalikan Emosi&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah puasa mendidik kita untuk menjadi orang-orang yang sabar, karena itu kemampuan mengendalikan emosi merupakan sesuatu yang harus kita hasilkan dari ibadah puasa, dalam kaitan ini Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Jika kamu sedang berpuasa, maka jangan berkata keji, jangan ribut (marah) dan jika ada orang memaki atau mengajak berkelahi, hendaknya diberi tahu: “saya berpuasa”&lt;/span&gt; (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Nabi yang bernama Ali bin Abi Thalib merupakan salah seorang sahabat yang harus ditiru dalam masalah pengendalian emosi yang luar biasa. Ketika perang satu lawan satu dengan orang kafir, musuhnya itu sudah jatuh tak berdaya, namun saat Ali hendak membunuhnya justeru orang itu meludahi wajah Ali yang sebenarnya membuatnya semakin marah, namun Ali cepat sadar sehingga ia tidak jadi membunuhnya, bukan tidak bisa membunuh, tapi ia khawatir bila membunuh orang kafir itu karena dia meludahi wajahnya, beliau sangat khawatir bila membunuh bukan karena Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keberhasilan ibadah puasa tentu saja tidak hanya membuat kita bisa mengendalikan lisan, seksual, makan dan minum serta emosi saat kita berpuasa, tapi yang terpenting lagi adalah sesudah kita menunaikannya, karena itu bulan sesudah Ramadhan adalah Syawwal yang bermakna peningkatan, sehingga bulan Syawwal menjadi momentum untuk menunjukkan peningkatan kualitas keimanan kita kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drs. H. Ahmad Yani&lt;br /&gt;Email: ayani_ku@yahoo.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-7057103684768638091?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/7057103684768638091/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/07/menahan-dan-mengendalikan-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/7057103684768638091'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/7057103684768638091'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/07/menahan-dan-mengendalikan-diri.html' title='Menahan Dan Mengendalikan Diri'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-8628297026974811534</id><published>2011-06-16T18:45:00.000-07:00</published><updated>2011-06-16T18:48:43.504-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tausiah'/><title type='text'>EMPAT PENGENDALIAN DIRI</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jamaah Sekalian Yang Berbahagia.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Harapan dan doa kita agar bisa melaksanakan kembali ibadah Ramadhan pada tahun ini insya Allah terkabul, meskipun banyak diantara saudara, sahabat, jamaah dan tokoh-tokoh kita sudah tidak bisa menikmati lagi karena telah meninggal dunia. Karena itu kehadiran Ramadhan tahun ini dan kita berada di dalamnya tentu tidak akan kita sia-siakan atau kita lewatkan begitu saja tanpa upaya peningkatan ketaqwaan kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat utama dari puasa adalah menahan, bukan semata-mata menahan dari tidak makan dan minum serta melakukan hubungan seksual sejak subuh sampai maghrib, tapi menahan atau mengendalikan diri agar sikap dan tingkah laku kita tidak keluar dari nilai-nilai yang ditentukan oleh Allah swt. Paling tidak, ada empat bentuk pengendalian diri yang harus selalu kita lakukan dalam hidup ini yang kita hasilkan dari pembinaan dalam ibadah Ramadhan, khususnya puasa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; mengendalikan lisan. Orang yang berpuasa sangat dituntut untuk mengendalikan lisannya dari ucapan yang tidak dibenarkan oleh Allah swt dan Rasul-Nya. Hal ini karena nilai pendidikan puasa bukan hanya secara jasmaniyah dalam arti orang tidak makan dan minum, tapi puasa itu mendidik kearah peningkatan kualitas iman, karena yang Allah swt inginkan dari kita adalah memiliki iman yang berkualitas, bukan agar kita menjadi haus dan lapar, karenanya ukuran keberhasilan puasa bukanlah terletak pada berat badan kita yang turun beberapa kilo gram, tapi bisakah kita mengendalikan lisan dari ucapan yang tidak benar,  Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّوْرِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa yang tidak meninggalkan ucapan dusta dan beramal dengannya, maka Allah tidak mempunyai keperluan bahwa dia meninggalkan makanan dan minumannya (HR. Ahmad, Bukhari, Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah)&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengendalian lisan menjadi amat penting bagi seorang muslim dari ucapan yang tidak benar karena hal itu menjadi salah satu tolok ukur iman yang berkualitas. Ini berarti, dalam kacamata iman, seorang muslim lebih baik diam saja daripada harus melontarkan ucapan yang tidak bisa dibenarkan, ini pula yang oleh masyarakat kita disebut dengan “diam itu emas”, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; pengendalian diri yang harus kita lakukan adalah mengendalikan nafsu seksual. Setiap manusia memiliki hasrat seksual yang ingin dilampiaskannya. Dalam pandangan Islam, manusia dibolehkan untuk melampiaskan keinginan seksualnya itu, namun hal itu hanya dibenarkan untuk dilakukan kepada isteri atau suaminya. Karena itu, Allah swt mengisyaratkan dan mengingatkan kita melalui larangan melakukan hubungan seksual bagi suami isteri pada siang hari di bulan Ramadhan. Makna yang bisa kita tangkap adalah bila kepada isteri atau suami yang sah dan pada dasarnya halal untuk berhubungan seks saja dilarang pada siang hari Ramadhan, apalagi kepada orang lain yang bukan isteri atau suaminya, hal ini karena zina merupakan sesuatu yang sangat nista sehingga mendekatinya saja sudah tidak dibenarkan, Allah swt berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. (QS Al Isra [17]:32)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar manusia tidak melakukan perzinahan, maka Islam amat menekankan kepada manusia untuk melakukan aqad nikah, karena di dalam Islam tidak ada orang yang dilarang untuk menikah meskipun di dalam agama lain karena seseorang ingin menjadi tokoh agama, maka ia disyaratkan tidak menikah, karena itu perintah menikah berlaku umum, tidak hanya untuk yang beriman sehingga seruan ini menggunakan kata an nas (manusia), bukan amanu (orang beriman), Allah swt berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا النَّاسُ اتَّقُوا رَبَّكُمُ الَّذِي خَلَقَكُمْ مِنْ نَفْسٍ وَاحِدَةٍ وَخَلَقَ مِنْهَا زَوْجَهَا وَبَثَّ مِنْهُمَا رِجَالاً كَثِيرًا وَنِسَاءً ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي تَسَاءَلُونَ بِهِ وَاْلأَرْحَامَ ۚ إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَيْكُمْ رَقِيبًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang Telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan Mengawasi kamu. (QS An Nisa [4]:1)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kaum Muslimin Rahimakumullah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga,&lt;/span&gt; mengendalikan nafsu makan dan minum. Makan dan minum merupakan kebutuhan manusia yang tidak bisa dilepaskan dari kehidupan itu sendiri. Meskipun demikian, pemenuhan kebutuhan ini harus tetap dalam kendali yang benar sehingga sebagai mukmin kita hanya mengkonsumsi sesuatu yang halal, baik dari sisi jenisnya maupun cara mendapatkannya. Memperoleh makanan dan minuman secara halal membuat seorang muslim semakin mudah dalam menempuh jalan ketaqwaan, sedangkan memperoleh sesuatu yang tidak halal atau dengan cara yang tidak halal membuat seseorang semakin sulit menempuh jalan taqwa,  Allah swt berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَكُلُوا مِمَّا رَزَقَكُمُ اللَّهُ حَلاَلاً طَيِّبًا ۚ وَاتَّقُوا اللَّهَ الَّذِي أَنْتُمْ بِهِ مُؤْمِنُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan makanlah makanan yang halal lagi baik dari apa yang Allah Telah rizkikan kepadamu, dan bertakwalah kepada Allah yang kamu beriman kepada-Nya. (QS Al Maidah [5]:88)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena masalah kehalalan merupakan sesuatu yang amat mendasar, maka Allah swt menegaskan agar manusia jangan memutarbalikkan hukum agar sesuatu yang tidak halal seolah-olah menjadi halal, padahal ia sendiri mengetahui bahwa hal itu memang bukan miliknya dan tidak halal baginya, hal ini dinyatakan dalam firman-Nya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَأْكُلُوا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُوا بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُوا فَرِيقًا مِنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِاْلإِثْمِ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui. (QS Al Baqarah [2]:188)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks pengendalian diri dalam masalah makan dan minum, seorang muslim jangan sampai makan dan minum secara berlebihan melebihi takaran yang ada pada diri kita, akibatnya sekarang ini banyak orang yang terserang penyakit akibat kelebihan dalam makan dan minum. Ibadah puasa seharusnya membuat kita mampu mengendalikan makan dan minum, bukan malah justeru saat berbuka kita memindahkan segala jenis makanan dan minuman yang ada di meja makan ke dalam perut kita tanpa kendali, karenanya Allah swt berfirman:  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا بَنِي آدَمَ خُذُوا زِينَتَكُمْ عِنْدَ كُلِّ مَسْجِدٍ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلاَ تُسْرِفُوا ۚ إِنَّهُ لاَ يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan. (QS Al A’raf [7]:31)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat,&lt;/span&gt; mengendalikan emosi. Ibadah puasa mendidik kita untuk menjadi orang-orang yang sabar, karena itu kemampuan mengendalikan emosi merupakan sesuatu yang harus kita hasilkan dari ibadah puasa, dalam kaitan ini Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;إِذَا كَانَ يَوْمُ صَوْمِ أَحَدِكُمْ فَلاَ يَرْفُثْ وَلاَ يَصْخَبْ فَإِنْ سَابَّهُ أَحَدٌ أَوْ قَاتَلَهُ فَلْيَقُلْ إِنِّى صَائِمٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jika kamu sedang berpuasa, maka jangan berkata keji, jangan ribut (marah) dan jika ada orang memaki atau mengajak berkelahi, hendaknya diberi tahu: “saya berpuasa” (HR. Bukhari dan Muslim)&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sahabat Nabi yang bernama Ali bin Abi Thalib merupakan salah seorang sahabat yang harus ditiru dalam masalah pengendalian emosi yang luar biasa. Ketika perang satu lawan satu dengan orang kafir, musuhnya itu sudah jatuh tak berdaya, namun saat Ali hendak membunuhnya justeru orang itu meludahi wajah Ali yang sebenarnya membuatnya semakin marah, namun Ali cepat sadar sehingga ia tidak jadi membunuhnya, bukan tidak bisa membunuh, tapi ia khawatir bila membunuh orang kafir itu karena dia meludahi wajahnya, beliau sangat khawatir bila membunuh bukan karena Allah swt. &lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Keberhasilan ibadah puasa tentu saja tidak hanya membuat kita bisa mengendalikan lisan, seksual, makan dan minum serta emosi saat kita berpuasa, tapi yang terpenting lagi adalah sesudah kita menunaikannya, karena itu bulan sesudah Ramadhan adalah Syawwal yang bermakna peningkatan, sehingga bulan Syawwal menjadi momentum untuk menunjukkan peningkatan kualitas keimanan kita kepada Allah swt.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikian khutbah Jumat kita pada hari ini, semoga bermanfaat bagi kita semua, amien.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-8628297026974811534?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/8628297026974811534/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/06/empat-pengendalian-diri.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/8628297026974811534'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/8628297026974811534'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/06/empat-pengendalian-diri.html' title='EMPAT PENGENDALIAN DIRI'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-2624437949606895375</id><published>2011-04-25T06:48:00.000-07:00</published><updated>2011-04-25T06:52:54.332-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='taujihat tarbawi'/><title type='text'>SABAR  DAN TAQWA MENGHADAPI REKAYASA PEMBUSUKAN</title><content type='html'>بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ الْحَمْدُ لِلَّهِ جَامِعِ الشَّتَاتِ وَفَاتِحِ سُبُلِ الْخَيْرَاتِ. أَحْمَدُهُ حَمْدًا يَلِيقُ بِجَلَالِهِ وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى نَبِيِّهِ مُحَمَّدٍ وَصَحْبِهِ وَآلِهِ. وَبَعْدُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwah fillah yang dirahmati Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertarungan haq dan batil kita yakini tidak akan pernah berakhir selama dunia masih berputar dan hari kiamat belum tiba. Maka kesiapan dan daya tahan ahlul haq menghadapi serangan ahlul bathil harus terus menerus diperkuat dan  diperbaharui.  &lt;br /&gt;Perang Uhud yang terjadi pada tahun 3 Hijriyah, ketika negeri Madinah sedang berusaha mempertahankan eksistensinya, menyisakan duka yang mendalam pada diri Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Agar mereka tidak larut berlama-lama dalam duka, kesedihan, dan kegagalan, apalagi bulan-bulan berikutnya -setelah perang Uhud itu- kabilah-kabilah musyrik di sekitar Madinah semakin berani melancarkan gangguan kepada kaum muslimin. Maka Allah SWT menguatkan daya tahan dan daya juang kaum muslimin dengan tarbiyah Qur’aniyah yang menyegarkan dan menguatkan semangat dan kemandirian mereka. Firman Allah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لا تَتَّخِذُوا بِطَانَةً مِنْ دُونِكُمْ لا يَأْلُونَكُمْ خَبَالا وَدُّوا مَا عَنِتُّمْ قَدْ بَدَتِ الْبَغْضَاءُ مِنْ أَفْوَاهِهِمْ وَمَا تُخْفِي صُدُورُهُمْ أَكْبَرُ قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الآيَاتِ إِنْ كُنْتُمْ تَعْقِلُونَ (١١٨)هَا أَنْتُمْ أُولاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الأنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (١١٩)إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (١٢٠)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh telah Kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya. Beginilah kamu, kamu menyukai mereka, Padahal mereka tidak menyukai kamu, dan kamu beriman kepada Kitab-Kitab semuanya. apabila mereka menjumpai kamu, mereka berkata "Kami beriman", dan apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari antaran marah bercampur benci terhadap kamu. Katakanlah (kepada mereka): "Matilah kamu karena kemarahanmu itu". Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. jika kamu memperoleh kebaikan, niscaya mereka bersedih hati, tetapi jika kamu mendapat bencana, mereka bergembira karenanya. jika kamu bersabar dan bertakwa, niscaya tipu daya mereka sedikitpun tidak mendatangkan kemudharatan kepadamu. Sesungguhnya Allah mengetahui segala apa yang mereka kerjakan. QS. Ali Imran: 118-120&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwah fillah yang dirahmati Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Boleh saja serangan bagi dakwah ini datang berseri, menghujam silih berganti bahkan serangan bersama dalam bentuk kolaborasi maupun koalisi. Akan tetapi Allah SWT pemilik proyek dakwah ini tidak membiarkan para mujahid dakwah bertarung tanpa bekal yang memadai. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwa dan sabar dalam surah Ali Imran berulang tidak kurang dari tiga kali di ayat yang berbeda dalam konteks yang hampir sama, yaitu menghadapi kekuatan musuh dan serangan lawan. Sederhana sekali memang jurus penangkal yang telah Allah berikan bagi aktifis dakwah ini  menghadapi semua serangan itu, tetapi sejarah dakwah telah membuktikan betapa hebatnya dua pilar ini dalam menjaga eksistensi umat dan menyemangati perjuangan mereka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pengulangan ini menggambarkan betapa urgensi dua sifat ini dalam membangun kualitas diri, soliditas organisasi, dan imunitas menghadapi virus yang bertebaran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwah fillah yang dirahmati Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwa dan sabar mencerminkan keikhlasan yang mendalam dalam seluruh romantika perjuangan, karena hanya kepada Allah mereka taat dan hanya kepada Allah mereka berharap.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;إِنَّا أَنْزَلْنَا إِلَيْكَ الْكِتَابَ بِالْحَقِّ فَاعْبُدِ اللَّهَ مُخْلِصًا لَهُ الدِّينَ (٢)أَلا لِلَّهِ الدِّينُ الْخَالِصُ وَالَّذِينَ اتَّخَذُوا مِنْ دُونِهِ أَوْلِيَاءَ مَا نَعْبُدُهُمْ إِلا لِيُقَرِّبُونَا إِلَى اللَّهِ زُلْفَى إِنَّ اللَّهَ يَحْكُمُ بَيْنَهُمْ فِي مَا هُمْ فِيهِ يَخْتَلِفُونَ إِنَّ اللَّهَ لا يَهْدِي مَنْ هُوَ كَاذِبٌ كَفَّارٌ (٣)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesunguhnya Kami menurunkan kepadamu kitab (Al Quran) dengan (membawa) kebenaran. Maka sembahlah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Ingatlah, hanya kepunyaan Allah-lah agama yang bersih (dari syirik). dan orang-orang yang mengambil pelindung selain Allah (berkata): "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan Kami kepada Allah dengan sedekat- dekatnya". Sesungguhnya Allah akan memutuskan di antara mereka tentang apa yang mereka berselisih padanya. Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang pendusta dan sangat ingkar. QS. Az Zumar: 2-3&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Komitmen dan konsistensi inilah yang dipercaya sampai saat ini sebagai pilar keberhasilan di hampir sebagian besar lapangan kehidupan apalagi dalam bagi aktifitas dakwah yang sejak awal dikumandangkan sduah disikapi dengan ketidak senangann para bangsawan yang meinkamti status quo dan perlwanan para pengnuasa yang menzhalimi bangsa dan umatnya untuk mempertahankan kesenangan pribadi dan kelompoknya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kisah para Nabi dalam menghadapi tantangan kaumnya dari zaman ke zaman membuktikan hal ini dengan jelas. Keikhlasan amal menjadi kunci kemenangan mereka dalam mengalahkan semua tantangan sekaliguas menjadi jamiman diterimanya amal perbutaan manusia di sisi Allah SWT untuk mendapatkan balasan yang terindah dari Yang Maha Kuasa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwah fillah yang dirahmati Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwa dan sabar menghadapi tekanan akan senantiasa menjaga konsistensi seorang aktivis dakwah dalam menjalankan kerja dakwahnya. Kokohnya dua pilar ini akan menjamin semakin baik kinerja dan semakin besar harapan untuk mendapatkan ampunan Allah SWT. Firman Allah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلا سَدِيدًا (٧٠)يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا (٧١)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan Katakanlah Perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. dan Barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, Maka Sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar. QS. Al Ahzab: 70-71&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Taqwa dan sabar dalam dakwah ini akan senantiasa menjaga hubungan indah dan konstruktif sesama aktifis dakwah untuk semakin solid dan kokoh, yang menghindarkannya dari kerugian dan kesia-siaan kerja. Allah SWT menjadikan komitmen untuk senantiasa sabar dan berada dalam kebenaran bagi sebuah komunitas sebagai bagian garansi Allah membebaskan mereka dari kerugian. Firman Allah:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;وَالْعَصْرِ (١)إِنَّ الإنْسَانَ لَفِي خُسْرٍ (٢)إِلا الَّذِينَ آمَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ وَتَوَاصَوْا بِالْحَقِّ وَتَوَاصَوْا بِالصَّبْرِ (٣)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran. QS. Al Ashr&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwah fillah yang dirahmati Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semakin solidnya barisan dakwah ini dengan kesabaran, ketaqwaan akan semakin mendekatkan pada keberhasilan yang Allah janjikan. Firman Allah di kahir surah Ali Imran, sebagai penutup surah yang mengevaluasi kerja dakwah setelah kekalahan perang Uhud dengan seruan:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اصْبِرُوا وَصَابِرُوا وَرَابِطُوا وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (٢٠٠)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung. QS. Ali Imran: 200&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga Allah tetapkan hati kita dalam taqwa dan sabar sehingga kita bisa menjadi bagian konstruktif dan aktif bagi bangunan dakwah ini. Wallahu a’lam&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-2624437949606895375?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/2624437949606895375/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/04/sabar-dan-taqwa-menghadapi-rekayasa.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2624437949606895375'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2624437949606895375'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/04/sabar-dan-taqwa-menghadapi-rekayasa.html' title='SABAR  DAN TAQWA MENGHADAPI REKAYASA PEMBUSUKAN'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-351216917093335749</id><published>2011-03-10T17:29:00.001-08:00</published><updated>2011-03-10T17:50:07.660-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='taujihat tarbawi'/><title type='text'>PERTAHANANKAN KWALITAS DEMI TERCAPAINYA TARGET KUANTITAS</title><content type='html'>Dan berapa banyaknya Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut  (Nya) yang bertaqwa. mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak  (pula) menyerah  (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir". &lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia dan pahala yang baik di akhirat. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan Rasulullah SAW. bersabda: &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai Allah, dan pada setiap mukmin ada kebaikan, bersungguh-sungguhlah kamu untuk mendapatkan sesuatu yang bermanfaat untukmu dan mohonlah pertolongan kepada Allah. Dan apabila kamu menghadapi suatu musibah maka janganlah kamu mengatakan, seandainya aku melakukan ini dan itu…, akan tetapi katakanlah, ini adalah takdir Allah, dan apa yang dikehendaki-Nya Ia lakukan, karena kata law (seandainya)pintu masuk kepada pekerjaan syaitan". HR. Muslim&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwan dan akhwat fillah !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai kita adalah partai dakwah Alhizbu hual jama'ah wal jama'ah hial hizbu, dakwah sebagai panglima bagi partai ini, ukuran keberhasilan dan kemenangan harus dengan ukuran dakwah, kemenangan politik harus berbanding lurus dengan kemenangan dakwah. &lt;br /&gt;Tugas utama kita, baik qiyadah, fungsionaris dan kader adalah dakwah yang kita kenal dengan istilah wazhifah mashiriayah  (tugas fungsional), tugas yang tidak dibatasi waktu, tempat dan keadaan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjalankan tugas dakwah tidak ada batasan waktu, baru akan berakhir dengan berakhirnya masa hidup di dunia ini yaitu dengan kematian. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita sebagai PNS atau karyawan swasta maka akan berakhir dengan pensiun, tugas dakwah tidak mengenal istilah pensiun. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita sebagai politis atau pejabat structural maka masa tugasnya dibatasi dengan batasan waktu atau pride tertentu, sedangkan tugas dakwah tidak ada batasan waktu dan tidak ada masa bakti serta tidak ada periodesasi dalam dakwah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita sebagai pelajar atau mahasiswa maka ada masa libur sekolah dan kuliah, atau dapat mengajukan surat cuti, kerja dakwah tidak ada tidak ada libur dan cuti. &lt;br /&gt;Jika kita bekerja maka kita bekerja waktu jam kerja atau sebagai pelajar ada jam belajar, kuliah ada jam kuliah, untuk dakwah tidak ada jam dakwah, seluruh waktu dalam satu hari dan satu malam waktu untuk berdakwah, pagi dan sore, siang dan malam adalah waktu untuk dakwah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karenanya seluruh kegiatan dan aktivitas yang kita lakukan harus berorientasi dakwah dan untuk kemaslahatan dakwah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di rumah, di kantor, pasar, parlemen, dewan, pabrik, jalan, ladang, sawah, lapangan bola dan di manapun kita berada adalah sebagai dai, menjalankan tugas amar ma'ruf nahi munkar. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwan dan akhwat fillah !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai kita adalah partai kader, kader di dalam partai ini sebagai ujung tombak dakwah, kader sebagai kekuatan utama dalam mengemban amanah dakwah, kader adalah asset termahal bagi partai ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu kaderisasi, tarbiyah dan pembinaan serta rekruitmen tarbawi menjadi program prioritas di dalam partai ini. Tarbiyah adalah asas segalanya harus berangkat dari tarbiyah, walaupun tarbiyah bukan segala-galanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu seluruh kader partai ini berkewajiban mengikuti proses tarbiyah sebagai mutarabbi dan menjalankan fungsi tarbiyah yaitu mentarbiyah orang lain atau yang dikenal sebagai murabbi. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kita dituntut untuk menjadi murabbi, sebagai naqib usrah atau murabbi halaqah, paling tidak melakukan tarbiyah fardiyah, tidak boleh tidak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwan dan akhwat fillah !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita sebagai kader tidak menjalankan fungsi tarbiyah, kaderisasi, pembinaan dan rekruitmen tarbawi maka dapat dipastikan tidak akan ada yang menjalankannya, karena tarbiyah murni tugas kita yang tidak dapat diwakilkan, didelegasikan dan diserahkan kepada orang lain kecuali kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita membutuhkan dana di saat kita tidak memilikinya maka kita dapat membuat proposal dan mengajukannya kepada para donator, tetapi perlu kita ketahui tidak akan pernah ada donatur yang menyumbangkan kadernya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita memerlukan sarana dan prasarana maka kita dapat membeli, menyewa atau meminjamnya, namun kita semua tahu tidak ada di dunia pasar atau toko yang menjual kader, tidak ada rental yang menyewakan kader dan tidak ada orang yang meminjamkan kader, tidak ada…. Kecuali hasil produksi kita sendiri. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwan dan akhwat fillah !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Partai kader harus memastikan bahwa seluruh jajaran yang ada di dalamnya telah berkontribusi dalam proses kaderisasi &lt;br /&gt;Qiyadah adalah murabbi&lt;br /&gt;Fungsionaris adalah murabbi&lt;br /&gt;Eksekutif adalah murabbi&lt;br /&gt;Anggota dewan adalah murabbi&lt;br /&gt;Birokrat adalah murabbi&lt;br /&gt;Professional adalah murabbi&lt;br /&gt;Pengusaha adalah murabbi&lt;br /&gt;Pedagang adalah murabbi&lt;br /&gt;PNS adalah murabbi&lt;br /&gt;Mubaligh adalah murabbi&lt;br /&gt;Trainer adalah murabbi&lt;br /&gt;Guru adalah murabbi&lt;br /&gt;Dosen adalah murabbi &lt;br /&gt;Pelajar adalah murabbi&lt;br /&gt;Mahasiswa adalah murabbi&lt;br /&gt;Buruh adalah murabbi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh kader di manapun berada apapun pekerjaannya adalah murabbi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwan dan akhwat fillah !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan kader dan kaderisasi ada dua hal penting dan strategis yang harus mendapat perhatian kita semua, yaitu aspek kualitatif dan kuantitatif sebagai mana telah ditegaskan oleh Allah SWT. dalam surat Ali 'Imran ayat 146 ribbiyuna katsir (kader-kader yang bertaqwa, taat, setia, loyal dan militant dan jumlahnya banyak). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama: Aspek kualitatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kualitas kader harus dimulai dari qiyadah yang ber kualitas, karena ribiyun  (kader) datang setelah nabi (qiyadah) wakaayin min nabiyin qatala maahu ribbiyun. dan dapat dilihat di dalam surat Yusuf ayat 198, surat Al-Ahzab ayat 21, 23 dan surat Muhammad ayat 29, yang menegaskan qiadah (pemimpin) selalu berada di depan sebelum qaidah (kader)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kriteria kader yang berkualitas adalah: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Quwaturruhiyah (kekuatan moral dan mental spiritual) Famawahanu lima ashabahum fii sabillah (mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah).&lt;/span&gt; di dalam surat Muhammad di sebutkan rukka'an sujjada yabtaghuna fadklan minallah waridlwana  (selalu ruku dan sujud, mengharapkan pahala dan ridha Allah). Komitmen syariat dalam menjalankan tugas dakwah dan ikhlas karena-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Hayawiyatul harakah (harakah yang dinamis), wama dlau'fu (dan tidak lesu),&lt;/span&gt; tidak lemah secara fisik, tidak lamban dalam menjalankan tugas, semua kader bergerak tidak ada yang fakum, istirahat dan berhenti dari fungsi dan tugasnya sebagaai dai dan murabbi dan tidak ada yang tertinggal dari barisan dakwah, seuanya aktif dan berperan serta memberikan kontribusi aksial untuk keenangan dakwah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. At-tafaul wal mujahadah  (optimis dan ulet ) wamastakaanu (tidak pernah menyerah dan pasrah)&lt;/span&gt;, tidak pernah putus asa terus mencoba dan mencoba lagi, bangkit dan bangkit lagi sampai berhasil. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiga point di atas sebut dengan sabar &lt;span style="font-style:italic;"&gt;wallu yuhibbus shabirin&lt;/span&gt; (dan Allah mencintai orang-orang yang sabar), sabar aktif bukan sabar yang fasif, sabar dalam berjuang dan sabar menunggu kemenangan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Mutaba'ah wal muhasabah (melakukan evaluasi dan introspeksi)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tidak ada doa mereka selain ucapan: "Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami dan tetapkanlah pendirian Kami, dan tolonglah Kami terhadap kaum yang kafir"&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi program tidak kalah pentingnya dari program itu sendiri, sering kali kita membuat perencanaan dan program yang bagus akan tetapi evaluasinya lemah sehingga hasil tidak optimal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah mengingatkan kita bahwa kendala utama tidak terlaksananya program dan tidak tercapainya target adalah faktor dosa dan maksiat serta tidak konsisten pada program yang telah ditetapkan, karenanya para kader harus selalu istighfar dan taubat dari dosa dan maksiat.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Ya Tuhan Kami, ampunilah dosa-dosa Kami dan tindakan-tindakan Kami yang berlebih-lebihan dalam urusan kami”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua: Aspek kuantitatif&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam tarbiyah selain pencapaian aspek kualitatif juga harus memperhatikan aspek kuantitatif, Allah menegaskan ribbiyuna katsir  (kader yang berkualitas dengan jumlah yang banyak). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita bandingkan antara jumlah kader dengan penduduk Indonesia rasionya 1: 733 orang, sedangkan dalam kondisi normal di saat kualitas terjaga adalah 1: 10 orang sebagai mana dijelaskan di dalam surat Al-Anfal ayat 65&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hai Nabi, Kobarkanlah semangat Para mukmin untuk berperang. jika ada dua puluh orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang musuh. dan jika ada seratus orang yang sabar di antaramu, niscaya mereka akan dapat mengalahkan seribu dari pada orang kafir, disebabkan orang-orang kafir itu kaum yang tidak mengerti&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan di saat kualitas kader rendah maka rasionya 1: 2 orang, sebagai mana dalam surat Al-Anfal ayat 66: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sekarang Allah telah meringankan kepadamu dan Dia telah mengetahui bahwa padamu ada kelemahan. Maka jika ada di antaramu seratus orang yang sabar, niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ratus orang kafir; dan jika di antaramu ada seribu orang  (yang sabar), niscaya mereka akan dapat mengalahkan dua ribu orang, dengan seizin Allah. dan Allah beserta orang-orang yang sabar&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan rasio normal maka seharusnya setiap kader memiliki dua halaqah tarbawiyah per halaqahnya 5 orang peserta tarbiyah (mutarabbi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain kebutuhan da'awi tarbawi juga kebutuhan politik, bahwa dukungan suara sangat menentukan kemenangan politik, kemampuan kader merekrut massa sangat menentukan keberhasilan politik. Terkait dengan ini maka kebutuhan terhadap kader dengan jumlah banyak adalah salah satu strategi partai dakwah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kebutuhan dakwah terhadap SDM di berbagai sector dengan jumlah banyak sesuatu yang mendesak untuk menyongsong mihwar daulah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwan dan akhwat fillah !&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila kita sudah memenuhi syarat-syarat kemenangan di atas maka kemenangan yang dijanjikan Allah SWT. pasti akan diberikan kepada kita;&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;Karena itu Allah memberikan kepada mereka pahala di dunia] dan pahala yang baik di akhirat. dan Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-351216917093335749?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/351216917093335749/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/03/pertahanankan-kwalitas-demi-tercapainya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/351216917093335749'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/351216917093335749'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/03/pertahanankan-kwalitas-demi-tercapainya.html' title='PERTAHANANKAN KWALITAS DEMI TERCAPAINYA TARGET KUANTITAS'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-1013755663520711251</id><published>2011-03-03T05:52:00.000-08:00</published><updated>2011-03-03T05:59:23.198-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='taujihat tarbawi'/><title type='text'>Rumah Tangga Sebagai Cermin Kepribadian Kader</title><content type='html'>بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:&lt;br /&gt;Masyarakat Islam bagaikan bangunan kokoh. Usrah (keluarga) bukan saja sebagai sendi terpenting dalam bangunan tersebut, tetapi juga menjadi unsur pokok bagi eksistensi umat Islam secara keseluruhan. Oleh sebab itu, agama Islam memberikan perhatian khusus masalah pembentukan keluarga ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perhatian istimewa terhadap pembentukan usrah tersebut tercermin dalam beberapa hal, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, Al-Qur’an menjabarkan cukup terinci tentang pembentukan keluarga ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ayat-ayat tentang pembinaan keluarga termasuk paling banyak jumlahnya dibandingkan dengan ayat-ayat yang menjelaskan masalah lain. Al-Qur’an menjelaskan tentang keutamaan menikah, perintah menikah, pergaulan suami-istri , menyusui anak, dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, sejak dini As-Sunah telah mengajarkan takwinul usrah yang shalihah dengan cara memilih calon mempelai yang shalihah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW bersabda, “Pilihlah tempat untuk menanam benihmu karena sesungguhnya tabiat seseorang bisa menurun ke anak”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Rasulullah SAW suami teladan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW sejak masa remaja sudah terkenal sebagai orang yang bersih dan berbudi mulia. Ketika beliau menginjak umur 25 tahun menikahi Khadijah binti Khuwalid. Sejak saat itulah beliau mengarungi kehidupan rumah tangga bahagia penuh ketenteraman dan ketenangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW amat menghormati wanita, lebih-lebih istrinya. Beliau bersabda, “Tidaklah orang yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia dan tidaklah yang menghinakannya kecuali orang yang hina”. Menghormati istri adalah kewajiban suami. Al-Qur’an berkali-kali memerintahkan agar menghormati dan berbuat baik terhadap istri. Kita tidak mendapatkan kata-kata dalam Al-Qur’an yang mengharuskan untuk berbuat baik dalam mempergauli istri, baik dalam keadaan marah atau tidak. Kecuali, ditekankan kewajiban berbuat ma’ruf dan ihsan terhadap istri dan dilarang menyakiti atau menyiksanya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perbuatan baik ini tidak terbatas pada perlakuan sopan terhadap istri saja tapi mencakup ketabahan dan kesabaran ketika menghadapi kemarahan istri sebagian kasih sayang atas kelemahannya. Rasulullah SAW menyatakan, “Wanita itu diciptakan dari tulang rusuk, bila kamu luruskan (dengan keras) maka berarti mematahkannya”. (Al-Hadits)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW amat sayang terhadap istri-istrinya. Beliau amat marah bila mendengar seorang wanita dipukul suaminya. Pernah datang seorang wanita mengadu kepada Rasulullah SAW bahwa suaminya telah memukulnya. Maka beliau berdiri seraya menolak perlakuan tersebut dengan bersabda, “Salah seorang dari kamu memukul istrinya seperti memukul seorang budak, kemudian setelah itu memeluknya kembali, apakah dia tidak merasa malu?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Rasulullah SAW mengizinkan memukul istri dengan pukulan yang tidak membahayakan, dan setelah diberi nasihat dan ancaman secukupnya. Beliau didatangi 70 wanita dan mengadu bahwa mereka dipukuli suami. Rasulullah SAW berpidato seraya berkata, “Demi Allah, telah banyak wanita berdatangan kepada keluarga Muhammad untuk mengadukan suaminya yang sering memukulnya. Demi Allah, mereka yang suka memukul istri tidaklah aku dapatkan sebagai orang-orang yang terbaik di antara kamu sekalian.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW merupakan contoh indah dalam kehidupan rumah tangganya. Beliau sering bercanda dan bergurau dengan istri-istrinya. Dalam satu riwayat beliau balapan lari dengan Aisyah, terkadang beliau dikalahkan dan pada hari lain beliau menang. Beliau senantiasa menegaskan pentingnya bersikap lembut dan penuh kasih sayang kepada istrinya. Kita banyak menjumpai hadits yang seirama dengan hadits berikut, “Orang mukmin yang paling sempurna adalah yang paling baik akhlaqnya dan paling lembut pada keluarganya”. Riwayat lain, “Sebaik-baik di antara kamu adalah yang paling baik pada keluarganya dan aku adalah yang paling baik terhadap keluargaku”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara yang menunjukkan keteladanan beliau dalam menghormati istri adalah menampakkan sikap lembut, penuh kasih sayang, tidak mengkritik hal-hal yang tak berguna dikritik, memaafkan kekeliruannya, dan memperbaiki kesalahannya dengan lembut dan sabar Bila ada waktu senggang beliau ikut membantu istrinya dalam mengerjakan kewajiban rumah tangganya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aisyah pernah ditanya tentang apa yang pernah dilakukan Rasulullah SAW di rumahnya. Beliau menjawab, “Rasulullah mengerjakan tugas-tugas rumah tangga, dan bila datang waktu shalat dia pergi shalat.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW memiliki kelapangan dada dan sikap toleran terhadap istrinya. Bila istrinya salah atau marah, beliau memahami betul jiwa seorang wanita yang sering emosional dan berontak. Beliau memahami betul bahwa rumah tangga adalah tempat yang paling layak dijadikan contoh bagi seorang dai, yaitu rumah tangga yang penuh kecintaan dan kebahagiaan. Kehidupan rumah tangga harus dipenuhi gelak tawa, kelapangan dada, dan kebahagiaan agar tidak membosankan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila terpaksa harus bertindak tegas, beliau lakukan itu disertai dengan kelembutan dan kerelaan. Sikap keras dan tegas untuk mengobati keburukan dalam diri wanita sedangkan kelembutan dan kasih sayang untuk mengobati kelemahan dan kelembutan dalam dirinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Khadijah sebagai istri teladan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah binti Khuwailid adalah seorang wanita bangsawan Quraisy yang kaya. Dia diberi gelar wanita suci di masa jahiliyah, juga di masa Islam. Banyak pembesar Quraisy berupaya meminangnya, akan tetapi beliau selalu menolak. Beliau pedagang yang sering menyuruh orang untuk menjualkan barang dagangannya keluar kota Mekkah. &lt;br /&gt;Ketika beliau mendengar kejujuran Muhammad SAW, ia menyuruh pembantunya dan meminta Muhammad menjualkan barang dagangannya ke Syam bersama budak laki-laki bernama Maisyarah. Nabi Muhammad menerima permohonan itu dengan mendapatkan keuntungan besar dalam perjalanan pertama ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mendengar kejujuran dan kebaikan Muhammad, Khadijah tertarik dan meminta kawannya, Nafisah binti Maniyyah, untuk meminangkan Muhammad. Beliau menerima pinangan itu dan terjadilah pernikahan ketika beliau menginjak 25 tahun sedang Khadijah berumur 40 tahun.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah sebagai ummul mukminin telah menyiapkan rumah tangga yang nyaman bagi Nabi SAW. Sebelum beliau diangkat menjadi Nabi dan membantunya ketika beliau sering berkhalwat di gua Hira, Khadijah adalah wanita pertama yang beriman kepadanya ketika Nabi mengajaknya masuk Islam. Khadijah adalah sebaik-baik wanita yang mendukung Rasulullah SAW dalam melaksanakan dakwahnya baik dengan jiwa, harta, maupun keluarganya. Perikehidupannya harum semerbak wangi, penuh kebajikan, dan jiwanya sarat dengan kehalusan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW pernah menyatakan dukungan ini dengan sabdanya, ”Khadijah beriman kepadaku ketika orang-orang ingkar, dia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku dan dia menolongku dengan hartanya ketika orang-orang tidak memberiku apa-apa. Allah mengaruniai aku anak darinya dan mengharamkan bagiku anak dari selainnya”. (H.R. Imam Ahmad dalam kitab Musnadnya)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah amat setia dan taat kepada suaminya, bergaul dengannya, siap mengorbankan kesenangannya demi kesenangan suaminya dan membesarkan hati suaminya di kala merasa ketakutan setelah mendapatkan tugas kenabian. Beliau gunakan jiwa dan semua harta miliknya untuk mendukung Rasul dan kaum Muslimin. Pantaslah kalau beliau dijadikan sebagai istri teladan pendukung risalah dakwah Islamiyah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khadijah mendampingi Nabi SAW selama seperempat abad, berbuat baik kepadanya di saat beliau gelisah, menolongnya di waktu-waktu sulit, membantunya dalam menyampaikan risalah, ikut serta merasakan penderitaan yang pahit pada saat jihad, dan menolongnya dengan jiwa dan hartanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah SAW senantiasa menyebut-nyebut kebaikan Khadijah selama hidupnya sehingga ini pernah membuat Aisyah cemburu kepada Khadijah yang telah tiada. Dengan ketaatan dan pengorbanan yang luar biasa ini, pantas kalau Allah SWT menyampaikan salam lewat malaikat Jibril seperti yang pernah diungkapkan Rasulullah SAW dalam sebuah hadits, “Jibril datang kepada Nabi lalu berkata, wahai Rasulullah, ini Khadijah telah datang membawa sebuah wadah berisi kuah, makanan dan minuman, apabila datang kepadamu sampaikan salam dari Tuhannya dan beritahukan kepadanya tentang sebuah rumah di surga, terbuat dari mutiara yang tiada suara gaduh di dalamnya dan tiada kepenatan.” (H.R Bukhari)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah sekelumit tentang sosok Khadijah sebagai seorang istri yang layak dijadikan teladan bagi wanita-wanita sekarang dalam mendukung suami melaksanakan kewajiban dakwah dan menyampaikan risalah Islam .&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ciri-ciri rumah tangga kader dakwah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Sendi bangunan keluarga kader adalah taqwallah. Taqwa merupakan sendi yang kuat untuk bangunan usrah Islamiyah. Memilih istri harus sesuai dengan taujih Rasulullah, yaitu mengutamakan sisi agama.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Kebahagiaan rumah tangga bukanlah berdasarkan atas kesenangan materi saja tapi kebahagiaan hakiki harus muncul dari dalam jiwa berupa ketaqwaan kepada Allah SWT. Bila taqwa telah menjadi sendi utama, maka kekurangan material apapun akan menjadi ringan. Dengan taqwa akan memunculkan tsiqah antara keduanya sehingga akan melahirkan ketenteraman dan ketenangan. Dengan ketaqwaan, hubungan antara suami dan istri serta anak-anaknya akan menjadi indah karena semua akan sadar akan tanggung jawabnya dan hak-haknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Rumah yang dibangun untuk keluarga kader seharusnya sederhana, mengutamakan dharuriyyat (prioritas), mengurangi hal-hal yang tersier, dan tidak ada israf.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Dalam masalah pakaian dan makanan hendaknya menjauhi israf, mewah-mewahan, tapi justru harus menekankan masalah kesederhanaan, kebersihan, menghindari yang haram. Rumah tangga kader lebih mengutamakan memperbanyak sedekah untuk fakir dan miskin. Nasihat pada setiap kader dalam hal makanan harus selalu halal dan baik, menjauhi yang haram dan yang syubhat&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;5.  Sekitar anggaran rumah tangga haruslah menjadi contoh . Dalam hal ini kita harus:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. mencari rezki yang halal dan baik serta menjauhi yang haram. Sebab, semua daging yang lahir dari barang haram maka api neraka lebih berhak untuk membakarnya.&lt;br /&gt;b. Perlu ada kesepakatan antara suami dan istri dalam menentukan anggaran belanja rumah tangga, untuk apa saja penggunaan anggaran tersebut. Yang jelas, pengeluaran tidak boleh melebihi penghasilan&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;c. Mencukupkan diri dengan hal-hal yang dharuriyyat dan menjauhi hal-hal yang sifatnya kamaliyat semampu mungkin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;d. Memperhatikan hak Allah SWT seperti menunaikan zakat, menunaikan ibadah haji kalau sudah mampu. Dalam rumah tangga diutamakan bila mampu menyediakan kotak khusus untuk sedekah. Wallahu a’lam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ - والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-1013755663520711251?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/1013755663520711251/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/03/rumah-tangga-sebagai-cermin-kepribadian.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/1013755663520711251'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/1013755663520711251'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/03/rumah-tangga-sebagai-cermin-kepribadian.html' title='Rumah Tangga Sebagai Cermin Kepribadian Kader'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-1419731614961855726</id><published>2011-02-24T20:47:00.000-08:00</published><updated>2011-02-24T20:52:39.946-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='taujihat tarbawi'/><title type='text'>AL-QURAN SEBAGAI BEKAL DAN TUNTUNAN PERJUANGAN DAKWAH</title><content type='html'>&lt;strong&gt;Kedudukan dan fungsi Al-Qur’an &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;/strong&gt;Allah SWT menciptakan manusia sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Di samping itu Dia juga memberikan bekal kepada manusia dengan bekal yang memandunya supaya dapat menjalankan tugas kekhalifahan, yakni Al-Qur’an Al-Karim.&lt;br /&gt;Al-Quran adalah pedoman hidup manusia dalam mengarungi tugas kekhalifahannya di muka bumi, sebagaimana firman Allah SWT dalam surat Al-Baqarah ayat 185. Namun demikian, yang mampu mengambilnya sebagai petunjuk hanyalah orang-orang yang bertaqwa (lihat Q.S. 2/Al-Baqarah : 2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syahid Hasan Al-Banna pernah mengungkapkan bahwa sikap kebanyakan manusia di masa-masa sekarang ini terhadap kitab Allah SWT ibarat manusia yang diliputi dengan kegelapan dari segala penjuru. Berbagai sistem telah bangkrut, masyarakat telah hancur, nasionalisme telah jatuh. Setiap kali manusia membuat sistem baru untuk diri mereka, segera sistem itu hancur berantakan. Hari ini, manusia tidak mendapatkan jalan selain berdoa, bersedih, dan menangis. Sungguh aneh, karena di hadapan mereka sebenarnya terdapat Al-Qur’an, cahaya sempurna.(Hadits Tsulatsa/23-24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan demikianlah Kami wahyukan kepadamu wahyu (Al Qur'an) dengan perintah Kami. Sebelumnya kamu tidaklah mengetahui apakah Al Kitab (Al Qur'an) dan tidak pula mengetahui apakah iman itu, tetapi Kami menjadikan Al Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengan dia siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya kamu benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus.” (Q.S. 26/Asy-Syu’araa: 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam ayat ini Allah SWT menyebutkan Al-Qur’an sebagai ruh yang berfungsi menggerakkan sesuatu yang mati, mencairkan kejumudan, dan membangkitkan kembali semangat umat sehingga ia bisa menunaikan tugas kekhalifahannya dengan sebaik-baiknya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Interaksi dengan Al-Qur’an &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;&lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT menjanjikan bagi orang-orang yang berinteraksi dengan Al-Qur’an akan mendapatkan kemuliaan. Allah SWT berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya telah Kami turunkan kepada kamu sebuah kitab yang di dalamnya terdapat sebab-sebab kemuliaan bagimu. Maka apakah kamu tiada memahaminya?” (Q.S. 21/ Al-Anbiyaa: 10)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Interaksi ini harusnya dilakukan secara utuh baik secara tilawatan (menguasai cara membacanya sesuai dengan kaidah tajwid dan mampu membacanya di waktu siang maupun malam), fahman (memahami kandungan ayat-ayat yang dibaca), amalan (kemampuan mengamalkan Al-Qur’an dalam kehidupan/membumikan Al-Qur’an) maupun hifzhan (kemampuan menghafalkan ayat-demi ayat Al-Qur’an).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah empat bentuk interaksi yang diinginkan Al-Qur’an kepada setiap Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;strong&gt;Upaya membangun ruh Al-Qur’an bagi kader dan kiat-kiatnya &lt;/strong&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar bisa berinteraksi kembali dengan Al-Qur’an, maka perlu disadarkan kembali kewajiban-kewajiban kita di hadapan Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Asy-Syahid Hasan Al-Banna mengungkapkan beberapa kewajiban Muslim terkait dengan Al-Qur’an yaitu :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;ol&gt;&lt;li&gt;Seorang Muslim harus memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh dan kuat bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali sistem sosial yang diambil dan bersumber dari kitab Allah SWT. Sistem sosial apa pun yang tidak mengacu atau tidak berlandaskan kepada Al-Qur’an pasti akan menuai kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Kaum Muslimin wajib menjadikan kitab Allah sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui sedangkan kita tidak menjalin hubungan dengan Allah SWT melalui Al-Qur’an. Demikianlah keadaan para pendahulu kita, kaum salaf. Mereka tidak pernah kenyang dengan Al-Qur’anul Karim. Mereka tidak pernah meninggalkannya. Bahkan mereka mencurahkan waktunya untuk itu. Sunnah mengajarkan agar kita mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari tiga hari. Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum Muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, “Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur’an sebagai sesuatu yang ditinggalkan.”&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Ketika membaca Al-Qur’an kita harus memperhatikan adab-adab membacanya. Demikian pula saat kita mendengarkan Al-Qur’an harus memperhatikan adab-adabnya. Hendaklah kita berusaha merenungkan dan meresapinya.&lt;br /&gt;&lt;/li&gt;&lt;li&gt;Setelah kita mengimani bahwa Al-Qur’an adalah satu-satunya penyelamat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya, baik dalam tingkatan individu maupun hukum-hukum yang berkaitan dengan masyarakat atau hukum-hukum yang berkaitan dengan penguasa. &lt;/li&gt;&lt;/ol&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-1419731614961855726?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/1419731614961855726/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/02/al-quran-sebagai-bekal-dan-tuntunan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/1419731614961855726'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/1419731614961855726'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/02/al-quran-sebagai-bekal-dan-tuntunan.html' title='AL-QURAN SEBAGAI BEKAL DAN TUNTUNAN PERJUANGAN DAKWAH'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-1041413884120144145</id><published>2011-02-17T18:57:00.000-08:00</published><updated>2011-02-17T19:00:31.217-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tsaqafah'/><title type='text'>Ciri Pemimpin Yang Tidak Amanah Dan Urgensi Kepemimpinan Yang Adil</title><content type='html'>&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text Indent"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" name="Body Text Indent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:Arial;  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-style: normal;"&gt;&lt;/span&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Hadirin Jama’ah jumah Rahimakumullah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt;"&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Rasulullah saw bersabda:&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" dir="RTL" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 4.9pt; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;عَن&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 20pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; font-style: normal;" lang="AR-SA"&gt;ْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ بَيْنَمَا النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي مَجْلِسٍ يُحَدِّثُ الْقَوْمَ جَاءَهُ أَعْرَابِيٌّ فَقَالَ مَتَى السَّاعَةُ فَمَضَى رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُحَدِّثُ فَقَالَ بَعْضُ الْقَوْمِ سَمِعَ مَا قَالَ فَكَرِهَ مَا قَالَ وَقَالَ بَعْضُهُمْ بَلْ لَمْ يَسْمَعْ حَتَّى إِذَا قَضَى حَدِيثَهُ قَالَ أَيْنَ أُرَاهُ السَّائِلُ عَنْ السَّاعَةِ قَالَ هَا أَنَا يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ فَإِذَا ضُيِّعَتْ الْأَمَانَةُ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ قَالَ كَيْفَ إِضَاعَتُهَا قَالَ إِذَا وُسِّدَ الْأَمْرُ إِلَى غَيْرِ أَهْلِهِ فَانْتَظِرْ السَّاعَةَ&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-style: normal;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;) &lt;/span&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: black; font-style: normal;" lang="AR-SA"&gt;رَوَاهُ البُخَارِيُّ&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="color: black; font-style: normal;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;(&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Dari Abu Hurairah r.a. berkata,&lt;/span&gt;&lt;/i&gt; &lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;tatkala Nabi saw. berada dalam suatu majelis sedang berbicara dengan sahabat, maka datanglah orang Arab Badui dan berkata, “Kapan terjadi Kiamat?” Rasulullah saw. terus melanjutkan pembicaraannya. Sebagian sahabat berkata, “Rasulullah saw. mendengar apa yang ditanyakan tetapi tidak menyukai apa yang ditanyakannya . Berkata sebagian yang lain, “Rasul saw. tidak mendengar”. Setelah Rasulullah saw. menyelesaikan perkataannya, beliau bertanya, “Mana yang bertanya tentang Kiamat?” Berkata orang Badui itu, “Saya wahai Rasulullah saw.“ Rasul saw. berkata, “Jika amanah disia-siakan, maka tunggulah Kiamat”. Bertanya, “Bagaimana menyia-nyiakannya?” Rasul saw. menjawab, “Jika urusan diserahkan kepada yang bukan ahlinya, maka tunggulah Kiamat” (HR Bukhari)&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Hadirin Jama’ah jumah Rahimakumullah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;Hadits ini sebuah peringatan dari Rasul saw. agar amanah itu diberikan kepada ahlinya. Dan puncak amanah adalah amanah dalam kepemimpinan umat. Jika pemimpin umat tidak amanah berarti kita tinggal menunggu kiamat atau kehancuran.. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;Pertanyaannya seperti apakah ciri-ciri&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;pemimpin yang tidak amanah itu, paling tidak ada enam ciri dari pemimpin yang tidak amanah yang akan kita bahas pada pertemuan kali ini &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;&lt;b&gt;Pertama&lt;/b&gt;, pemimpin yang tidak memenuhi syarat keahlian, yaitu sebagaimana syarat pemimpin yang disepakati ulama Islam, adalah: Islam, baligh dan berakal, lelaki, mampu (kafaah),&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;merdeka atau bukan budak dan sehat indera dan anggota badannya. Pemimpin yang tidak memiliki&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;syarat keahlian pasti tidak amanah. Misalnya, seorang yang tidak sehat indera dan anggota badannya dan menjadi pemimpin sebuah negara atau bangsa. Ia bisa dipastikan tidak mampu menjalankan amanahnya karena faktor kesehatannya, kemudian dia juga tidak mampu melakukan tugas-tugas yang berat karena cacat sehingga akhirnya lebih banyak berbuat untuk dirinya sendiri daripada untuk rakyatnya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;Begitu pula dengan syarat berakal, karena bila seorang pemimpin bodoh, tidak berakal, dan tidak mampu memimpin pasti orang itu juga tidak amanah, karena dia tidak mengerti apa yang seharusnya dikatakan dan diperbuat. Dan sangat mungkin ia akan diperalat oleh orang dekatnya atau kelompoknya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;Kewajiban kita wahai saudaraku, ialah memunculkan pemimpin bangsa dengan berpedoman pada syarat-syarat yang dituntut dalam Islam. Jika tidak maka kita semua berdosa, bahkan dosa besar. Kita semua harus berjihad untuk mewujudkan hal itu.. Bahkan Rasulullah saw. menyebutkan jihad yang paling utama adalah melakukan &lt;i&gt;amar&lt;/i&gt;&lt;i style=""&gt; ma’ruf wa nahi munkar&lt;/i&gt; jika ada pemimpin yang tidak sesuai dengan syarat dalam Islam beliau bersabda, “&lt;i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Seutama-utamanya jihad adalah kalimat yang benar kepada penguasa yang zhalim”(HR Ibnu Majah, Ahmad,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;At-Thabrani, Al-Baihaqi dan An-Nasai). &lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;span style="color: black;"&gt;Hadits yang lain&lt;i&gt;, “Penghulu para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthallib dan seorang yang bangkit menuju imam yang zhalim,&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;memerintahkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;dan melarang sesuatu lalu ia dibunuh”(HR Al-Hakim)&lt;/i&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Hadirin Jama’ah jumah Rahimakumullah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;Ciri &lt;b&gt;kedua&lt;/b&gt; pemimpin yang tidak amanah adalah mementingkan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Jika pemimpin yang amanah melaksanakan segala kepemimpinannya untuk semua rakyat dan bangsanya, maka pemimpin yang tidak amanah melakukannya hanya untuk diri sendiri, keluarga dan kelompoknya. Ia tidak menegakkan keadilan bagi seluruh rakyatnya. Ia juga tidak mengembangkan kekayaan negeri untuk kepentingan rakyatnya, tetapi untuk kepentingan diri sendiri, keluarga dan kelompoknya saja, bahkan bila perlu dengan mengorbankan rakyat dan negaranya. &lt;i&gt;Na’udzu billah min dzalika. &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;Ciri &lt;b&gt;ketiga&lt;/b&gt; adalah berlaku zhalim. Pemimpin yang tidak amanah bersifat zhalim. Dia melaksanakan kepemimpinan itu bukan untuk melaksanakan amanah, melainkan&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;untuk berkuasa dan memiliki segala kekayaan negeri sehingga dapat berbuat zhalim kepada rakyatnya. Yang dipikirkan adalah kekuasaannya dan fasilitas dari kekuasaan itu, tidak peduli rakyat menderita dan sengsara bahkan tidak peduli tumpahnya darah rakyat karena kezhalimannya. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0.05in 1.3pt 1.5pt 0in; text-indent: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Rasulullah saw bersabda&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" dir="RTL" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 4.9pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;إنها ستكون عليكم أمراء من بعدي يعظون بالحكمة على منابر فإذا نزلوا اختلست منهم وقلوبهم أنتن من الجيف فمن صدقهم بكذبهم وأعانهم على ظلمهم فليس مني ولست منه ولا يرد علي الحوض ومن لم يصدقهم بكذبهم ولم يعنهم على ظلمهم فهو مني وأنا منه وسيرد علي الحوض&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent" style="margin: 0.05in 1.3pt 1.5pt 0in; text-indent: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Sesungguhnya akan datang di tengah-tengah kalian para pemimpin sesudahku, mereka menasihati orang di forum-forum dengan penuh hikmah, tetapi jika mereka turun dari mimbar mereka berlaku culas, hati mereka lebih busuk daripada bangkai. Barang siapa yang membenarkan kebohongan mereka dan membantu kesewenang-wenangan mereka, maka aku bukan lagi golongan mereka dan mereka bukan golonganku dan tidak akan dapat masuk telagaku. Barang siapa yang tidak membenarkan kebohongan mereka dan tidak membantu kesewenang-wenangan mereka maka ia adalah termasuk golonganku dan aku termasuk golongan mereka, dan mereka akan datang ke telagaku.” (H.R. At-Thabrani)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Hadirin Jama’ah jumah Rahimakumullah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt; direction: ltr; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ciri &lt;b&gt;keempat&lt;/b&gt; adalah menyesatkan umat. Pemimpin yang tidak amanah akan melakukan apa saja untuk menyesatkan umat. Misalnya, dengan kekayaannya yang diperoleh secara zhalim membeli media masa untuk menjadi ‘corongnya’. Pemimpin&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;seperti ini adalah pemimpin yang berbahaya, bahkan lebih berbahaya dari Dajjaal –&lt;i&gt;laknatullah&lt;/i&gt;-. Rasul saw bersabda:” &lt;/span&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;“Selain Dajjaal ada yang lebih aku takuti atas umatku; yaitu para pemimpin yang sesat” (HR Ahmad).&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt; &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;Ciri &lt;b&gt;kelima&lt;/b&gt; adalah membuat dan rusak dan hancur seluruh tatanan sosial masyarakat. Pemimpin yang tidak amanah akan mengakibatkan kerusakan dan kehancuran. Salah satu bentuknya adalah menjadi dominannya seluruh bentuk kemaksiatan, seperti kemusyrikan, sihir dan perdukunan, zina dan pornografi, minuman keras dan Narkoba, pencurian dan korupsi, pembunuhan dan kekerasan, dll. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 0.05in -3.2pt 1.5pt 0in; text-indent: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Rasulullah saw. bersabda&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText" dir="RTL" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;يخرج في آخر الزمان رجال يختلون الدنيا بالدين يلبسون للناس جلود الضأن من اللين ألسنتهم أحلى من العسل وقلوبهم قلوب الذئاب يقول الله: أبي يغترون أم علي يجترئون فبي حلفت لأبعثن على أولئك منهم فتنة تدع الحليم منهم حيران.&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 16pt;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyTextIndent2" style="margin: 0.05in -3.2pt 1.5pt 0in; text-indent: 15pt;"&gt;&lt;span style=""&gt;“Akan muncul di akhir zaman lelaki yang memanipulasi agama untuk kepentingan dunia, mengenakan pakaian yang halus-halus, lidah mereka lebih manis daripada madu tetapi mereka berhati serigala. Allah berfirman, ”Apakah kepada-Ku mereka sombong atau, kepada-Ku mereka berani. Atas nama-Ku mereka bersumpah. Maka akan ditimpakan kepada mereka fitnah, yang membuat orang-orang pandai jadi kebingungan” (H.R. Tirmidzi)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify;"&gt;&lt;i&gt; &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-style: normal;"&gt;Hadirin Jama’ah jumah Rahimakumullah&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;Dengan demikian kita harus memunculkan pemimpin yang adil, yaitu pemimpin yang senantiasa menegakkan keadilan dan berbuat untuk kemaslahatan rakyatnya di dunia dan di akhirat.&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;Kita harus berjihad untuk sebuah proses lahirnya pemimpin yang adil. Kita harus menyiapkan ibu-ibu yang akan mencetak pemimpin yang adil. Kita juga harus menyiapkan sarana untuk terciptanya pemimpin yang adil, Dan akhirnya kita harus berdakwah, ber&lt;i style=""&gt;amar ma’ruf nahi munkar&lt;/i&gt; agar mendapatkan pemimpin yang adil. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;&lt;i&gt;“Dan kamu semua adalah pemimpin dan kamu semua akan diminta pertanggungjawabannya atas kepemimpinan itu&lt;/i&gt;”. &lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;Umar bin Khathab r.a. berkata&lt;i&gt;: Jika ada seekor keledai yang jatuh di Irak, maka aku akan ditanya di hadapan Allah Taala, kenapa engkau tidak memperbaiki jalan itu” &lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;Doa kita adalah doa yang diabadikan dalam Al-Qur’an:&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;&lt;i&gt;"Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami istri-istri kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertaqwa”.&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;Rasulullah saw, bersabda&lt;i&gt;:&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;&lt;i&gt;Ada tujuh kelompok yang akan mendapat perlindungan Allah di hari yang tiada perlindungan, kecuali perlindungan Nya: Imam yang adil….(Muttafaq ‘alaih)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 4.9pt; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: black;" lang="AR-SA"&gt;&lt;span dir="RTL"&gt;&lt;/span&gt;"يوم من إمام عادل أفضل من عبادة ستين سنة، وحد يقام في الأرض بحقه أزكى فيها من مطر أربعين عاماً".&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="LTR" style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 15pt;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“Sehari bersama imam yang adil lebih baik dari ibadah seorang lelaki selama 60 tahun. Dan hukum hudud yang ditegakkan di muka bumi dengan benar lebih bersih dari hujan yang turun selama 40 tahun” (H.R. At-Thabrani dan Al-Baihaqi)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 4.9pt; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: black;" lang="AR-SA"&gt;ثلاثة لا ترد دعوتهم: الإمام العادل، والصائم حين يفطر، ودعوة المظلوم&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="LTR" style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText3" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-indent: 15pt;"&gt;Tiga kelompok yang tidak ditolak doanya: Imam adil, orang yang berpuasa sampai berbuka dan doa orang yang tertindas” (H.R. Ahmad, At-Tirmidzi dan Ibnu Majah)&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: justify; text-indent: 4.9pt; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;; color: black;" lang="AR-SA"&gt;أحب الناس إلى اللّه وأقربهم منه مجلساً يوم القيامة: إمام عادل، وأبغض الناس إلى اللّه يوم القيامة، وأشدهم عذاباً: إمام جائر&lt;/span&gt;&lt;b style=""&gt;&lt;span dir="LTR" style=""&gt;&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoBodyText2" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-indent: 15pt;"&gt;&lt;i&gt;“Manusia yang paling dicintai Allah dan yang paling dekat kedudukannya di hari kiamat adalah imam yang adil. Dan manusia yang paling dibenci Allah dan paling keras azabnya adalah imam yang zhalim” (H.R. Ahmad, At-Tirmidzi dan al-Baihaqi)&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-indent: 15pt;"&gt;&lt;span dir="RTL" style="color: black;" lang="AR-SA"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin: 0.05in 0in 1.5pt; text-align: center; text-indent: 4.9pt; direction: rtl; unicode-bidi: embed;" align="center"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style=""&gt;  &lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 16pt;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt; - &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 16pt; font-family: &amp;quot;Traditional Arabic&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;والسلام عليكم ورحمة الله وبركاته&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal"&gt; &lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-1041413884120144145?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/1041413884120144145/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/02/ciri-pemimpin-yang-tidak-amanah-dan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/1041413884120144145'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/1041413884120144145'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/02/ciri-pemimpin-yang-tidak-amanah-dan.html' title='Ciri Pemimpin Yang Tidak Amanah Dan Urgensi Kepemimpinan Yang Adil'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-2503314750469812366</id><published>2011-02-10T04:42:00.000-08:00</published><updated>2011-02-10T04:44:56.955-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tausiah'/><title type='text'>KIAT MENGHANCURKAN ISLAM</title><content type='html'>Dari waktu ke waktu, kian terbukti pihak Yahudi dan Nasrani tidak suka terhadap umat Islam, hal ini karena umat Islam selalu berjuang menegakkan Al-Haq (kebenaran) dan sebaliknya, mereka terus berjuang untuk menegakkan Al-Bathil (kesalahan). Inilah sebabnya, mengapa tak pernah bisa bertemu antara pihak yang haq dengan pihak yang bathil, bahkan dari generasi ke generasi, pertarungan baik yang bersifat fisik maupun non fisik terjadi berkali-kali hingga hari ini. Karena itu mereka beranggapan bahwa Islam merupakan penghalang yang harus diberantas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Berbagai cara mereka tempuh untuk menghacurkan Islam dan umatnya. Sebagai muslim, kita perlu tahu apa saja strategi atau kiat-kiat mereka dalam menghancurkan Islam dan umatnya. Bila kita sudah tahu, insya Allah kita tidak akan terjebak ke dalam program penghancuran yang mereka lakukan. Seluruh program mereka pada intinya berorientasi pada upaya menjauhkan umat Islam dari ajaran Islam yang sering disebut dengan harokatul irtidad (gerakan pemurtadan). Secara umum, kita harus kaji betul langkah-langkah mereka ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Perang Secara Fisik&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berkali-kali peperangan antara muslim dengan Yahudi dan Nasrani terjadi, perang Arab-Israel masih berlangsung hingga kini, perang Salib yang tekenal itu juga menjadi bukti, pada masa dahulu mereka menjajah sejumlah negara yang mayoritas penduduknya muslim, di bekas Uni Sovyet, berlangsung perang antara Azerbaijan dengan Armenia, begitu juga kebiadaban mereka terhadap muslim Bosnia. Namun peperangn secara fisik yang sudah berlangsung berkali-kali ini menyadarkan mereka bahwa tak mungkin umat Islam bisa ditaklukkan dengan kekuatan senjata, mitos ini semakin kuat pada perang Afganistan, Bosnia, Irak, Afganistan dan sebagainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Kalau peperangan terhadap kaum muslimin masih saja terus berlangsung, hal itu hanyalah karena mereka penasaran untuk bisa menaklukkan umat Islam dengan senjata, mereka ingin berhasil dan tertulis dalam sejarah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Menghancurkan Sistem Khilafah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah mitos kegagalan perang terhadap muslim, cara lain yang mereka tempuh guna menghancurkan Islam dan umatnya adalah dengan menghancurkan sitem pemerintahan Islam yang bersifat khilafah. Maka mereka hancurkanlah kekhilafahan Islam Utsmaniyah di Turki lalu mereka ganti dengan pemerintahan yang sekuler (memisahkan agama dengan negara), lalu berkembang pula pemikiran dan paham nasionalisme sehingga negara-negara yang dahulu saling bahu-membahu, setelah itu menjadi lebih mementingkan kebangsaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun hancurnya khilafah Utsmaniyah bukan berarti akhir dari segalanya, keinginan untuk mengembalikan pemerintahan yang Islami tidak hilang begitu saja meskipun kondisinya sangat sulit, bahkan di Turki sendiri, partai Islam mulai memenangkan  pemilihan umum yang dilangsungkan di negeri itu. Dimana-mana sekarang ini muncul kembali kesadaran pentingnya pemerintahan yang Islami, sebab tanpa pemerintahan yang Islami, yang menderita bukan hanya kaum muslimin, tapi juga mereka rasakan kegundahan dalam hidup ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Menjauhkan Umat Dari Al-Qur’an&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kafir itu sebenarnya menghendaki musnahnya Al-Qur’an sebagai salah satu sumber kekuatan umat Islam, Gladstone, seorang orientalis Barat menyatakan: “Selama Al-Qur’an ini ada, maka Eropa tidak akan sanggup menjajah Timur, malahan Eropa sendiri tidak bisa aman”. Namun mereka sendiri akhirnya menyadari bahwa Al-Qur’an itu tak mungkin bisa dimusnahkan, maka merekapun berusaha untuk menjauhkan umat Islam dari kitab sucinya, dan ini bisa mereka capai dengan baik sehingga kekuatan tak lagi dimiliki oleh umat Islam karena umat Islam jauh dari Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kini umat Islam telah kembali lagi kepada Al-Qur’an, orang-orang kafir itu sangat khawatir dengan fenomena ini, karena ternyata dengan kembalinya umat Islam kepada Al-Qur’an, kekuatan dan kewibawaan sebagai umat kembali dimilikinya, begitulah yang sekarang terjadi sehingga pamor pihak Barat yang mewakili Yahudi dan Nasrani semakin rendah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Menghancurkan Akhlak&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di dalam Islam, tinggi dan rendah, kuat dan lemahnya umat Islam sangat tergantung pada sejauh mana kemuliaan akhlak yang dimilikinya. Karena itu orang-orang kafir sangat berkepentingan bagi hancurnya akhlak kaum muslimin. Samuel Swiemer pernah berkata: “Missi umat kita adalah mengeluarkan seorang muslim dari Islam, supaya menjadi orang yang tidak punya hubungan apa-apa dengan Allah, sehingga ia tidak mempunyai ikatan akhlak sebagai pegangan hidup umat Islam”. Tugas kalian adalah mempersiapkan generasi baru Islam yang jauh dari ajaran Islam,” ungkapan ini dikemukakan tahun 1935 dalam konferensi para missionaris di kota Quds. Untuk mencapai tujuan tersebut, pihak Barat kemudian mengekspor budaya mereka yang jelek melalui film, sandiwara, lagu dan musik, serta motto-motto tertentu lalu membentuk opini bahwa hal itu merupakan suatu kemajuan, tanda maju masyarakat modern. Cara lain yang mereka tempuh adalah melalui jalur pendidikan sekuler sehingga berkembang ilmu yang bebas nilai dan tak ada lagi semangat Islam dikalangan pelajar dan mahasiswa Islam. Sedikit banyak cara ini berhasil mereka lakukan, tapi kaum muslimin telah menyadari kesalahannya sehingga sekolah-sekolah non Islam diharamkan bagi kaum muslimin dan generasi muda kembali kepada Islam, karena memang sudah terbukti bahwa di negara-negara Barat sendiri, tidak berakhlak yang Islami hanya akan menghancurkan peradaban dan menimbulkan malapetaka bagi manusia. AIDS adalah salah satu produk barat yang amat mencemaskan umat manusia tak berakhlak sekarang ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Memecah Persatuan Umat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tindak lanjut dari hancurnya sistem khalifah adalah mereka berusaha mecerai beraikan persatuan umat Islam, untuk itu setelah mereka menjajah berpuluh-puluh bahkan ratusan tahun, mereka tinggalkan negeri jajahan yang mayoritas penduduknya muslim itu dengan perbatasan negeri yang tidak jelas sehingga hal ini sering menjadi konflik antara satu negara dengan negara tetangganya. Setelah itu mereka wariskan nasionalisme atau fanatisme kebangsaan secara berlebihan sehingga suatu negara lebih mementingkan negerinya lalu tidak peduli dengan negara yang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hingga kini, persatuan umat Islam masih merupakan persoalan yang sangat besar untuk bisa diwujudkan, meskipun di dalam Al-Qur’an maupun hadits-hadits amat ditekankan, itulah sebabnya mengapa begitu banyak persoalan dunia Islam tapi belum bisa diselesaikan oleh umat Islam sendiri secara Internasional. Walaupun begitu, kesadaran yang tinggi akan pentingnya ukhuwah semakin nampak pada masyarakat kita sehingga perhatian umat Islam terhadap kondisi umat Islam yang lain sudah menjadi lebih baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6. Menanamkan Keraguan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu kunci kekuatan umat Islam adalah terletak pada amal shalehnya, untuk bisa beramal shaleh seorang muslim terlebih dahulu harus betul-betul yakin akan Islam sebagai satu-satunya agama yang benar. Bila keyakinan ini sudah tumbuh dengan baik di dalam jiwa kaum muslimin, maka kaum muslimin akan selalu memperjuangkan tegaknya nilai-nilai Islam itu dalam kehidupan ini dan siap menanggung segala resiko.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu musuh-musuh Islam terus berusaha menanamkan keraguan umat Islam terhadap agamanya, mereka selewengkan makna-makna Al-Qur’an yang membuat umat Islam menjadi jauh dari Al-Qur’an, mereka kotori sejarah Islam sehingga umat Islam tidak percaya dengan para pejuang Islam, termasuk ragu akan kesucian sejarah Nabi Muhammad saw, lalu mereka hambat umat Islam untuk bisa melaksanakan Islam sehingga umat ini semakin jauh dari ajaran agamanya sendiri, setelah itu dengan berbagai cara mereka bentuk opini bahwa Islam itu agama yang pantas hanya untuk orang-orang Arab masa lalu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun sekarang ini usaha mereka lebih banyak gagalnya daripada berhasilnya, apalagi kesadaran umat Islam untuk memahami ajaran agamanya secara baik menunjukkan adanya peningkatan, bahkan kegagalan mereka nampak dari banyak diantara mereka yang belajar Islam lalu masuk agama Islam meskipun dahulunya mereka begitu benci dengan Islam. Bahkan Islam diakui sebagai agama yang paling pesat berkembang di Amerika dan Eropa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;7. Merintangi Kemajuan Umat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam banyak hal umat Islam sebenarnya bisa mencapai kemajuan yang besar, termasuk dibidang sains dan teknologi. Bila kemajuan ini betul-betul terwujud, maka eksistensi negara-negara Barat sebagai negara industri bisa tersaingi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu mencegah kemajuan negeri-negeri muslim terutama dibidang sains dan teknologi mereka hambat sedemikian rupa. Ada negeri muslim yang sudah bisa bikin bom nuklir, senjata kimia dan sejenisnya yang menjadi alat pertahanan negeri itu mereka lucuti sedemikian rupa dengan legitimasi PBB. Sementara pemuda-pemuda Islam yang sudah berhasil menuntut ilmu di bidang sains dan teknologi mereka beri iming-iming dengan gaji yang besar dan gelar yang mulia agar mau mengabdikan ilmunya di negeri Barat itu saja, tidak usah pulang ke kampung halaman untuk membangun negeri sendiri. Inilah yang kemudian dikenal dengan istilah Brain Drain (pelarian intelektual muslim ke negara-negara Barat). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun begitu, Barat tetap saja menyimpan ketakutan karena umat Islam sekarang ini memang tidak bisa menahan diri lagi untuk bisa maju, karena kemajuan sains dan teknologi yang dicapai barat banyak sekali yang mengakibatkan timbulnya masalah-masalah baru yang tidak menyenangkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga dengan memahami strategi mereka dalam menghancurkan Islam dan umatnya membuat kita sadar bahwa kondisi kita memang dalam keadaan terancam, namun kita tetap tidak boleh pesimis tapi justeru kita harus siap menghadapi serangan-serangan mereka yang mencoba menghalau umat Islam dalam laju pencapaian kembali kejayaannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drs. H. Ahmad Yani&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-2503314750469812366?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/2503314750469812366/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/02/kiat-menghancurkan-islam.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2503314750469812366'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2503314750469812366'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/02/kiat-menghancurkan-islam.html' title='KIAT MENGHANCURKAN ISLAM'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-6328158241535226464</id><published>2011-01-13T05:51:00.000-08:00</published><updated>2011-01-13T05:52:16.170-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='taujihat tarbawi'/><title type='text'>NAHNU KAUM AMALIYUN</title><content type='html'>Ikhwah fillah…&lt;br /&gt;Amal merupakan bagian yang tidak dapat dipisahkan dari iman. Imam Hasan Albashri menegaskan bahwa iman bukanlah angan-angan dan harapan hampa, akan tetapi ia  adalah keyakinan yang mantap dalam hati dan dibuktikan dengan amal yang nyata. Bagi para aktivis da’wah amal Islami adalah bukti intima (komitmen) pada da’wah, jama’ah dan harokah. Tidak ada tempat di dalam jama’ah da’wah ini bagi orang-orang yang hanya ingin diakui sebagai anggota secara legal formal, apatah lagi bagi mereka yang sepi beraktivitas (baca: menganggur) bahkan hanya membebani jama’ah. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ikhwah fillah…&lt;br /&gt;Kita seharusnya datang ke jama’ah ini untuk memberi dan bukan untuk meminta, sudah semestinya kita mengurangi beban dan bukan menjadi beban dan bahkan menjadi kewajiban kita  memberikan seluruh potensi yang kita miliki untuk da’wah dan bukan mencari keuntungan dari da’wah. Ingatlah, sesungguhnya  orientasi kita dalam jama’ah ini adalah orientasi amal dan hanya amallah yang dapat mengangkat derajat kita serta membuat Allah mengakui kita sebagai aktivis da’wah. Allah berfirman: “Dan berbuatlah kamu, maka Allah, Rasul dan orang-orang yang beriman akan melihat amal kalian, dan kalian akan dikembalikan kepada Allah yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata. “ (At-taubah :105 ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah…&lt;br /&gt;Ketahuilah, kewajiban dan tanggung jawab yang harus kita emban ternyata lebih banyak dari waktu yang tersedia dan lebih besar dari potensi yang kita miliki, oleh karenanya jangan sampai ada di antara kita yang hanya duduk, terpaku, dan berdiam diri di dalam jama’ah ini karena jama’ah ini bukanlah jama’ah tanpa kerja (baca: pengangguran). Bila hal itu terjadi, maka ia akan membawa dampak negatif kepada jama’ah, sebagai contoh munculnya suasana dan iklim yang tidak sehat yaitu iklim ghibah dan namimah di antara kader yang dapat menghambat perjalanan harokah dan meruntuhkan bangunan jama’ah. Tidakkah kita menyadari bahwa Rasul melarang kita dari dua hal, yaitu &lt;br /&gt;(1) membicarakan sesuatu yang tidak ada manfaatnya (qiila wa qoola = katanya…dan katanya…)  &lt;br /&gt;(2) menyia-nyiakan harta (idlo’atul maal ).Termasuk prinsip ke- 9 dari Ushul Isyrin yang menegaskan bahwa setiap masalah yang tidak berorientasi pada amal, maka membicarakannya adalah sesuatu yang memberatkan diri dan dilarang oleh syari’at.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah…&lt;br /&gt;Sekaranglah saatnya kita  memperbanyak aktivitas dan meningkatkan produktivitas dan tidak ada waktu bagi kita untuk banyak berbicara terlebih berbicara tentang sesuatu yang tidak berguna mengingat masih banyak lahan da’wah yang belum tergarap. Betapa banyak lahan da’wah yang menjadi tanggung jawab kita di kalangan buruh, pekerja, pedagang, petani, nelayan, professional, ibu rumah tangga, remaja, anak jalanan, dll. Sungguh naïf jika ada di antara kita yang tidak memiliki aktivitas, kesibukan atau “pekerjaan” di dalam jama’ah ini. Sungguh, Asy-syahid Imam Hasan Al-Banna pada masa hidupnya pernah berkata bahwa kita harus bekerja lebih banyak untuk umat dari pada  untuk diri kita sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah…&lt;br /&gt;Ladang da’wah begitu banyak terbuka luas di depan kita. Siapa yang akan memulai menggarapnya? Tentu saja dibutuhkan kader-kader yang berinisiatif, kreatif dan produktif yang motivasinya karena Allah dan berorientasi kepada ridlo Allah. Lupakah kita bahwa Rasul pernah bersabda bahwa barang siapa yang berinisiatif mengerjakan amal kebaikan lalu diikuti oleh orang lain maka baginya pahala atas perbuatannya itu dan pahala dari orang-orang yang mengerjakan setelahnya tanpa mengurangi pahala mereka sedikitpun… (HR. Bukhari ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah…&lt;br /&gt; Indikasi bahwa  kegiatan dan proses tarbiyah yang kita selenggarakan telah berjalan cukup baik (efektif) adalah jika para kader/peserta tarbiyah dapat mengaktualisasikan dirinya sebagai syakhshiyyah Islamiyah dan da’iyah di tengah masyarakatnya. Kehadiran, partisipasi, peran, dan kontribusinya dapat dirasakan oleh orang banyak. Sebagaimana ditegaskan oleh Rasul saw bahwa “orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak kebaikannya di  masyarakat. (HR. Tirmidzi ).Rasulullah menggambarkan bahwa  profil seorang mukmin adalah seperti lebah, yaitu hanya mengambil yang baik dan memberi yang baik  (HR. Ahmad  ).Bila ia hinggap di suatu tempat maka ia akan  mengambil yang terbaik dari tempat itu yaitu madu tanpa merusak atau mematahkan ranting tempat ia berpijak. Bahkan lebah membantu bunga-bunga tersebut melakukan proses penyerbukan. Dan ketika ia meninggalkan tempat itu untuk mencari tempat yang lain, maka ia meninggalkan sesuatu yang terbaik pula yaitu madu serta meninggalkan kenangan manis kepada lingkungan yang pernah ia hinggapi. Dan begitu seterusnya. Ikhwah, jadilah seperti lebah yang selalu mencari unsur-unsur kebaikan dan memberikan buah kebaikan. Benih-benih kebaikan itu tak akan terjadi manakala kita tidak giat melakukan amal da'wi di masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah…&lt;br /&gt;Sesungguhnya amal adalah buah dari ilmu dan keikhlasan. Ilmu yang kita peroleh di dalam halaqah ,tatsqif dan ta’lim  harus berdampak positif pada kehidupan sehari-hari di lingkungan tempat kita beraktivitas. Kita tidak boleh merasa puas dengan kegiatan tarbawi, tatsqifi, dan tanzhimi yang tidak ditranformasikan kepada masyarakat. Kita tidak boleh menganggap cukup dengan aktivitas tarbawi yang bersifat internal tanpa mengembangkannya dalam bentuk amal da'wi dan kegiatan sosial karena konsep  tarbiyah yang kita anut adalah  memadukan tarbiyah nukhbawiyah (pembinaan kader ke dalam  ) dan tarbiyah jamahiriyah (rekrut massa yang bersifat terbuka dan massif ).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;.Ikhwah fillah…&lt;br /&gt;Jadilah pekerja da’wah yang berperan aktif dalam berbagai kegiatan yang diselenggarakan oleh stuktur Partai Keadilan Sejahtera dalam rangka mensukseskan pemenangan pemilu baik di tingkat DPRa, DPC, DPD, DPW dan DPP. Janganlah kita menjadi penonton dalam persaingan dan pertarungan da’wah yang hanya bisa tertawa, bergembira, bersorak-sorai , bertepuk tangan dan bersiul menyaksikan pemain yang bertarung untuk merebut kemenangan di medan pertandingan atau kadang kala berkomentar negatif jika pemain melakukan kesalahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah…&lt;br /&gt;Kita tidak mengenal istilah pengamat da’wah dalam kamus da’wah kita karena yang ada hanyalah aktivis da’wah dan praktisi harakah. Oleh karena itu tidak boleh ada di antara kita yang menjadi pengamat da’wah tapi hendaklah menjadi aktivis dan praktisi harakah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwah fillah…&lt;br /&gt;I’malu ‘ala barakatillah.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-6328158241535226464?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/6328158241535226464/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/01/nahnu-kaum-amaliyun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/6328158241535226464'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/6328158241535226464'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2011/01/nahnu-kaum-amaliyun.html' title='NAHNU KAUM AMALIYUN'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-9016016851969047621</id><published>2010-12-30T19:09:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T19:13:02.774-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Tazkiyatunnafs'/><title type='text'>Makna Muhasabah</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dari Syadad bin Aus r.a., dari Rasulullah saw., bahwa beliau berkata, ‘Orang yang pandai adalah yang menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri serta beramal untuk kehidupan sesudah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah yang dirinya mengikuti hawa nafsunya serta berangan-angan terhadap Allah swt. (HR. Imam Turmudzi, ia berkata, ‘Hadits ini adalah hadits hasan’)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Gambaran Umum Hadits&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas menggambarkan urgensi muhasabah (evaluasi diri) dalam menjalani kehidupan di dunia ini. Karena hidup di dunia merupakan rangkaian dari sebuah planing dan misi besar seorang hamba, yaitu menggapai keridhaan Rab-nya. Dan dalam menjalankan misi tersebut, seseorang tentunya harus memiliki visi (ghayah), perencanaan (ahdaf), strategi (takhtith), pelaksanaan (tatbiq) dan evaluasi (muhasabah). Hal terakhir merupakan pembahasan utama yang dijelaskan oleh Rasulullah saw. dalam hadits ini. Bahkan dengan jelas, Rasulullah mengaitkan evaluasi dengan kesuksesan, sedangkan kegagalan dengan mengikuti hawa nafsu dan banyak angan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Indikasi Kesuksesan dan Kegagalan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hadits di atas dibuka Rasulullah dengan sabdanya, ‘Orang yang pandai (sukses) adalah yang mengevaluasi dirinya serta beramal untuk kehidupan setelah kematiannya.’ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ungkapan sederhana ini sungguh menggambarkan sebuah visi yang harus dimiliki seorang muslim. Sebuah visi yang membentang bahkan menembus dimensi kehidupan dunia, yaitu visi hingga kehidupan setelah kematian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seorang muslim tidak seharusnya hanya berwawasan sempit dan terbatas, sekedar pemenuhan keinginan untuk jangka waktu sesaat. Namun lebih dari itu, seorang muslim harus memiliki visi dan planing untuk kehidupannya yang lebih kekal abadi. Karena orang sukses adalah yang mampu mengatur keinginan singkatnya demi keinginan jangka panjangnya. Orang bertakwa adalah yang ‘rela’ mengorbankan keinginan duniawinya, demi tujuan yang lebih mulia, ‘kebahagian kehidupan ukhrawi.’&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam Al-Qur’an, Allah swt. seringkali mengingatkan hamba-hamba-Nya mengenai visi besar ini, di antaranya adalah dalam QS. Al-Hasyr (59): 18–19.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muhasabah atau evaluasi atas visi inilah yang digambarkan oleh Rasulullah saw. sebagai kunci pertama dari kesuksesan. Selain itu, Rasulullah saw. juga menjelaskan kunci kesuksesan yang kedua, yaitu action after evaluation. Artinya setelah evaluasi harus ada aksi perbaikan. Dan hal ini diisyaratkan oleh Rasulullah saw. dengan sabdanya dalam hadits di atas dengan ’dan beramal untuk kehidupan sesudah kematian.’ Potongan hadits yang terakhir ini diungkapkan Rasulullah saw. langsung setelah penjelasan tentang muhasabah. Karena muhasabah juga tidak akan berarti apa-apa tanpa adanya tindak lanjut atau perbaikan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat hal menarik yang tersirat dari hadits di atas, khususnya dalam penjelasan Rasulullah saw. mengenai kesuksesan. Orang yang pandai senantiasa evaluasi terhadap amalnya, serta beramal untuk kehidupan jangka panjangnya yaitu kehidupan akhirat. Dan evaluasi tersebut dilakukan untuk kepentingan dirinya, dalam rangka peningkatan kepribadiannya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sementara kebalikannya, yaitu kegagalan. Disebut oleh Rasulullah saw, dengan ‘orang yang lemah’, memiliki dua ciri mendasar yaitu orang yang mengikuti hawa nafsunya, membiarkan hidupnya tidak memiliki visi, tidak memiliki planing, tidak ada action dari planingnya, terlebih-lebih memuhasabahi perjalanan hidupnya. Sedangkan yang kedua adalah memiliki banyak angan-angan dan khayalan, ’berangan-angan terhadap Allah.’ Maksudnya, adalah sebagaimana dikemukakan oleh Imam Al-Mubarakfuri dalam Tuhfatul Ahwadzi, sebagai berikut: Dia (orang yang lemah), bersamaan dengan lemahnya ketaatannya kepada Allah dan selalu mengikuti hawa nafsunya, tidak pernah meminta ampunan kepada Allah, bahkan selalu berangan-angan bahwa Allah akan mengampuni dosa-dosanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Urgensi Muhasabah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Turmudzi setelah meriwayatkan hadits di atas, juga meriwayatkan ungkapan Umar bin Khattab dan juga ungkapan Maimun bin Mihran mengenai urgensi dari muhasabah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Mengenai muhasabah, Umar r.a. mengemukakan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Hisablah (evaluasilah) diri kalian sebelum kalian dihisab, dan berhiaslah (bersiaplah) kalian untuk hari aradh akbar (yaumul hisab). Dan bahwasanya hisab itu akan menjadi ringan pada hari kiamat bagi orang yang menghisab (evaluasi) dirinya di dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai sahabat yang dikenal ‘kritis’ dan visioner, Umar memahami benar urgensi dari evaluasi ini. Pada kalimat terakhir pada ungkapan di atas, Umar mengatakan bahwa orang yang biasa mengevaluasi dirinya akan meringankan hisabnya di yaumul akhir kelak. Umar paham bahwa setiap insan akan dihisab, maka iapun memerintahkan agar kita menghisab diri kita sebelum mendapatkan hisab dari Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Sementara Maimun bin Mihran r.a. mengatakan:&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;‘Seorang hamba tidak dikatakan bertakwa hingga ia menghisab dirinya sebagaimana dihisab pengikutnya dari mana makanan dan pakaiannya’.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maimun bin Mihran merupakan seorang tabiin yang cukup masyhur. Beliau wafat pada tahun 117 H. Beliaupun sangat memahami urgensi muhasabah, sehingga beliau mengaitkan muhasabah dengan ketakwaan. Seseorang tidak dikatakan bertakwa, hingga menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri. Karena beliau melihat salah satu ciri orang yang bertakwa adalah orang yang senantiasa mengevaluasi amal-amalnya. Dan orang yang bertakwa, pastilah memiliki visi, yaitu untuk mendapatkan ridha Ilahi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Urgensi lain dari muhasabah adalah karena setiap orang kelak pada hari akhir akan datang menghadap Allah swt. dengan kondisi sendiri-sendiri untuk mempertanggung jawabkan segala amal perbuatannya&lt;/span&gt;. Allah swt. menjelaskan dalam Al-Qur’an: “Dan tiap-tiap mereka akan datang kepada Allah pada hari kiamat dengan sendiri-sendiri.” [QS. Maryam (19): 95, Al-Anbiya’ (21): 1].&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Aspek-Aspek Yang Perlu Dimuhasabahi&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terdapat beberapa aspek yang perlu dimuhasabahi oleh setiap muslim, agar ia menjadi orang yang pandai dan sukses.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1.Aspek Ibadah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama kali yang harus dievaluasi setiap muslim adalah aspek ibadah. Karena ibadah merupakan tujuan utama diciptakannya manusia di muka bumi ini. [QS. Adz-Dzaariyaat (51): 56]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Aspek Pekerjaan &amp; Perolehan Rizki&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek kedua ini sering kali dianggap remeh, atau bahkan ditinggalkan dan ditakpedulikan oleh kebanyakan kaum muslimin. Karena sebagian menganggap bahwa aspek ini adalah urusan duniawi yang tidak memberikan pengaruh pada aspek ukhrawinya. Sementara dalam sebuah hadits, Rasulullah saw. bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Ibnu Mas’ud ra dari Nabi Muhammad saw. bahwa beliau bersabda, ‘Tidak akan bergerak tapak kaki ibnu Adam pada hari kiamat, hingga ia ditanya tentang 5 perkara; umurnya untuk apa dihabiskannya, masa mudanya, kemana dipergunakannya, hartanya darimana ia memperolehnya dan ke mana dibelanjakannya, dan ilmunya sejauh mana pengamalannya.’ (HR. Turmudzi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3.Aspek Kehidupan Sosial Keislaman&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek yang tidak kalah penting untuk dievaluasi adalah aspek kehidupan sosial, dalam artian hubungan muamalah, akhlak dan adab dengan sesama manusia. Karena kenyataannya aspek ini juga sangat penting, sebagaimana yang digambarkan Rasulullah saw. dalam sebuah hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari Abu Hurairah ra, bahwa Rasulullah saw. bersabda, ‘Tahukah kalian siapakah orang yang bangkrut itu?’ Sahabat menjawab, ‘Orang yang bangkrut diantara kami adalah orang yang tidak memiliki dirham dan tidak memiliki perhiasan.’ Rasulullah saw. bersabda, ‘Orang yang bangkrut dari umatku adalah orang yang datang pada hari kiamat dengan (pahala) shalat, puasa dan zakat, namun ia juga datang dengan membawa (dosa) menuduh, mencela, memakan harta orang lain, memukul (mengintimidasi) orang lain. Maka orang-orang tersebut diberikan pahala kebaikan-kebaikan dirinya. Hingga manakala pahala kebaikannya telah habis, sebelum tertunaikan kewajibannya, diambillah dosa-dosa mereka dan dicampakkan pada dirinya, lalu dia pun dicampakkan ke dalam api neraka. (HR. Muslim)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Melalaikan aspek ini, dapat menjadi orang yang muflis sebagaimana digambarkan Rasulullah saw. dalam hadits di atas. Datang ke akhirat dengan membawa pahala amal ibadah yang begitu banyak, namun bersamaan dengan itu, ia juga datang ke akhirat dengan membawa dosa yang terkait dengan interaksinya yang negatif terhadap orang lain; mencaci, mencela, menuduh, memfitnah, memakan harta tetangganya, mengintimidasi dsb. Sehingga pahala kebaikannya habis untuk menutupi keburukannya. Bahkan karena kebaikannya tidak cukup untuk menutupi keburukannya tersebut, maka dosa-dosa orang-orang yang dizaliminya tersebut dicampakkan pada dirinya. Hingga jadilah ia tidak memiliki apa-apa, selain hanya dosa dan dosa, akibat tidak memperhatikan aspek ini. Na’udzubillah min dzalik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Aspek Dakwah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aspek ini sesungguhnya sangat luas untuk dibicarakan. Karena menyangkut dakwah dalam segala aspek; sosial, politik, ekonomi, dan juga substansi dari da’wah itu sendiri mengajak orang pada kebersihan jiwa, akhlaqul karimah, memakmurkan masjid, menyempurnakan ibadah, mengklimakskan kepasrahan abadi pada ilahi, banyak istighfar dan taubat dsb.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi yang cukup urgens dan sangat substansial pada evaluasi aspek dakwah ini yang perlu dievaluasi adalah, sudah sejauh mana pihak lain baik dalam skala fardi maupun jama’i, merasakan manisnya dan manfaat dari dakwah yang telah sekian lama dilakukan? Jangan sampai sebuah ‘jamaah’ dakwah kehilangan pekerjaannya yang sangat substansial, yaitu dakwah itu sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Evaluasi pada bidang dakwah ini jika dijabarkan, juga akan menjadi lebih luas. Seperti evaluasi dakwah dalam bidang tarbiyah dan kaderisasi, evaluasi dakwah dalam bidang dakwah ‘ammah, evaluasi dakwah dalam bidang siyasi, evaluasi dakwah dalam bidang iqtishadi, dsb?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pada intinya, dakwah harus dievaluasi, agar harakah dakwah tidak hanya menjadi simbol yang substansinya telah beralih pada sektor lain yang jauh dari nilai-nilai dakwah itu sendiri. Mudah – mudahan ayat ini menjadi bahan evaluasi bagi dakwah yang sama-sama kita lakukan: Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”. [QS. Yusuf (12): 108]&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2007/makna-muhasabah/"&gt;Dakwatuna&lt;/a&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-9016016851969047621?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/9016016851969047621/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/12/makna-muhasabah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/9016016851969047621'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/9016016851969047621'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/12/makna-muhasabah.html' title='Makna Muhasabah'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-7767607596584595922</id><published>2010-12-30T19:01:00.000-08:00</published><updated>2010-12-30T19:02:56.452-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tausiah'/><title type='text'>Makna Pergantian Tahun</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.percikaniman.org/detail_artikel.php?cPub=Hits&amp;cID=32"&gt;www.percikaniman.org.&lt;/a&gt; Seorang ulama besar, Imam Hasan Al-Basri, mengatakan, 'Wahai anak Adam, sesungguhnya Anda bagian dari hari, apabila satu hari berlalu, maka berlalu pulalah sebagian hidupmu.' Dengan makna seperti itu, seharusnyalah kalau pergantian tahun justru mesti kita manfaatkan untuk mengevaluasi (muhasabah) diri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT berfirman, "Wahai orang-orang beriman bertakwalah kalian kepada Allah, dan hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang telah disiapkan untuk hari esok (akhirat), dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa-apa yang kalian kerjakan." (QS 59: 18).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar bin Khathab menyatakan, 'Hitunglah diri kalian sebelum kalian dihitung. Timbanglah amal-amal kalian sebelum ditimbang. Bersiaplah untuk menghadapi hari yang amat dahsyat. Pada hari itu segala sesuatu yang ada pada diri kalian menjadi jelas, tidak ada yang tersembunyi.' Rasulullah SAW bersabda, 'Tidaklah melangkah kaki seorang anak Adam di hari kiamat sebelum ditanyakan kepadanya empat perkara: tentang umurnya untuk apa dihabiskan, tentang masa mudanya untuk apa digunakan, tentang hartanya dari mana diperoleh dan ke mana dihabiskan, dan tentang ilmunya untuk apa dimanfaatkan.' (HR Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Terkait dengan usia itu, Rasulullah menjelaskan, "Sebaik-baik manusia ialah yang panjang umurnya dan baik amal perbuatannya, sedangkan seburuk-buruk manusia adalah yang panjang umurnya tetapi buruk amal perbuatannya." (HR Tirmidzi). Pergantian tahun baru pada hakikatnya adalah mengingatkan manusia tentang pentingnya waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Imam Syahid Hasan Al-Banna berkata, 'Siapa yang mengetahui arti waktu berarti mengetahui arti kehidupan. Sebab, waktu adalah kehidupan itu sendiri.' Dengan begitu, orang-orang yang selalu menyia-nyiakan waktu dan umurnya adalah orang yang tidak memahami arti hidup.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ulama kharismatik, Dr Yusuf Qardhawi, dalam kitab Al-Waqtu fi Hayatil Muslim menjelaskan tentang tiga ciri waktu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama,&lt;/span&gt; waktu itu cepat berlalunya.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua,&lt;/span&gt; waktu yang berlalu tidak akan mungkin kembali lagi.&lt;br /&gt;Dan &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;ketiga&lt;/span&gt;, waktu itu adalah harta yang paling mahal bagi seorang Muslim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nah, kalau waktu itu cepat berlalu dan tidak mungkin akan kembali lagi, serta harta yang paling mahal, maka apakah kita pantas masih menyia-nyiakannya?&lt;br /&gt;Untuk itu, marilah pada kesempatan pergantian tahun ini kita mengevaluasi diri, ber-muhasabah. Karena, bisa jadi inilah tahun terakhir kita hidup di dunia yang fana ini. Allah SWT mengingatkan, "Apabila telah datang ajal mereka, maka mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak pula mendahulukannya." (QS 10: 49).&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-7767607596584595922?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/7767607596584595922/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/12/makna-pergantian-tahun.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/7767607596584595922'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/7767607596584595922'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/12/makna-pergantian-tahun.html' title='Makna Pergantian Tahun'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-3357246643314676883</id><published>2010-12-22T17:39:00.000-08:00</published><updated>2010-12-22T17:46:23.983-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='taujihat tarbawi'/><title type='text'>Ma’iyatullah dan Optimisme Kader Dakwah</title><content type='html'>Masih amat membekas di benak kita kisah tentang keteladanan seorang penggembala kambing di zaman Khalifah Umar ra. Inilah sosok pemuda yang akan terus menjadi ‘icon’ dakwah sepanjang masa. Betapa tidak, di tengah himpitan dan kerasnya pergulatan hidup ini tidak sekeping pun dari keimanannya, keyakinannya digadai, ditukar atau bahkan dijual demi mendapatkan kenikmatan hidup yang sesaat ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik dari kisah ini adalah kata kunci yang menjadi eye catching dari keseluruhan kisah ini yaitu “fa aina Allah?”. Kalimat sederhana itu mengalir dari lidah tegar penuh optimis seorang mukmin sejati. Kalimat “fa aina Allah”’ itu tidak dialamatkan untuk mencuri perhatian Khalifah Umar RA atau sengaja ditujukan untuk mencari muka –carmuk—seperti yang sering dipertontonkan kebanyakan masyarakat di negeri ini saat kunjungan para pejabat ke mereka. Dia tidak lahir begitu saja, akan tetapi kalimat spektakuler ini dilafalkan dari sanubari hati yang paling dalam karena mahabbah kepada Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah sikap kita dalam menjalani kehidupan dakwah ini. Sepanjang kultur “fa aina Allah” telah meresap dalam-dalam pada diri kita, inilah modal awal kita membangun optimisme dakwah. Bayangkan, seorang penggembala kambing yang hidup di tengah gurun, jauh dari pantauan siapa pun, tidak tersentuh teknologi tinggi –350 tahun lalu—mampu merekonstruksi ma’iyatullah begitu indah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sudah barang tentu tidak sulit bagi kita merekonstruksi dan menghayati nilai-nilai ma’iyatullah di era teknologi informasi sekarang ini. Allah SWT sudah pasti dan  selalu menyertai hamba-hamba-Nya yang beramal, bergerak, berjuang, dan berjihad demi kemuliaan Islam dan kaum muslimin. Keyakinan ini sudah selayaknya menghujam pada diri kita, “Intanshurullah yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum.” (Q.S. 47/Muhammad: 10); “Alladziina jaahadu fiina lanahdiyannahum subuulana wa innalaaha la ma’al muhsinin .”(Q.S. 29/Al-Ankabut: 29).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’iyatullah harus diartikan bahwa perjuangan menegakkan dien yang hak melalui jalan dakwah dengan ahdaf dan qararat di dalamnya pasti didukung, ditolong, dan dibela Allah SWT beserta bala tentaranya. Inilah fondasi dalam merangkai optimisme untuk memetik kemenangan demi kemenangan di jalan dakwah ilallah. Tidak boleh sedikit pun terbesit keputusasaan, pesimistis dan kehilangan harapan di dalam diri kita. Bahkan, sifat seperti ini dilarang Allah, “...walaa tahinuu fibthigho’il qoum…(Q.S. 4/An-Nisaa’: 104). Ma’iyatullah selalu berbuah ta’yidullah. Artinya, dukungan dan pertolongan berupa apa saja pasti Allah berikan kepada pembela, penolong, dan penegak dienullah ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak boleh ada keraguan bagi kita. Dakwah ini, cepat atau lambat, Allah SWT akan perlihatkan kemenangan itu dengan kita saksikan sendiri atau kita sudah bersaksi di hadapan Allah. Kesertaan dan penyertaan Allah dalam kehidupan ini mesti tercermin dalam setiap gerak-gerik kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu perlu muhafazhah atau penjagaan ma’iyatullah ini agar tetap berada di sekitar kita. Isyarat-isyarat kemenangan banyak Allah SWT paparkan di dalam Al-Qur’an al-karim, salah satunya adalah dalam surat Al-Anfaal: 45-47. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kamu beruntung. Dan taatlah kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berbantah-bantahan, yang menyebabkan kamu menjadi gentar dan hilang kekuatanmu dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar. Dan janganlah kamu menjadi seperti orang-orang yang keluar dari kampungnya dengan rasa angkuh dan dengan maksud ria kepada manusia serta menghalangi (orang) dari jalan Allah. Dan (ilmu) Allah meliputi apa yang mereka kerjakan. Dan ketika setan menjadikan mereka memandang baik pekerjaan mereka dan mengatakan, "Tidak ada seorang manusia pun yang dapat menang terhadap kamu pada hari ini, dan sesungguhnya saya ini adalah pelindungmu." Maka tatkala kedua pasukan itu telah dapat saling lihat melihat (berhadapan), setan itu balik ke belakang seraya berkata, "Sesungguhnya saya berlepas diri daripada kamu; sesungguhnya saya dapat melihat apa yang kamu sekalian tidak dapat melihat; sesungguhnya saya takut kepada Allah." Dan Allah sangat keras siksa-Nya."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah dhawabith yang akan senantiasa menjaga mai’yatullah kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Bersikap tsabat&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kehadiran, keterlibatan, dan keterikatan kita dalam dakwah ini adalah pilihan sekaligus iradah Allah. Artinya, kita secara sadar dan penuh kesadaran telah memilih jalan ini, untuk kemudian tekad suci ini bertemu dengan kemauan dan kehendak Allah. Jadilah dia sebuah ketegaran, keteguhan, tsabat yang tidak mudah diguncang oleh kekuatan sebesar apapun kecuali oleh sang Pemilik kekuatan itu sendiri. Inilah jamaah dakwah yang kita telah beriltizam di dalamnya. Kita patuhi amarannya, baik dalam susah ataupun senang, baik dalam keadaan lapang atau pun sempit. Bergerak, berputar bersama jamaah ini kemana pun dia bergerak menuju ridha Allah SWT dengan pencapaian ahdaf sebesar-besarnya hingga tegaknya khilafatullah fil ardh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Banyak-banyak dzikrullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap tsabat mengantarkan seseorang untuk senantiasa dzikrullah, mengingat perintah-Nya, mengingat larangan-Nya, membesarkan asma-Nya, menyucikan dzat-Nya dan memuji kebesaran-Nya. Kesibukan dzikrullah akan mengantarkan kita pada ma’unah Allah SWT. Bahkan, akan menenteramkan jiwa kita sebagai modal dalam menghadapi tantangan, rintangan, dan halangan di jalan dakwah, “...ala bidzkrillahi tathma’innal quluub…. Dzikrullah akan membawa pelakunya menjadi a’dho yang qonaah atas setiap keputusan dan kebijakan jamaah karena dia akan selalu husnudz-zhan dan berpikir positif. Sikap ini tentunya dilanjutkan dengan kreasi-kreasi dalam menjalankan amr jama’ah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Taat kepada Allah SWT dan kepada Rasul SAW.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Faktor kemenangan dakwah ditandai dengan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ma’rakah Badr menjadi monumen kemenangan tentara kebenaran dalam ketaatannya kepada Allah dan Rasul. Sebaliknya, di perang Uhud inflasi ketaatan telah berakibat kekalahan. Oleh karena itu, jangan pernah kita menganggap remeh, mudah, bahkan meninggalkan ketaatan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Tidak Berbantah-bantahan (adamut tanaju)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Prinsipnya, berbeda pendapat adalah biasa. Tapi, menjadi tidak biasa ketika perbedaan pendapat tersebut teraktualisasi menjadi friksi-friksi atau benturan-benturan kepentingan yang tidak lillah yang pada gilirannya akan berakhir dengan terbentuknya faksi-faksi, atau kelompok, atau golongan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah yang tengah terjadi dalam masyarakat negeri ini. Untuk itu, soliditas struktural dan personal menjadi hal mutlak dalam menjalankan dakwah. Bagaimana mungkin terbentuk wihdatul ummah sementara tidak terjadi wihdatul shufuf di kalangan pejuang Islam sendiri. Alhamdulillah, jama’ah kita diberkahi Allah SWT dengan orang-orang yang sadar akan hal tersebut sehingga matanatut tanzhimiyah terjadi di jamaah kita ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Bersabar&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT menyuruh kita agar bersabar dalam segala hal, termasuk dalam dakwah. Akan tetapi, yang jauh lebih penting agar kita tetap sabar dalam menghadapi musibah kehidupan seperti kematian orang yang kita cintai, jatuh ke lembah papa setelah mengalami hidup layak, atau perasaan takut bahwa hal tersebut akan menimpa kita. &lt;br /&gt;Ini diterangkan oleh Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat 155,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;"Dan sungguh Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berilah berita gembira kepada orang-orang yang sabar."&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kabar gembira buat orang yang bersabar, "Orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raaji'uun. (Sesungguhnya kami berasal dari Allah dan kepada-Nya kami akan kembali.)" (Q.S. 2/Al-Baqarah: 156).  &lt;br /&gt;Adapun  balasan bagi orang yang sabar adalah keberkahan, kesempurnaan, rahmat dan petunjuk dari Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabar sajalah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas."  (Q.S. 39/Az-Zumar: 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT akan mencukupkan pahala bagi orang yang sabar itu tanpa batas. Kemenangan Rasulullah SAW dalam perjuangan menegakkan Islam adalah buah dari kesabaran.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6. Tidak takabur (‘adamul bathr)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, patut kita syukuri bahwa jamaah dakwah kita yang telah menjadi institusi formal bernama Partai Keadilan (PK) Sejahtera banyak mendapat sambutan hangat yang luar biasa dari masyarakat. Tidak ketinggalan segudang julukan terhormat disematkan pada partai kita. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, sambutan, julukan, dan gelar tersebut sudah barang tentu tidak sampai menyebabkan kita menjadi besar kepala. Ingat, kekalahan kaum muslimin di perang Hunain justru di saat kaum muslimin berperang dalam jumlah pasukan yang besar&lt;br /&gt;Dan jika mereka mau berangkat, tentulah mereka menyiapkan persiapan untuk keberangkatan itu, tetapi Allah tidak menyukai keberangkatan mereka, maka Allah melemahkan keinginan mereka, dan dikatakan kepada mereka, "Tinggallah kamu bersama orang-orang yang tinggal itu." (Q.S. 9/At-Taubah: 46)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Penyebab kekalahan tersebut dikarenakan sifat ujub berlebihan. Yang terpenting bagi kita adalah menggiring sambutan, julukan dan gelar masyarakat tadi menjadi benar-benar memenangkan partai ini pada pemilu mendatang.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;7. Ikhlas (‘adamu riya’)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhlas, titik. Itu mungkin kata kunci yang akan menyelamatkan amal kita di akhirat kelak. Inilah sifat yang amat dikhawatiri para sahabat Rasul SAW. Termasuk kekhawatiran Abu Bakar Ash-Shiddiq tentang hal ini, sehingga beliau senantiasa berdoa dan berlindung dari sifat riya’ ini, “Allahumma inna naudzu bika min annusyrika bika syai’an na’lamuh wa nastaghfiruka lima laa na’lamuh.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, sejatinya mai’yatullah itu akan menumbuhsuburkan optimisme dalam diri kita dalam menyongsong kemenangan dakwah. Terlebih, ketika ma’iyatullah itu dibingkai dalam akhlak harakiyah yang tercermin dalam Surat Al-Anfal di atas. Akhirul kalam billahi taufiqi wal hidayah. In uriidu illal ishlahi mastatho’tum.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan asma Allah SWT semua alam ini diciptakan. Dengan asma-Nya kita selaku manusia mengetahui sesuatu serta dapat membaca dan menulis, lalu kepada-Nya kita akan kembali. Bagi manusia yang dikaruniai Allah SWT kesadaran, proses itu tidak boleh hanya terjadi secara fisik dan alami belaka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apalagi bagi kita yang telah dikaruniai keimanan. Dengan penuh kesadaran imani kita harus memulai setiap aktivitas dalam hidup ini dengan asma Allah SWT, kita menjalani keseharian dengan syariah Allah SWT dan mengarahkan keseluruhan hidup ini kepada husnul khatimah dan mardhatillah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila suatu saat kita lupa terhadap Allah SWT, menjalankan suatu kegiatan atau program dengan nama selain Allah SWT, tidak memastikan bahwa apa yang kita kerjakan telah sesuai dengan syariat-Nya, tidak menajamkan perspektif bahwa kerja kita insya Allah diridhai-Nya. Dalam situasi demikian kita tidak lebih baik dari posisi seorang anak yang melupakan orang tuanya. Atau, seorang mandataris suatu Negara yang lupa terhadap rakyatnya selaku pemberi mandat. Atau, sebuah benda yang jatuh lalu hancur karena lepas dari porosnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Nisyanullah, yakni lupa terhadap Allah mengakibatkan lupa diri. Lupa bahwa dirinya adalah seorang mukmin, seorang kader dakwah, bahkan seorang murabbi, lupa bahwa dirinya adalah seorang suami dan seorang bapak dari sejumlah anak yang mendambakan sentuhan kehalusan dan kasih sayang. Kemudian melakukan pelbagai penyimpangan (kefasikan) yang berakhir dengan kerugian dan kehancuran.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah SWT mengingatkan agar manusia jangan pernah sesaat pun lepas dari-Nya dan lupa terhadap-Nya karena akibatnya akan fatal. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan janganlah kamu sekalian seperti orang-orang yang lupa terhadap Allah sehingga karenanya mereka lupa terhadap diri mereka sendiri, mereka itulah orang-orang yang fasiq.” (Q.S 59/Al-Hasyr: 19). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di saat manusia lupa diri akibat lupa terhadap Allah tapi Allah tetap mengontrol dan menatapnya di manapun dan kapan saja. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan Dia tetap bersamamu (mengawasimu) dimanapun kamu berada dan Allah Maha menatap apa yang kamu kerjakan” (Q.S 57/Al Hadid: 4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kita selalu bersama Allah menghadirkan-Nya saat kita berpikir, berkarsa, dan berkarya, bahkan waktu kita marah sekalipun. Maka Dia niscaya menyertai kita dengan bimbingan-Nya, lindungan-Nya, pertolongan-Nya, rahmat-Nya, dan ampunan-Nya saat kita salah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ma’iyatullah telah diberikan kepada Rasul-Nya SAW dalam situasi yang sulit. Tetapi bukan secara gratis tanpa investasi ‘amal jihadi’. Adalah Siti Khadijah RA sebagai saksi atas kepatutan ma’iyatullah untuk Rasul-Nya. Sebagaimana penuturannya, &lt;br /&gt;“Demi Allah, Dia tidak akan pernah menyia-nyiakan engkau. Sebab engkau gemar bersilaturahim, suka menolong orang lemah, membela orang yang dizhalimi, menyantuni &lt;br /&gt;orang tak punya, serta tampil membela kebenaran”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebuah Hadits Qudsi riwayat Syaikhani menyebutkan bahwa Allah berfirman, “Tidak ada amal hamba-Ku yang lebih Aku sukai kecuali menjalankan apa-apa yang telah aku perintahkan. Dan ketika hamba-Ku tidak henti-hentinya mendekat kepada-Ku dengan amalan sunnat sehingga Aku mencintainya. Apabila Aku sudah mencintainya maka Aku yang menjadi (menjaga) telinganya yang dengan telinga itu ia mendengar, Aku menjadi matanya yang dengan mata itu ia melihat, Aku menjadi tangannya yang dengannya ia memukul dan Aku menjadi kakinya yang dengannya ia melangkah. Jika hamba-Ku mendekat kepada-Ku sejengkal niscaya Aku mendekat kepadanya sehasta, jika ia mendekat lagi kepada-Ku sehasta niscaya Aku mendekat kepadanya sedepa dan jika ia datang kepada-Ku dengan berjalan maka Aku akan datang kepadanya sambil berlari”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak ada imajinasi yang paling baik dan indah daripada memikirkan ciptaan Allah SWT dan ayat-ayatnya. Tidak ada kata yang lebih indah dari menyebut asma Allah SWT, laa ilaaha illallah, subhanallah atau astaghfirullah. Tidak ada nama yang lebih baik dari Abdullah. Tidak ada sumber kekuatan dan energi yang lebih dahsyat daripada laa haula wala quwwata illa billah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kesertaan (ma’iyyah) Allah SWT menuntut kita terlebih dulu memposisikan diri secara tepat. Bukan semata-mata sebagai makhluk Allah SWT, tetapi sebagai hamba bahkan junud (prajurit-Nya) yang bersiap dan sigap untuk melaksanakan setiap perintah-Nya dalam kerangka mewujudkan Islam kaaffah dalam kehidupan pribadi, keluarga, kemasyarakatan, kebangsaan dan antarbangsa. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika bukan sebagai prajurit Allah SWT maka posisi manusia –disadari atau tidak- adalah sebagai prajurit iblis (junudu iblis). Kita harus memposisikan diri sebagai prajurit Allah SWT di setiap lini kehidupan dan setiap jengkal dari bumi Allah ini. Insya Allah Dia akan menyerahkannya kepada hamba-hamba-Nya yang shalih sebagai bagian dari hasil perjuangan, melalui istikhlaf dan tamkin sebagai mekanisme legal dalam agama Allah. Kita harus memastikan bahwa komunitas kita adalah hizbullah. Sebab, hanya komunitas inilah yang pantas diberikan kemenangan sejati oleh-Nya.&lt;br /&gt;Al-Imam As-Syahid pernah mengajukan suatu pertanyaan besar, “Apa modal kita untuk meraih kemenangan agama ini? Jawabannya adalah modal dan bekal yang sama yang pernah dimiliki as-salafus shalih di bawah pimpinan Muhammad SAW, Yaitu lima segi keimanan yang meliputi: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Pertama, kemenangan itu akan diraih sebagai hadiah dari Allah SWT dengan all out membela agama-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kedua, kemenangan itu dapat diraih melalui keampuhan minhaj Islam yang kita anut. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketiga, kemenangan itu dapat diraih dengan kekuatan ukhuwwah yang kita kuduskan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keempat, kemenangan itu merupakan buah keyakinan kita akan besarnya imbalan serta pahala perjuangan di jalan Allah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kelima, keimanan bahwa kita telah memilih jama’ah yang tepat sesuai kodratnya untuk menyelamatkan dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita kokohkan keimanan tentang kelima prinsip tersebut dengan kesabaran dalam berjama’ah yang berusaha merealisasikan minhajun nubuwwah, jalan yang ditempuh Rasulullah SAW dan sahabat beliau dalam kesolidan ukhuwah demi membela dienullah. Kita pun harus berbuat yang ihsan dalam kerangka ‘amal jama’I, bukan asal berbuat apalagi saling mengandalkan. Sesudah itu, kita bertawakkal kepada Allah SWT dan menyerahkan kepadaNya untuk menentukan saat dan bentuk hasil perjuangan yang akan dicapai/diberikan. Sebab, Allah SWT beserta orang-orang yang sabar. Dia bersama orang-orang yang berbuat ihsan. Dan mencintai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-3357246643314676883?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/3357246643314676883/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/12/maiyatullah-dan-optimisme-kader-dakwah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/3357246643314676883'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/3357246643314676883'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/12/maiyatullah-dan-optimisme-kader-dakwah.html' title='Ma’iyatullah dan Optimisme Kader Dakwah'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-5448161107650874173</id><published>2010-12-09T19:33:00.000-08:00</published><updated>2010-12-09T19:39:51.567-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='taujihat tarbawi'/><title type='text'>Urgensi Dan Kekuatan Do'a Dalam Da'wah Dan Jihad</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwati fillah …&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Alhamdulillah, pada kesempatan kali ini, Allah swt mempertemukan kita dalam suasana tawashaw bil haqq wa tawashaw bish-shabr. Suasana saling berwasiat dengan kebenaran dan saling berwasiat dengan kesabaran. Juga dalam suasana tawashaw bil marhamah, suasana saling berwasiat dengan kasih sayang. Suasana tafaqquh fiddin, suasana menambah dan memperdalam pemahaman kita terhadap agama kita. Semoga Allah swt memberikan manfaat dan keberkahan dalam pertemuan ini. Dan semoga kita semua senantiasa dalam lindungan, ‘inayah dan ri’ayah-Nya. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan dan panutan kita Muhammad saw. Juga kepada seluruh keluarga beliau, sahabat beliau, dan semua orang yang mengikuti sunnah dan manhaj beliau, berjihad di jalannya, menghidupkan sunnahnya dan menyebarkannya. Dan semoga kita semua termasuk orang-orang yang mendapatkan bagian dari shalawat dan salam tadi. Amin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwati fillah …&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering mendengar ungkapan yang mengatakan: ad-du’a-u silahul mukmin (do’a adalah senjata orang beriman). Ungkapan ini, bukan merupakan hadits nabi saw. Namun, banyak ayat Al Qur’an dan juga sunnah nabi saw yang shahih menjelaskan bahwa ungkapan itu secara makna adalah ungkapan yang shahih. Oleh karena itu, ikhwati fillah, jangan sampai kita melalaikan senjata yang satu ini. Karena tidak semua orang mampu menggunakannya kecuali orang-orang beriman..&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak ayat-ayat Al Qur’an menjelaskan kepada kita, betapa do’a adalah kekuatan yang ampuh dan dahsyat. Doa yang dipergunakan oleh para anbiya’ wal mursalin dalam perjalanan da’wah dan jihad mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita ingat, kisah tentang nabiyullah Nuh ‘alaihis-salam melakukan jihad da’awi siang dan malam secara sembunyi dan terang-terangan. Jihad yang dilakukan selama sembilan ratus lima puluh tahun. Ternyata masyarakat yang menerima da’wah beliau hanya sedikit saja. Menghadapi kondisi demikian beliau memanjatkan do’a kepada Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Nuh berkata: "Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan seorangpun di antara orang-orang kafir itu tinggal di atas bumi. Sesungguhnya jika Engkau biarkan mereka tinggal, niscaya mereka akan menyesatkan hamba-hamba-Mu, dan mereka tidak akan melahirkan selain anak yang berbuat ma`siat lagi sangat kafir.&lt;/span&gt; (QS Nuh: 26 – 27)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, kemudian akhirnya kita ketahui ternyata Allah swt memang membinasakan seluruh orang-orang kafir itu. Sesuai do’a yang dipanjatkan oleh nabi Nuh ‘alaihissalam.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita juga teringat tentang do’a nabiyullah Musa ‘alaihis-salam kepada Allah SWT yang ditujukan untuk Fir’aun dan bala tentaranya. Karena mereka sudah benar-benar melampaui batas dalam kecongkakan dan kepongahan dengan mengandalkan berbagai macam kekuatan duniawi yang dimilikinya. Saat itu nabiyullah Musa ‘alaihis-salam berdo’a:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Musa berkata: "Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau telah memberi kepada Fir`aun dan pemuka-pemuka kaumnya perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, ya Tuhan kami, akibatnya mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, maka mereka tidak beriman hingga mereka melihat siksan yang pedih”.&lt;/span&gt; (QS Yunus: 88)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian selanjutnya kita ketahui apa yang menimpa Fir’aun dan bala tentaranya, mereka semua ditenggelamkan Allah swt di lautan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semua kisah tersebut di atas adalah contoh do’a-do’a para nabi kepada Allah swt. Doa agar Allah menghancurkan orang-orang yang melampaui batas dalam melakukan pembangkangan terhadap ajaran Allah swt, para nabi dan rasul-Nya. Terdapat pula contoh lain, yaitu do’a para nabi yang mengharapkan agar kaumnya mau menerima da’wahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu diantaranya adalah do’a nabiyullah Muhammad saw. Doa ketika da’wah beliau kepada orang-orang Thaif disambut dengan lemparan batu dan tuduhan-tuduhan yang menyakitkan. Saat itu beliau saw memanjatkan do’a kepada Allah swt dengan mengatakan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اهْدِ قَوْمِيْ فَإِنَّهُمْ لاَ يَعْلَمُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, berikanlah petunjuk dan hidayah kepada mereka, sebab mereka tidak mengetahui&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah kurang lebih sepuluh tahun kemudian seluruh penduduk Thaif menyatakan masuk Islam, berarti ada jarak kurang lebih 10 tahun antara do’a nabi Muhammad saw dengan kenyataan mereka menerima hidayah Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yang menarik, saat terjadi gelombang massal pemurtadan pada masa Khalifah Abu Bakr As-Shiddiq di Jazirah Arab, orang-orang Thaif tidak termasuk golongan yang murtad. Pemimpin mereka berkata kepada kaumnya: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai kaumku, janganlah kalian murtad, sebab kalian adalah yang paling akhir masuk Islam, maka janganlah kalian menjadi yang pertama dalam kemurtadan!”&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwati fillah …&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a juga merupakan rujukan terakhir orang-orang beriman saat mereka menghadapi berbagai kesulitan dan tantangan besar. Khususnya saat mereka berjihad di jalan Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita bisa renungi bagaimana saat pasukan Thalut berhadapan dengan pasukan Jalut yang besar dan dahsyat. Saat itu mujahidin mukminin melihat betapa besar dan hebatnya kekuatan pasukan Jalut, maka mereka memanjatkan do’a kepada Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Tatkala mereka nampak oleh Jalut dan tentaranya, mereka pun (Thalut dan tentaranya) berdo`a: "Ya Tuhan kami, tuangkanlah kesabaran atas diri kami, dan kokohkanlah pendirian kami dan tolonglah kami terhadap orang-orang kafir"&lt;/span&gt;. (QS Al Baqarah: 250)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka, do’a itu membuat Allah swt memberikan kemenangan-Nya kepada mereka. Sekalipun jumlah dan peralatan mereka sangat tidak sebanding dengan apa yang dimiliki pasukan Jalut, sebagaimana tersebut pada ayat setelahnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Do’a yang mirip dengan do’a pasukan Thalut diatas adalah do’a nabi Muhammad saw ketika menghadapi pasukan yang menjadi kekuatan utama musyrik Makkah, di bawah pimpinan Abu Jahal cs. Saat itu nabi Muhammad saw terus berdo’a kepada Allah swt tiada henti-hentinya, begitu khusyu’ dan seriusnya, hingga selendang (baju penutup tubuh bagian atas) beliau terjatuh. Beliau memanjatkan do’a:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللّهُمّ انْجِزْ لِي مَا وَعَدْتَني، اللّهُمّ آتِنِيْ مَا وَعَدْتَنِي اللّهُمّ إِنّكَ إنْ تَهْلِكْ هَذِهِ الْعِصَابَةُ مِنْ أهْلِ الإسْلاَمِ لاَ تُعْبَدُ فِي اْلأَرْضِ [متفق عليه]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ya Allah, penuhi dan wujudkan apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah, berikanlah kepadaku apa yang telah Engkau janjikan kepadaku, ya Allah, jika golongan Islam ini binasa, niscaya Engkau tidak akan disembah lagi di atas bumi ini &lt;/span&gt;(HR Muttafaqun ‘alaih).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan sebagaimana diabadikan oleh sejarah, pada hari itu Allah swt menghancurkan kekuatan utama musyrik Makkah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwati fillah …&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Da’wah dan jihad kita sekarang ini sedang menghadapi rintangan dan tantangan besar dan dahsyat. Bukan hanya dalam skala lokal, tetapi juga regional dan bahkan internasional. Oleh karena itu ikhwati fillah, panjatkanlah do’a kepada Allah swt untuk kejayaan Islam, da’wah Islam dan jihad Islami. Dan jangan lupa panjatkan pula do’a untuk hancurnya kebathilan, pendukung kebathilan dan antek-anteknya. Ingat, untuk berdo’a optimalkan waktu-waktu mustajabah (waktu-waktu yang lebih dekat kepada terkabulkannya do’a). Khususnya di sepertiga malam terakhir saat banyak manusia terlelap tidur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, semoga kita termasuk orang-orang yang tidak terhalangi untuk mendapatkan pahala para mujahidin dan da’i, amin.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-5448161107650874173?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/5448161107650874173/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/12/urgensi-dan-kekuatan-doa-dalam-dawah.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/5448161107650874173'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/5448161107650874173'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/12/urgensi-dan-kekuatan-doa-dalam-dawah.html' title='Urgensi Dan Kekuatan Do&apos;a Dalam Da&apos;wah Dan Jihad'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-8814848715393283117</id><published>2010-12-02T18:18:00.000-08:00</published><updated>2010-12-02T18:29:46.200-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlaq'/><title type='text'>Penyakit Lisan Terburuk dan Tercela:  Ghibah dan Namimah</title><content type='html'>بسم الله، الحمد لله، والصلاة والسلام على رسول الله، وعلى آله وصحبه ومن تبع هداه ووالاه، أما بعد:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tiada yang berhak memiliki pujian di alam semesta ini selain Allah Robb, Penguasa dan Pemilik otoritas di alam semesta ini. Kita haturkan shalawat dan salam kepada Rasul Pembawa rahmat, yang telah menunaikan tugas risalah, melaksanakan amanat kerasulan membawa umat manusia ke gerbang kebahagiaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwah fillah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Relakah kalau Antum jadi sasaran celaan orang lain? Maukah Antum kalau kakak atau adik kandung Antum menjadi buah bibir masyarakat terhadap kekeliruan yang dilakukannya? Ridhakah Antum kalau ada orang membuka aib (cela) diri Antum di depan orang banyak? Kalau Antum tidak suka itu semua, semua orang pun tidak menyukainya, iya bukan???&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itulah, Allah swt Yang Maha Sayang kepada hamba-hamba-Nya yang setia beriman, memperingatkan sejak awal akan bahaya ghibah (menggunjing), membuka aib seseorang. Peringatan Allah diungkapkan dengan bahasa komunikasi yang sangat efektif, dengan cara memberikan perumpamaan orang yang menggunjing saudaranya seperti menyantap daging segar saudaranya yang sudah menjadi mayit itu. Artinya kalau memakan daging mayit tidak disukai, maka mengapa orang suka membicarakan keburukan dan aib saudaranya yang jauh dari pengetahuannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Akhi fillah rahimakumullah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Apa maksud Allah swt memulai ayat larangan ghibah dengan seruan kepada orang beriman? Apa artinya Allah mengaitkan perbuatan tercela itu dengan keimanan? Yaa ayyulladziina aamanuu (wahai orang-orang beriman…). Demikian Allah sangat sayang dan penih mahabbah menyeru, mengingatkan dan mentaujih kita orang beriman. Karena Iman dan sifat tercela itu tidak akan mungkin bersatu, ibarat air dengan minyak, tidak logis muslim apalagi dai mendekati sesuatu yang dicela Allah swt dan rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كل المسلم على المسلم حرام دمه وماله وعرضه (رواه مسلم)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Setiap muslim terhadap muslim lainnya haram, darahnya, hartanya dan kehormatan dirinya&lt;/span&gt; (H.R. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ikhwah fillah ……-yang disayangi Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Karena ghibah merupakan larangan Allah, rambu-rambu pergaulan dengan sesama, lebih jauh lagi ia merupakan arahan Ilahi bagi orang beriman agar menjauhi sifat tercela itu, maka pelanggaran terhadap larangan dan peringatan itupun berakibat kepada kenistaan pelakunya. Dengarkan kisah perjalanan Isra Mi’raj Rasulullah saw yang sempat diperlihatkan beberapa pemandangan yang mengerikan, untuk lebih meyakinkan diri dan umatnya terhadap kejadian yang menimpa itu, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Pada malam perjalanan Isra Mi’raj, aku diperlihatkan orang-orang yang mencakar-cakar mukanya dengan kuku-kuku tajam mereka, aku bertanya: Wahai Jibril siapa mereka itu? Jibril a.s menjawab: Mereka adalah orang-orang yang menggunjing orang lain dan membuka aib (kehormatan) dirinya”&lt;/span&gt;. (H.R. Abu Daud dengan sanad yang sangat shahih). Semoga Allah melindungi kita dari azab dan siksa-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ghibah bukan merupakan kaba’ir (dosa besar) tetapi ternyata melakukannya menjadi factor penyebab menimpanya azab kubur kepada pelakunya. Sahabat Jabir berkisah: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Ketika kami bersama dengan Rasulullah saw, kami melewati 2 buah makam, seraya Rasulullah saw bersabda: Mereka berdua sedang disiksa di kubur mereka, bukan karena dosa besar yang dilakukannya, tetapi yang satu karena menggunjing orang lain, sedangkan yang lain tidak bersuci dari kencingnya”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya pula Rasulullah saw memberikan peringatan yang keras, sampai-sampai ia menyampaikannya dalam sebuah khutbah dengan suara yang menggelegar terdengar wanita-wanita di rumah mereka, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Wahai orang-orang yang percaya kepada lisannya, tapi tidak mempercayai hati nuraninya, jangan kalian menggunjing saudaramu sesama muslim, jangan pula membuka auratnya, karena siapa yang membuka aurat saudaranya niscaya Allah akan membuka aib dirinya, barang siapa yang Allah buka aib dirinya, Dia akan mencela dirinya walau di dalam rumahnya”&lt;/span&gt; (H.R. Ibnu Abid-Dunya, Abu Daud dari hadits Abu Burzah dengan sanad yang jayyid).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Abbas menyerukan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Siapa yang berkeinginan menyebut aib temannya, maka sebutkanlah terlebih dahulu menyebut aib dirinya”. Abu Hurairah pun berkata, “Sungguh mengherankan, ada orang dapat melihat kotoran kecil di mata saudaranya, tetapi tidak dapat melihat kotoran besar di matanya sendiri.&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagaimana al-Hasan menegaskan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ikhwah fillah, Antum tidak akan memperoleh lezat dan esensi iman, sampai Antum mampu tidak membuka aib temanmu dengan sebuah aib yang ada pada diri Antum, sampai Antum juga mampu memperbaiki aib itu dimulai dari dirimu. Jika itu dapat Antum lakukan, niscaya Antum akan terbiasa menyibukkan diri dengan perbaikan diri Antum, dan hal itu yang disukai Allah”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Ikhwah fillah ……-yang disayangi Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Adalah bukti kasih saying Rasul qudwah kita, ketika memberikan arahan tentang bahaya lisan, bahwa kesempurnaan Islam seseorang dilihat dari kebersihan lisan dan tangannya dari bentuk-bentuk gangguan terhadap saudaranya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده (رواه مسلم)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Orang muslim adalah yang orang muslim lainnya selamat dari gangguan lisan dan tangannya &lt;/span&gt;(H.R. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di antara bentuk gangguan lisan itu adalah “namimah” (‘mengadu domba’), seseorang berkata kepada kawannya, bahwa si Fulan telah mengatakan sesuatu tentang dirimu. Sehingga hal tersebut membuat kawannya marah dan tidak suka kepada si Fulan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun bentuk namimah tidak sebatas provokasi, tetapi menyebarkan rahasia seseorang juga termasuk namimah, atau memberitahukan orang sesuatu yang tidak disukainya. Kondisi seperti ini hendaknya disikapi dengan sikap yang bijak, yakni tidak menambah penyebaran berita itu, tetapi sebaiknya ia mendiamkan, kecuali pemberitaan sesuatu yang ada manfaat dan maslahatnya bagi muslim atau untuk mencegah bahayanya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwah fillah yang menyayangi dan disayangi Allah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Ketahuilah, bahwa setiap yang dilarang dalam Islam, memberikan manfaat besar bagi muslim, baik dalam kehidupan individu maupun kehidupan masyarakat. Ternyata bahaya namimah tidak hanya untuk pribadi pelakunya, tetapi dapat memberikan dampak yang sangat luas dalam kehidupan berbangsa dan bermasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karenanya Allah swt dan Rasul-Nya memberikan ancaman-ancaman berat bagi para pelaku namimah:&lt;br /&gt;1. “Jangan kamu taati orang-orang yang mendustakan agama….(yaitu) yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah” (Q.S. Al-Qalam: 11).&lt;br /&gt;2. “Neraka wail bagi pengumpat atau penyebar fitnah dan pencela” (Q.S. Al-Humazah: 1).&lt;br /&gt;3. “…akan masuk neraka…….pembawa kayu bakar” (Q.S. Al-Masad: 2-4), si pembawa kayu bakar itu dahulunya orang yang menyebarkan fitnah. Sebagaimana 2 wanita yang berkhianat kepada suaminya yang Nabi itu, mereka adalah wanita-wanita yang menyebarkan fitnah dan aib suaminya yang salih-salih itu (baca surat at-Tahrim).&lt;br /&gt;4. “Tidak akan masuk surga orang yang melakukan namimah” (H.R. Imam Bukhari Muslim).&lt;br /&gt;5. “Orang yang paling dicintai Allah adalah orang-orang yang berupaya melakukan ta’lif (menjadi golongan perekat), sedangkan yang paling dibenci Allah adalah orang-orang yang menyebar fitnah, yang memecah persatuan saudaranya, mencari-cari kesalahan orang shalih” (H.R. Imam Thabrani).&lt;br /&gt;6. “Maukah kalian aku beritahu orang yang paling buruk di antara kalian? Dia adalah orang yang berjalan berkeliling melakukan namimah, merusak persaudaraan orang-orang yang saling bercinta dan yang mencari kesalahan orang” (H.R. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwah fillah ……-yang disayangi Allah SWT&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;Setiap kita pasti tidak suka difitnah, sebagaimana kita juga tidak suka ayah atau ibu atau saudara kita mendapat fitnah; karena itulah orang lain juga tidak senang difitnah dan dibicarakan aib diri mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk itu setiap ada berita kita dengar atau lihat, hendaknya diklarifikasi di-tabayyun, jika tidak, maka akan berakibat fatal. Tadabburi pesan Allah swt:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang-orang beriman, jika datang kepadamu orang fasiq dengan membawa sebuah berita, hendaknya diklarifikasi (tabayyun), karena khawatir menimpa suatu kaum dengan cara yang ‘bodoh’ yang akan mengakibatkan kalian menyesal. (Q.S. Al-Hujurat: 6)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Yakinlah, bahwa bimbingan dan arahan Allah dan Rasul-Nya pasti memberikan pencerahan dan kesejahteraan hidup, pada kehidupan individu, keluarga, masyarakat dan hidup bernegara serta kebaikan bagi peradaban manusia. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُوْا اللهَ لِيْ وَلَكُمْ&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-8814848715393283117?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/8814848715393283117/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/12/penyakit-lisan-terburuk-dan-tercela.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/8814848715393283117'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/8814848715393283117'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/12/penyakit-lisan-terburuk-dan-tercela.html' title='Penyakit Lisan Terburuk dan Tercela:  Ghibah dan Namimah'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-5097351976308908790</id><published>2010-11-10T17:36:00.001-08:00</published><updated>2010-11-11T20:02:26.354-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idhul Adha'/><title type='text'>Membangung Kekuatan Umat</title><content type='html'>&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;MEMBANGUN KEKUATAN UMAT&lt;br /&gt;Oleh: Drs. H. Ahmad Yani&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر &lt;br /&gt;اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.&lt;br /&gt;Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Puji dan syukur kita panjatkan kehadirat Allah swt yang telah memberikan kenikmatan kepada kita dalam jumlah yang begitu banyak sehingga kita bisa hadir pada pagi ini dalam pelaksanaan shalat Idul Adha. Kehadiran kita pagi ini bersamaan dengan kehadiran sekitar tiga sampai empat juta jamaah haji dari seluruh dunia yang sedang menyelesaikan pelaksanaan ibadah haji di Tanah Suci. Semua ini karena nikmat terbesar yang diberikan Allah swt kepada kita, yakni nikmat iman dan Islam.&lt;br /&gt;Shalawat dan salah semoga selalu tercurah kepada Nabi kita Muhammad saw, beserta keluarga, sahabat dan para pengikuti setia serta para penerus dakwahnya hingga hari kiamat nanti.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.&lt;br /&gt;Kaum Muslimin Yang Berbahagia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Adha yang kita rayakan dari tahun ke tahun selalu memberi makna dan pelajaran yang amat berharga bagi kita, baik secara pribadi dan keluarga maupun sebagai umat dan bangsa. Lebih dari 200.000 jamaah haji kita dari Indonesia bersama dengan sekitar 3 juta jamaah haji dari seluruh dunia selalu kita doakan agar dapat melaksanakan ibadah haji dengan sebaik-baiknya dan menjadi haji yang mabrur, karena haji yang mabrur pasti memberi pengaruh positif dalam kehidupan ini. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Idul Adha tahun ini kita masuki dalam suasana duka bangsa Indonesia yang dilanda oleh berbagai musibah yang datang silih berganti, mulai dari banjir, tanah longsor, gempa bumi sampai gunung meletus, belum lagi dengan berbagai persoalan kehidupan yang begitu banyak, baik di desa-desa terpencil maupun di perkotaan, satu persoalan belum terpecahkan sudah muncul lagi persoalan berikutnya. Oleh karena itu, mengambil hikmah dari ibadah haji dan qurban serta meneladani kehidupan Nabi Ibrahim as dan keluarganya menjadi sesuatu yang amat penting. Paling tidak, ada lima kekuatan yang harus kita bangun pada umat kita ini untuk bisa mengatasi persoalan dan membangun kehidupan yang lebih baik pada masa-masa mendatang. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt;, kekuatan aqidah, iman atau tauhid kepada Allah swt. Nabi Ibrahim as telah mencontohkan kepada kita bagaimana aqidah begitu melekat pada jiwanya sehingga ia berlepas diri dari siapapun dari kemusyrikan, termasuk orang tuanya yang tidak mau bertauhid kepada Allah swt sebagaimana disebutkan dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;قَدْ كَانَتْ لَكُمْ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ فِي إِبْرَاهِيمَ وَالَّذِينَ مَعَهُ إِذْ قَالُوا لِقَوْمِهِمْ إِنَّا بُرَآءُ مِنْكُمْ وَمِمَّا تَعْبُدُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ كَفَرْنَا بِكُمْ وَبَدَا بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمُ الْعَدَاوَةُ وَالْبَغْضَاءُ أَبَدًا حَتَّى تُؤْمِنُوا بِاللَّهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya Telah ada suri teladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dengan Dia; ketika mereka Berkata kepada kaum mereka: "Sesungguhnya kami berlepas diri daripada kamu dari daripada apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari (kekafiran)mu dan Telah nyata antara kami dan kamu permusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah saja&lt;/span&gt; (QS Al Mumtahanah [60]:4).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Salah satu dampak positif dari aqidah yang kuat akan membuat seorang mukmin memiliki prinsip yang tegas dalam setiap keadaan, dia tidak lupa diri pada saat senang, baik senang karena harta, jabatan, popularitas, pengikut yang banyak maupun kekuatan jasmani dan iapun tidak putus asa pada saat mengalami penderitaan, baik karena sakit, bencana alam, kekurangan harta maupun berbagai ancaman yang tidak menyenangkan, inilah yang membuatnya menjadi manusia yang mengagumkan, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَجَبًا ِلأَمْرِ الْمُؤْمِنِ اِنَّ اَمْرَهُ كُلَّهُ لَخَيْرٌ وَلَيْسَ ذَالِكَ ِلأَحَدٍ اِلاَّ لِلْمُؤْمِنِ ِانْ اَصَبَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ وَاِنْ اَصَبَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Menakjubkan urusan orang beriman, sesungguhnya semua urusannya baik baginya dan tidak ada yang demikian itu bagi seseorang selain bagi seorang mu’min. Kalau ia memperoleh kesenangan ia bersyukur dan itu baik baginya. Kalau ia tertimpa kesusahan, ia sabar dan itu baik baginya&lt;/span&gt; (HR. Ahmad dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan umat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt; yang harus kita bangun adalah akhlak yang mulia. Kondisi akhlak masyarakat kita sekarang kita akui masih amat memprihatinkan, bila ini terus berlangsung, cepat atau lambat yang lemah dan hancur bukan hanya diri dan keluarga, tapi juga umat dan bangsa. Seorang ulama Mesir yang wafat tahun 1932 M yang bernama Syauqi Bey, menyatakan :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّماَ الأُمَمُ الأَخْلاَقُ ماَ بَقِيَتْ وَإِنْ هُمُوْ ذَهَبَتْ أَخْلاَقُهُمْ ذَهَبُوْا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Suatu bangsa akan kekal selama berakhlak, bila akhlak telah lenyap, lenyaplah bangsa itu.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu melanjutkan misi Nabi Muhammad saw memperbaiki akhlak menjadi sesuatu yang amat penting. Profil Nabi Ibrahim dan keluarganya serta dari ibadah haji yang harus ditunaikan oleh kaum muslimin sekali seumur hidupnya adalah menjauhi segala bentuk keburukan dan melakukan segala bentuk kebaikan. Kesimpulan ini kita ambil dari larangan melakukan keburukan bagi jamaah haji, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلا رَفَثَ وَلا فُسُوقَ وَلا جِدَالَ فِي الْحَجِّ وَمَا تَفْعَلُوا مِنْ خَيْرٍ يَعْلَمْهُ اللَّهُ وَتَزَوَّدُوا فَإِنَّ خَيْرَ الزَّادِ التَّقْوَى وَاتَّقُونِ يَا أُولِي الألْبَابِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;(Musim haji) adalah beberapa bulan yang dimaklumi, barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh mengerjakan rafats (perkatan maupun perbuatan yang bersifat seksual), berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. Dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Dan berbekallah kamu, sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah taqwa, dan bertaqwalah kepada-Ku hai orang-orang yang berakal&lt;/span&gt; (QS Al Baqarah [2]:197)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhlak mulia tercermin dari jawaban Ismail as yang meskipun begitu siap untuk melaksanakan perintah Allah swt berupa penyembelihan dirinya, namun ia tidak mengklaim dirinya sebagai orang yang paling baik atau paling sabar, tapi ia merasa hanyalah bagian dari orang-orang yang sabar karena generasi terdahulu juga sudah banyak yang sabar, Allah swt menceritakan masalah ini dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَلَمَّا بَلَغَ مَعَهُ السَّعْيَ قَالَ يَا بُنَيَّ إِنِّي أَرَى فِي الْمَنَامِ أَنِّي أَذْبَحُكَ فَانْظُرْ مَاذَا تَرَى قَالَ يَا أَبَتِ افْعَلْ مَا تُؤْمَرُ سَتَجِدُنِي إِنْ شَاءَ اللَّهُ مِنَ الصَّابِرِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;.Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: "Hai anakku Sesungguhnya Aku melihat dalam mimpi bahwa Aku menyembelihmu. Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab: "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar".&lt;/span&gt;(QS Ash Shaffat [37]:102).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3X Walillahilhamdu.&lt;br /&gt;Jamaah Shalat Idul Adha Yang Dimuliakan Allah.&lt;br /&gt;&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga&lt;/span&gt;, kekuatan umat yang harus kita bangun adalah kekuatan ilmu dalam arti umat ini harus menguasai ilmu pengetahuan, bukan mencari ilmu sekadar untuk mendapat gelar kesarjanaan, bahkan yang lebih tragis adalah gelar kesarjanaan sudah disandang, tapi tidak ada ilmu yang dikuasai dan diamalkanya. Oleh karena itu menuntut ilmu tidak hanya diwajibkan, tapi diberi keutamaan yang amat besar dan banyak. Generasi Ibrahim adalah generasi yang cinta akan ilmu, karena itu ia mencarinya, dimanapun ilmu itu berada, tanpa ada perasaan puas dalam mendapatkannya, bahkan ilmu yang didapatnya menyatu kedalam jiwa, sikap dan tingkah lakunya, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَاذْكُرْ عِبَادَنَا إبْرَاهِيمَ وَإِسْحَاقَ وَيَعْقُوبَ أُولِي الأيْدِي وَالأبْصَارِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan ingatlah hamba-hamba Kami: Ibrahim, Ishaq dan Ya'qub yang mempunyai perbuatan-perbuatan yang besar dan ilmu-ilmu yang Tinggi&lt;/span&gt; (QS Shad [38]:45). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, harus kita sadari bahwa amat sedikit ilmu yang kita kuasai, namun yang amat disayangkan adalah begitu banyak orang yang malas menuntut ilmu, apalagi ilmu agama Islam, padahal ajaran Islam harus kita amalkan dan bagaimana mungkin kita akan mengamalkannya bila memahami saja tidak, akibatnya banyak orang yang hanya ikut-ikutan (taklid) dalam beramal, padahal ini merupakan sesuatu yang tidak dibenarkan, Allah swt berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلا تَقْفُ مَا لَيْسَ لَكَ بِهِ عِلْمٌ إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.&lt;/span&gt; (QS Al Isra [17]:36).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3X Walillahil Hamdu.&lt;br /&gt;Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat&lt;/span&gt;, kekuatan umat yang harus kita bangun adalah ukhuwwah Islamiyah. Dalam ibadah haji, kaum muslimin dari seluruh dunia dengan berbagai latar belakang yang berbeda bisa bertemu, berkumpul dan beribadah di tempat yang sama, bahkan dengan pakaian yang sama. Ini semua seharusnya sudah cukup untuk memberi pelajaran betapa persaudaraan antar sesama kaum muslimin memang harus kita bangun. Bila ukhuwah Islamiyah terwujud dalam kehidupan kita, maka sebagai umat kita punya kekuatan dan kewibawaan, berbagai persoalan umat bisa dipecahkan, kualitas umat bisa diperbaiki dan ditingkatkan serta musuh-musuh Islam bisa dihadapi, bahkan mereka akan takut melihat kekuatan umat yang luar biasa. Tapi karena ukhuwah umat belum terwujud, maka jadilah umat ini seperti buih di tengah lautan yang terus mengikuti kemana beriaknya ombak bukan seperti karang yang memecahkan ombak. Karena itu peribadatan dalam Islam pada hakikatnya menyadarkan setiap muslim dan muslimah sebagai bagian dari umat Islam sedunia dan merupakan salah satu anggota masyarakat Islam sedunia yang tidak boleh berlepas diri dari persoalan-persoalan dunia Islam. Begitulah yang kita peroleh dari ibadah shalat, zakat, puasa dan apalagi haji. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks kehidupan kita sekarang, mungkin saja kita berbeda-beda suku dan bangsa, organisasi sosial dan politik, bahkan dalam kelompok-kelompok aliran atau pemahaman keagamaan, tapi semua itu seharusnya tidak membuat kita menjadi begitu fanatik lalu merasa benar sendiri dan menganggap kelompok lain sebagai kelompok myang salah. Harus kita ingat bahwa ukhuwah merupakan bukti keimanan dan bila ini belum kita wujudkan pertanda lemahnya keimanan yang kita miliki, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya orang-orang beriman itu bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan bertaqwalah Allah, supaya kamu mendapat rahmat&lt;/span&gt; (QS Al Hujurat [49]:10). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kekuatan umat &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kelima&lt;/span&gt; yang harus kita bangun adalah kekuatan ekonomi, ini pelajaran yang bisa kita ambil dari Nabi Ibrahim as beserta keluarganya yang mau berusaha untuk mencari rizki yang halal, bukan menghalalkan segala cara. Kesulitan hidup tidak bisa dijadikan alasan untuk menghalalkan segala cara dalam mencari harta, apalagi kita memang tidak sesulit generasi terdahulu dalam memperoleh rizki. Keyakinan bahwa Allah punya maksud baik dan rizki di tangan-Nya membuat manusia seharusnya mau berusaha semaksimal mungkin untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Siti Hajar berusaha mencari rizki yang dalam rangkaian ibadah haji disebut dengan sa’i. Oleh karena itu Allah swt senang kepada siapa saja yang berusaha secara halal meskipun harus dengan susah payah, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ِإنَّ للهَ تَعَالىَ يُحِبُّ أَنْ يَرَى تَعِبًا فىِ طَلَبِ الْحَلاَلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya Allah cinta (senang) melihat hambanya lelah dalam mencari yang halal &lt;/span&gt;(HR. Ad Dailami).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Usaha yang halal meskipun sedikit yang diperoleh dan berat memperolehnya merupakan sesuatu yang lebih baik daripada banyak dan mudah mendapatkannya, tapi cara memperolehnya adalah dengan mengemis yang hanya akan menjatuhkan martabat pribadi. Bila mengemis saja sudah tidak terhormat apalagi bila mencuri atau korupsi dan cara-cara yang tidak halal lainnya. Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;َلأَنْ يَحْمِلَ الرَّجُلُ حَبْلاً فَيَحْتَطِبَ بِهِ، ثُمَّ يَجِيْءَ فَيَضَعَهُ فِى السُّوْقِ، فَيَبِيْعَهُ ثُمَّ يَسْتَغْنِىَبِهِ، فَيُنْفِقُهُ عَلَى نَفْسِهِ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ، اَعْطَوْهُ اَوْمَنَعُوْهُ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu bakar, lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik daripada seorang yang meminta minta kepada orang-orang yang terkadang diberi dan kadang ditolak&lt;/span&gt; (HR. Bukhari dan Muslim). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah khutbah ied kita pada pagi ini, semoga memotivasi kita untuk terus berjuang dengan penuh kesungguhan guna memperbaiki diri, keluarga, umat dan bangsa. Akhirnya marilah kita tutup dengan do’a: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اجْعَلْهُمْ حَجًّا مَبْرُوْرًا وَسَعْيًا مَشْكُوْرً وَذَنْبًا مَغْفُوْرًا وَتِجَارَةً لَنْ تَبُوْرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, jadikanlah haji mereka haji yang mabrur, sa’i yang disyukuri, dosa yang diampuni, perniagaan yang tidak merugi&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-5097351976308908790?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/5097351976308908790/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/11/membangung-kekuatan-umat.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/5097351976308908790'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/5097351976308908790'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/11/membangung-kekuatan-umat.html' title='Membangung Kekuatan Umat'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-2965787898751305555</id><published>2010-11-03T20:32:00.000-07:00</published><updated>2010-11-03T20:36:38.301-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tausiah'/><title type='text'>Generasi Al-Muzammil</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR6PD4vczqi36U8kXITrsJt5kyz8Zv4y4e6CuzNLdj7mBpI-MA&amp;t=1&amp;usg=__0OOT6cWT8qiO79rNcIFeR0UzaSQ="&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 270px; height: 186px;" src="http://t1.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcR6PD4vczqi36U8kXITrsJt5kyz8Zv4y4e6CuzNLdj7mBpI-MA&amp;t=1&amp;usg=__0OOT6cWT8qiO79rNcIFeR0UzaSQ=" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Imam Ahmad bin Hambal meriwayatkan dari Ummul Mukmin Aisyah ra bahwa Allah telah mewajibkan qiyamullail kepada Rasulullah Saw. di awal surat ini. Beliau dan para sahabat telah menegakkannya di sebagian malam sehingga kaki-kaki mereka bengkak. Setelah genap dua belas bulan, Allah memberikan keringanan dengan diturunkannya ayat kedua puluh dari surat ini pula. Maka berubahlah hukum qiyamu lail yang tadinya wajib menjadi satu ibadah yang sunnah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Surat Al Muzammil turun pada marhalah bina’. Marhalah penggemblengan ruh. Para sahabat merupakan calon dai dan mujahid digembleng dengan gemblengan yang berat. Selama satu tahun mereka harus bangun di tiap tengah malam untuk berdiri shalat berjam-jam. Mereka dituntut untuk taat, tunduk, patuh dan berpegang teguh pada perintah Allah dan Rasul-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kewajiban qiyamullail bukanlah sekadar berdiri sholat berjam-jam. Tetapi ia merupakan tarbiyah imaniyah. Tarbiyah untuk selalu berhubungan dengan Yang Maha Pencipta, untuk bermunajat ke pada-Nya. Ia merupakan wasilah untuk mendekatkan diri, berdzikir dan bertawakkal kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sebutlah nama Rabb-mu, dan beribadahlah kepada-Nya dengan penuh ketaatan, (Dialah) Rabb masyriq dan maghrib, tiada Illah melainkan Dia. Maka ambillah Dia sebagai pelindung.” (QS. Al Muzammil: 8-9)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh!! Berdzikir kepada Allah taat, tunduk dan patuh kepada-Nya, bertawakkal dan beribadah hanya kepada-Nya, merupakan senjata yang ampuh di medan dakwah yang penuh dengan rintangan dan cobaan. Semuanya akan menjadikan para calon du’at dan mujahid terbiasa untuk bersabar atas cobaan yang datang secara beruntun. Mereka akan terbiasa menanggung derita dan konsisten dalam mempertahankan haq. Ini semua merupakan satu satunya senjata pada marhalah bina’. Marhalah yang belum diizinkan untuk menghadapi kaum kafir secara langsung.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik:. (QS. Al Muzammil : 10).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sungguh seorang da’i atau mujahid yang diatas pundaknya terbebankan panji-panji dakwah, pasti akan mendapati cobaan, siksaan dan intimidasi, dan tentu sangat membutuhkan senjata untuk mengukuhkan mereka. Senjata yang meneguhkan hati dan jiwa mereka. Mereka hanya akan mendapatkannya jika dalam marhalah bina’ mereka telah digembleng dengan gemblengan Al Muzammil. Dan harokah islamiyah jika tidak menggembleng generasinya dengan gemblengan Al Muzammil, mereka akan berjatuhan di tengah jalan ketika mereka dihadapkan pada cobaan dan intimidasi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Generasi Al Muzammil harus dibina dibawah konsep Qur’ani. Dan tidaklah cukup jikalau Al Qur’an hanya dijadikan sebagai pusat dan sumber intelektualitas belaka. Tetapi Al Qur’an harus dihafal. Khusus bagi mereka yang masih berumur muda.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Perlu diingat makna qiyamul lail tidak akan pernah terealisir selama calon da’I atau mujahid tidak hafal ayat-ayat Al Qur’an kecuali beberapa ayat saja. Bagaimana ia akan merasakan nikmatnya bermunajat, sedangkan ia hanya hafal beberapa ayat dari Al Qur’an dan diulangnya tiap rokaat sholatnya? Bagaimana ia akan merasa khusyu’? Sungguh !! betapa nikmat, tatkala kaki berdiri tegak untuk memulai munajat, hati tergerak disinari ayat-ayat Ilahi, yang kemudian dibiaskan ke dalam penglihatan, pendengaran, jiwa dan kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Untuk menghasilkan generasi Al Muzammil yang tangguh, harokah islamiyah harus mengonsep, pada umur 20 tahun seorang anggota harus sudah hafal sebagian besar ayat-ayat Al Qur’an. Inilah yang akan menjadi bekal mereka. Dengan bekal ini, mereka akan bisa mereguk nikmatnya bermunajat, qiyamul lail dan bertaqorrub kepada-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Potret generasi Al Muzammil adalah seorang pemuda yang telah melewati pubertas nya dengan kecintaan pada ibadah, ketaatan , dan taqorrub kepada-Nyaa. Pemuda yang selalu bertilawah dengan tartil, yang setiap malam air mata mengucur deras dari pelupuk matanya. Mentadabburi ayat-ayat-Nya. Pemuda yang Al Qur’an terukir di hati dan pikirannya.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-2965787898751305555?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/2965787898751305555/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/11/generasi-al-muzammil.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2965787898751305555'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2965787898751305555'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/11/generasi-al-muzammil.html' title='Generasi Al-Muzammil'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-7523243761048044315</id><published>2010-10-24T23:55:00.001-07:00</published><updated>2010-10-25T00:08:46.929-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Keluarga'/><title type='text'>Ibu, Sang Arsitek Peradaban</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/ibu-dan-anak2-mengaji-250x205.jpg"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 250px; height: 205px;" src="http://www.dakwatuna.com/wp-content/uploads/ibu-dan-anak2-mengaji-250x205.jpg" border="0" alt="" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2010/ibu-sang-arsitek-peradaban/"&gt;dakwatuna.com.&lt;/a&gt; Suatu malam yang tenang dan hening. Semua orang telah beranjak ke rumah masing-masing untuk beristirahat. Menarik selimut hingga terlindungi dari hawa dingin yang melingkupi cakrawala Madinah. Namun, seorang laki-laki yang disadarkan oleh rasa tanggung jawab sebagai pemimpin menyingkap selimutnya. Dia keluar menyusuri lorong-lorong Madinah yang mencekam. Merayapi jalan-jalan yang sepi dari tapak kaki manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dia keluar seorang diri menembus kegelapan malam. Barangkali ia menjumpai musafir yang tidak menemukan tempat bermalam. Atau orang yang merintih kesakitan. Atau orang lapar yang belum menemukan sesuap makanan untuk mengganjal perutnya. Barangkali ada urusan rakyatnya yang luput dari pengawasannya. Atau mungkin ada domba yang tersesat jauh di pinggir sungai Eufrat. Allah akan menanyakannya dan menghisabnya kelak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jangan heran! Lelaki tersebut adalah Amirul Mukminin, Umar bin Khatthab RA.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah sekian lama mengitari Madinah dan mulai merasakan lelah pada sendi-sendinya, Umar bersandar pada salah satu dinding rumah kecil di pinggiran kota Madinah. Dia beristirahat sejenak sebelum melanjutkan langkahnya menuju masjid.&lt;br /&gt;Kala itu, sayup-sayup terdengar olehnya suara dua orang wanita dari dalam rumah kecil tempat ia bersandar. Percakapan seorang ibu dengan putrinya. Percakapan dimana sang putri menolak untuk mencampur susu perah dengan air putih.&lt;br /&gt;Sang ibu berkata, “Campurlah susu itu dengan air!”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sang putri menjawab, “Sesungguhnya, Amirul Mukminin telah melarang kita untuk mencampur susu dengan air. Tidakkah Ibu mendengar juru bicaranya menyampaikan larangan tersebut?”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Umar tidak melihat kita. Dia tidak akan tahu apa yang kita lakukan di saat-saat terakhir malam ini.” Jawab ibunya.&lt;br /&gt;Putrinya pun menjawab seketika, “Wahai Ibuku, walaupun Umar tidak melihat namun Tuhan Umar melihat kita. Demi Allah, saya tidak akan melakukan apa yang dilarang-Nya.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ucapan putri tadi menyejukkan hati Umar. Jawaban yang menggambarkan kejujuran dan keimanan.&lt;br /&gt;Akhirnya Umar menikahkan putranya, Ashim, dengan gadis yang baik itu. Gadis itu bernama Ummu Ammarah binti Sufyan bin Abdullah bin Rabi’ah Ats-Tsaqafi. Kelak ia akan melahirkan dua anak gadis yang diberi nama Laila dan Hafshah. Laila kemudian dikenal dengan panggilan Ummu Ashim.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ummu Ashim kemudian menikah dengan Abdul Aziz bin Marwan, seorang gubernur Bani Marwan. Dari pernikahan yang suci ini lahirnya seorang khalifah yang mulia, Umar bin Abdul Aziz.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Umar bin Abdul Aziz yang berjuluk Khalifah Kelima adalah pemimpin yang sang bersahaja. Tingkat keimanannya tidak perlu diragukan lagi. Umar hafal Quran sejak kecil. Matanya selalu banjir air mata karena rasa takutnya pada Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Umar bin Abdul Aziz menjadi khalifah, tidak ada yang menjadi mustahik. Tidak ada orang yang berhak menerima zakat. Rakyatnya hidup makmur dan sejahtera. Sementara Umar hidup sangat sederhana.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apa yang menjadikan Umar memiliki pribadi yang begitu luar biasa? Ummu Ashim, ibunda Umar, mendidiknya sejak kecil dengan penuh kasih sayang. Mengajarkan Umar Quran dan cinta pada Allah. Ia selalu menjaga dan mengawasi putranya.&lt;br /&gt;Ummu Ashim juga dikenal sebagai wanita yang sangat dermawan dan menyayangi orang-orang yang lemah. Ummu Ashim mewakili gambaran ideal tentang sosok seorang ibu. Demikian juga ibunda dari Ummu Ashim. Rasa takutnya pada Allah menjadikannya pribadi yang unggul.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Keteladanan wanita-wanita tersebut menjadi bukti vitalnya seorang ibu dalam membentuk sebuah generasi. Seorang penyair mengungkapkan bahwa ibu adalah sebuah sekolah. Apabila dipersiapkan dengan baik, berarti telah mempersiapkan suatu bangsa dengan dasar yang baik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidak berlebihan tentu saja. Ibu adalah sekolah pertama dan utama bagi anak-anaknya. Ibu bagaikan wadah yang mengajarkan dan mendidik berbagai macam ilmu dalam kehidupan anak-anaknya dengan cinta dan kasih sayang. Sebagai pendidik awal, ibulah yang pertama kali meletakkan fondasi dasar –terutama dalam aspek keimanan- kepada anak dalam proses pendewasaan mental dan pematangan jiwa.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Gambaran pentingnya tugas seorang ibu tercakup dalam pernyataan yang diungkapkan oleh DR. A. Madjid Katme, Presiden Asosiasi Dokter Muslim di London dalam konferensi dunia tentang wanita di Beijing. Berikut tuturannya :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Tugas keibuan adalah pekerjaan yang paling terhormat dan membutuhkan keterampilan di dunia ini. Dan terlaksananya tugas ini sangat penting bagi pemeliharaan dan perlindungan anak terutama di masa-masa awal pertumbuhannya. Tak ada satu jenis pekerjaan pun yang dapat merampas seorang ibu dari tugas keibuannya. Dan tak ada seorang pun yang dapat mengambil alih tugas keibuan tersebut.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, begitu banyak muslimah yang kurang bahkan tidak memahami pentingnya peran seorang ibu. Peran yang, menurut Katme, tidak bisa digantikan oleh siapapun. Menjadi ibu full time dianggap hanya ‘pekerjaan’ tidak penting. Tidak perlu sekolah yang tinggi, tidak perlu pintar untuk menjadi seorang ibu. Salah! Anda justru harus menjadi muslimah yang sangat cerdas untuk bisa memenuhi peran keibuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemuliaan peran keibuan dewasa ini pun semakin tergerus oleh serangan barat. Setelah Quran dan Sunnah Nabi, hal yang kerap kali diserang oleh para orientalis adalah wanita dan perannya dalam keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ide-ide feminisme, kesetaraan gender, dan kebebasan wanita saat ini gencar disuarakan barat kepada umat Islam. Kita pun tahu, tidak sedikit yang terjebak untuk mencicipi racun atas nama kebebasan wanita tersebut. Akhirnya, hancurlah kemuliaan dan martabat wanita diikuti dengan runtuhnya pilar-pilar keluarga dan pendidikan anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Islam telah mengajarkan kemuliaan seorang ibu. Sejarah telah mencatat banyak orang hebat yang lahir dari seorang ibu yang juga hebat. Tak pernah ada cacat pada peran keibuan. Tak pernah ada cela pada predikat seorang ibu. Maka tak berlebihan bila ada ungkapan bahwa surga ada di telapak kaki ibu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Muslimah perlu menyadari peran vitalnya sebagai seorang ibu. Ibu bukan hanya tiga huruf, I – B – U, yang begitu sederhana hingga mudah dilupakan. Ibu bukan hanya predikat sepele sehingga perannya tidak perlu dipenuhi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibu adalah simpul penting sebuah sambungan peradaban. Dialah yang akan mencetak sebuah generasi. Ibu adalah tiang yang akan mengibarkan kembali bendera kejayaan Islam lewat pendidikannya terhadap keluarga. ibu, tak pernah bermakna kecil. Karena Allah lah yang menjadikannya begitu mulia. (hdn)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: ibutina&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-7523243761048044315?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/7523243761048044315/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/10/dakwatuna.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/7523243761048044315'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/7523243761048044315'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/10/dakwatuna.html' title='Ibu, Sang Arsitek Peradaban'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-8035928132820059967</id><published>2010-10-14T19:15:00.000-07:00</published><updated>2010-11-25T18:42:49.472-08:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlaq'/><title type='text'>Membangun Keikhlasan Dalam Beramal</title><content type='html'>الحمد لله الذى جَعَلَنا مِنْ عِبادِهِ الْمُخْلِصِيْْنَ ووَفَّقَنا لِلْعَمَلِ بِما فيهِ صَلاحُ الاسْلامِ والمسلمين&lt;br /&gt;أشهد أن لا اله الا الله وحده لا شريك وأشهد أن محمدا عبده ورسوله اللهم صل على محمد وعلى آله وصحبه اجمعين أما بعد، فياأيها المسلمون أوصيكم وإياي بتقوى الله عز وجل والتَّمَسُّكِ بهذا الدِّين تَمَسُّكًا قَوِيًّا. فقال الله تعالى في كتابه الكريم، أعوذ بالله من الشيطان الرجيم “يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ “&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;&lt;a href="http://www.dakwatuna.com/2008/membangun-keikhlasan-dalam-beramal/"&gt;dakwatuna.com&lt;/a&gt; - Ma’asyiral Muslimin Rahimakumullah..&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;!--[if !mso]&gt; &lt;style&gt; v\:* {behavior:url(#default#VML);} o\:* {behavior:url(#default#VML);} w\:* {behavior:url(#default#VML);} .shape {behavior:url(#default#VML);} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:worddocument&gt;   &lt;w:view&gt;Normal&lt;/w:View&gt;   &lt;w:zoom&gt;0&lt;/w:Zoom&gt;   &lt;w:trackmoves/&gt;   &lt;w:trackformatting/&gt;   &lt;w:punctuationkerning/&gt;   &lt;w:validateagainstschemas/&gt;   &lt;w:saveifxmlinvalid&gt;false&lt;/w:SaveIfXMLInvalid&gt;   &lt;w:ignoremixedcontent&gt;false&lt;/w:IgnoreMixedContent&gt;   &lt;w:alwaysshowplaceholdertext&gt;false&lt;/w:AlwaysShowPlaceholderText&gt;   &lt;w:donotpromoteqf/&gt;   &lt;w:lidthemeother&gt;EN-US&lt;/w:LidThemeOther&gt;   &lt;w:lidthemeasian&gt;X-NONE&lt;/w:LidThemeAsian&gt;   &lt;w:lidthemecomplexscript&gt;AR-SA&lt;/w:LidThemeComplexScript&gt;   &lt;w:compatibility&gt;    &lt;w:breakwrappedtables/&gt;    &lt;w:snaptogridincell/&gt;    &lt;w:wraptextwithpunct/&gt;    &lt;w:useasianbreakrules/&gt;    &lt;w:dontgrowautofit/&gt;    &lt;w:splitpgbreakandparamark/&gt;    &lt;w:dontvertaligncellwithsp/&gt;    &lt;w:dontbreakconstrainedforcedtables/&gt;    &lt;w:dontvertalignintxbx/&gt;    &lt;w:word11kerningpairs/&gt;    &lt;w:cachedcolbalance/&gt;   &lt;/w:Compatibility&gt;   &lt;w:browserlevel&gt;MicrosoftInternetExplorer4&lt;/w:BrowserLevel&gt;   &lt;m:mathpr&gt;    &lt;m:mathfont val="Cambria Math"&gt;    &lt;m:brkbin val="before"&gt;    &lt;m:brkbinsub val="--"&gt;    &lt;m:smallfrac val="off"&gt;    &lt;m:dispdef/&gt;    &lt;m:lmargin val="0"&gt;    &lt;m:rmargin val="0"&gt;    &lt;m:defjc val="centerGroup"&gt;    &lt;m:wrapindent val="1440"&gt;    &lt;m:intlim val="subSup"&gt;    &lt;m:narylim val="undOvr"&gt;   &lt;/m:mathPr&gt;&lt;/w:WordDocument&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 9]&gt;&lt;xml&gt;  &lt;w:latentstyles deflockedstate="false" defunhidewhenused="true" defsemihidden="true" defqformat="false" defpriority="99" latentstylecount="267"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="0" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Normal"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="heading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="9" qformat="true" name="heading 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 7"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 8"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" name="toc 9"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="35" qformat="true" name="caption"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="10" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" name="Default Paragraph Font"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="11" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtitle"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="22" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Strong"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="20" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="59" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Table Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Placeholder Text"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="1" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="No Spacing"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" unhidewhenused="false" name="Revision"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="34" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="List Paragraph"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="29" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="30" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Quote"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 1"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 2"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 3"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 4"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 5"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="60" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="61" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="62" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Light Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="63" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="64" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Shading 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="65" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="66" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium List 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="67" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 1 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="68" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 2 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="69" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Medium Grid 3 Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="70" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Dark List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="71" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Shading Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="72" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful List Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="73" semihidden="false" unhidewhenused="false" name="Colorful Grid Accent 6"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="19" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="21" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Emphasis"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="31" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Subtle Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="32" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Intense Reference"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="33" semihidden="false" unhidewhenused="false" qformat="true" name="Book Title"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="37" name="Bibliography"&gt;   &lt;w:lsdexception locked="false" priority="39" qformat="true" name="TOC Heading"&gt;  &lt;/w:LatentStyles&gt; &lt;/xml&gt;&lt;![endif]--&gt;&lt;!--[if gte mso 10]&gt; &lt;style&gt;  /* Style Definitions */  table.MsoNormalTable  {mso-style-name:"Table Normal";  mso-tstyle-rowband-size:0;  mso-tstyle-colband-size:0;  mso-style-noshow:yes;  mso-style-priority:99;  mso-style-qformat:yes;  mso-style-parent:"";  mso-padding-alt:0in 5.4pt 0in 5.4pt;  mso-para-margin:0in;  mso-para-margin-bottom:.0001pt;  mso-pagination:widow-orphan;  font-size:11.0pt;  font-family:"Calibri","sans-serif";  mso-ascii-font-family:Calibri;  mso-ascii-theme-font:minor-latin;  mso-fareast-font-family:"Times New Roman";  mso-fareast-theme-font:minor-fareast;  mso-hansi-font-family:Calibri;  mso-hansi-theme-font:minor-latin;  mso-bidi-font-family:Arial;  mso-bidi-theme-font:minor-bidi;} &lt;/style&gt; &lt;![endif]--&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Alhamdulilllah, segala puji kita panjatkan kehadirat Allah swt bahwa hingga saat ini, Allah masih memberi kita kesempatan untuk menyempurnakan pengabdian kita kepadaNya, dengan harapan mudah-mudahan segala kekurangan dalam proses pengabdian itu diampuni oleh Allah swt. Mudah-mudahan juga momentum hari jumat ini semakin memberikan kita kesadaran akan peningkatan kualitas iman dan takwa kita kepadaNya. Amin.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sesungguhnya kehidupan ini memang Allah ciptakan untuk menguji siapa diantara hambaNya yang paling banyak dan paling baik beramal. Beramal merupakan inti dari keberadaan manusia di dunia ini, tanpa amal maka manusia akan kehilangan fungsi dan peran utamanya dalam menegakkan khilafah dan imarah. Allah berfirman menegaskan tujuan keberadaan manusia,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin-bottom: 6pt; text-align: right; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;DecoType Naskh&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;الَّذِي خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيَاةَ لِيَبْلُوَكُمْ أَيُّكُمْ أَحْسَنُ عَمَلًا وَهُوَ الْعَزِيزُ الْغَفُورُ &lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 6pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;” &lt;i&gt;Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun&lt;/i&gt;“. (Al-Mulk: 2)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Namun pada tahap implementasinya, ternyata tidak cukup hanya beramal saja, karena memang Allah akan menseleksi setiap amal itu dari niatnya dan keikhlasannya. Tanpa ikhlas, amal seseorang akan sia-sia tidak berguna dan tidak dipandang sedikitpun oleh Allah swt. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Imam Al-Ghazali menuturkan, “Setiap manusia binasa kecuali orang yang berilmu. Orang yang berilmu akan binasa kecuali orang yang beramal (dengan ilmunya). Orang yang beramal juga binasa kecuali orang yang ikhlas (dalam amalnya). Namun orang yang ikhlas juga tetap harus waspada dan berhati-hati dalam beramal”. Dalam hal ini, hanya orang-orang yang ikhlas beramal yang akan mendapat keutamaan dan keberkahan yang sangat besar, seperti yang dijamin Allah dalam firmanNya, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="text-align: right; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/fata/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image002.jpg" height="85" width="673" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;“&lt;i&gt;Tetapi hamba-hamba Allah yang dibersihkan (bekerja dengan ikhlas). Mereka itu memperoleh rezki yang tertentu, yaitu buah-buahan. Dan mereka adalah orang-orang yang dimuliakan, di dalam syurga-syurga yang penuh kenikmatan”&lt;/i&gt;. (Ash-Shaaffat: 40-43)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ma’asyiral Muslimin RahimakumuLlah…&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ayat tentang keutamaan dan jaminan bagi orang yang bekerja dengan ini ini seharusnya menjadi motifasi utama kita dalam menjalankan tugas dan pekerjaan kita sehari-hari dalam apapun dimensi dan bentuknya, baik dalam konteks “hablum minaLlah atau Hablum minannas”..karena hanya orang yang mukhlis nantinya yang akan meraih keberuntungan yang besar di hari kiamat, yaitu syurga Allah yang penuh dengan kenikmatan, meskipun dia harus banyak bersabar terlebih dahulu ketika di dunia. Ayat ini juga merupakan salah satu diantara jaminan yang disediakan oleh Allah bagi orang-orang yang mukhlis.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Jaminan lain yang Allah sediakan bagi mereka yang ikhlas dalam beramal bisa ditemukan dalam kisah perjalanan Yusuf as ketika beliau berhadapan dengan seorang wanita yang mengajaknya melakukan kemaksiatan. Bahwa Allah akan senantiasa memelihara hambaNya yang mukhlis dari perbuatan keji dan maksiat, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/fata/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image004.jpg" height="81" width="625" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;“&lt;i&gt;Sesungguhnya wanita itu telah bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusufpun bermaksud (melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tidak melihat tanda (dari) Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan dari padanya kemungkaran dan kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang mukhlis&lt;/i&gt;“. (yusuf: 24). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dalam ayat lain, orang yang mukhlis juga mendapat jaminan akan terhindar dari godaan dan bujuk rayu syetan. Syetan sendiri mengakui ketidakberdayaan dan kelemahan mereka dihadapan orang-orang yang beramal dengan ikhlas, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/fata/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image006.jpg" height="81" width="689" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;“&lt;i&gt;Iblis berkata: “Ya Tuhanku, oleh sebab Engkau telah memutuskan bahwa aku sesat, pasti aku akan menjadikan mereka memandang baik (perbuatan ma’siat) di muka bumi, dan pasti aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba Engkau yang mukhlis di antara mereka&lt;/i&gt;.” (Al-Hijr: 39-40). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dengan redaksi yang sama, ayat ini berulang dalam surah Shaad,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="text-align: right; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/fata/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image008.jpg" height="46" width="497" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“&lt;i&gt;Iblis menjawab: “Demi kekuasaan Engkau aku akan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang mukhlis di antara mereka&lt;/i&gt;“. (Shad: 82-83). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Sungguh benteng keikhlasan merupakan benteng yang paling kokoh yang tak tergoyahkan oleh apapun bentuk rayuan dan fitnah iblis dan sekutunya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ma’asyiral muslimin RahimakumuLlah…&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dalam tinjauan ilmu qira’at, para ulama qira’at berbeda dalam membaca kata “Al-Mukhlashin” yang tersebut pada akhir kedua ayat tersebut. Sebagian qari’ membaca &lt;i&gt;Al-Mukhlashin&lt;/i&gt; dengan ism maf’ul dan sebagian lainnya membaca dengan isim fi’il &lt;i&gt;Al-Mukhlishin&lt;/i&gt;. Imam Ibnu Katsir, Abu Amr dan Ibnu Amir, membaca seluruh kalimat ini dalam Al-Qur’an dengan bacaan “&lt;i&gt;Al-Mukhlishin&lt;/i&gt;” yang artinya: Mereka mampu memurnikan agama dan ibadah mereka dari segala noda yang bertentangan dengan nilai tauhid. Sedangkan ulama qira’at yang lain membaca &lt;i&gt;Al-Mukhlashin&lt;/i&gt; yang artinya: Mereka yang dipelihara dan mendapat taufik dari Allah untuk memiliki sifat Ikhlas. Berdasarkan qira’at ini, ikhlas dan iman adalah mutlak anugerah Allah swt kepada hamba-hambaNya yang dikehendaki. Namun setiap hamba diperintahkan oleh Allah untuk senantiasa memperhatikan dan meningkatkan kadar dan tingkt keikhlasannya dalam beramal. Bahkan Allah menyuruh kita meneladani orang-orang yang mendapat petunjuk karena tidak pernah mengharapkan balasan dari amalnya kecuali dari Allah swt, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/fata/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image010.jpg" height="41" width="449" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;“Ikutilah orang yang tiada minta balasan kepadamu; dan mereka adalah orang-orang yang mendapat petunjuk”. (Yaasin: 21)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Secara prinsip, Islam memandang keikhlasan sebagai pondasi dan ruh sebuah amal, apapun bentuknya amal tersebut selama termasuk kategori amal sholih. Baik amal tersebut dilakukan dalam skala pribadi maupun secara kolektif (bermasyarakat, berbangsa dan bernegara). Bahkan keikhlasan dalam ruang lingkup kolektif sosial ternyata sesuatu yang berat dan memerlukan lebih kesabaran. Dalam konteks ini, keikhlasan harus dibangun secara timbal balik antara seluruh individu dalam masyarakat dan menghindari kecemburuan serta persepsi negatif terhadap masing-masing anggota. Demikian, semakin luas wilayah kerja seseorang, maka semakin dibutuhkan keikhlasan. Apalagi di tengah semakin beragam hambatan atau ujian keikhlasan yang menghadangnya, yang pada umumnya adalah seperti yang dinyatakan oleh &lt;span style="background: none repeat scroll 0% 0% yellow;"&gt;Syekh Hasan Al-Banna’&lt;/span&gt; &lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;(salah seorang ulama) dalam Risalahnya, yaitu: harta, kedudukan, popularitas, gelar, ingin selalu tampil di depan dan diberi penghargaan dan pujian dan sebagainya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ma’asyiral Muslimin rahimakumuLlah…&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Jika keikhlasan dituntut dari setiap orang yang beramal, maka menurut Dr. Ali Abdul Halim Mahmud, keikhlasan bagi seorang da’i merupakan keniscayaan yang harus senantiasa menyertainya karena ia akan berhadapan dengan berbagai keadaan dan beragam manusia dalam perjalanan dakwahnya. Jika tidak, maka binasa dan sia-sialah amalnya. Bahkan sifat yang mendasar bagi seorang da’i yang harus senantiasa melaziminya adalah ikhlas. Oleh karena itu, para ulama hadits menjadikan bab Niat berada di awal kitab hadits susunan mereka, agar karya tulis mereka selalu diawali dengan keikhlasan dan tidak luput dari sifat ini. Bisa dibayangkan para ulama yang merupakan teladan dalam beramal mencontohkan kita agar senantiasa mengukur setiap amal yang kita lakukan dengan ukuran ikhlas.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Para nabi Allah dalam kapasitas mereka sebagai da’i senantiasa menjadikan keikhlasan sebagai jargon dan prinsip dakwah mereka. Sebagai contoh Nabi Muhammad saw sebagai teladan utama dalam hal ini mengemukakan tentang motifasinya dalam berdakwah,&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="text-align: right; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/fata/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image012.jpg" height="52" width="676" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;“&lt;i&gt;Katakanlah: “Aku tidak meminta upah sedikitpun kepada kamu dalam menyampaikan risalah itu, melainkan (mengharapkan kepatuhan) orang-orang yang mau mengambil jalan kepada Tuhan nya&lt;/i&gt;“. (Al-Furqan: 57)&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dengan redaksi yang sama dan dalam surah yang sama secara berdampingan, seluruh nabi Allah menekankan prinsip keikhlasan dalam dakwah mereka yang ideal, mulai dari nabi Nuh, Hud, Shalih, Luth dan Syu’aib as. &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/fata/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image014.jpg" height="51" width="442" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;“&lt;i&gt;Dan aku sekali-kali tidak minta upah kepadamu atas ajakan-ajakan itu; upahku tidak lain hanyalah dari Tuhan semesta alam&lt;/i&gt;“. (Asy-Syu’ara’: 109, 127, 145, 164, 180). &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Inilah bangunan keikhlasan yang pernah ditunjukkan dan dicontohkan dalam dakwah para nabi Allah swt, sehingga mereka meraih kesuksesan dan diabadikan namanya oleh Allah swt sebagai cerminan bagi para da’i setelah mereka.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt; &lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;b&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Ma’asyiral Muslimin rhimakumuLlah…&lt;/span&gt;&lt;/b&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Menurut bahasa, dalam kata ikhlas terkandung beberapa makna; jernih, bersih, suci dari campuran dan pencemaran, baik berupa materi maupun non materi. Lawan dari ikhlas adalah nifak dan riya’. Rasulullah saw bersabda tentang sifat yang mulia ini dalam sabdanya, “&lt;i&gt;Barangsiapa yang tujuan utamanya meraih pahala akhirat, niscaya Allah akan menjadikan kekayaannya dalam kalbunya, menghimpunkan baginya semua potensi yang dimilikinya, dan dunia akan datang sendiri kepadanya seraya mengejarnya. Sebaliknya, barangsiapa yang tujuan utamanya meraih dunia, niscaya Allah akan menjadikan kemiskinannya berada di depan matanya, membuyarkan semua potensi yang dimilikinya, dan dunia tidak akan datang sendiri kepadanya kecuali menurut apa yang telah ditakdirkan untuknya&lt;/i&gt;“. (Tirmidzi).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Dalam apapun keadaan, keikhlasan akan tetap menjadi modal, bekal sekaligus kemudi amal sholih, apalagi dakwah sebagai puncak dari amal sholih. Karena semakin berat dan mulia sebuah tugas tentu akan semakin dibutuhkan keikhlasan. Semakin dewasa perjalanan dan pengalaman dakwah seseorang, maka semestinya semakin baik tingkat dan kualitas keikhlasannya. Keikhlasan juga merupakan salah satu dari dua pilar dan syarat diterimanya amal sholih, bahkan ia yang paling utama, seperti yang dinyatakan oleh Abdullah bin Al-Mubarak ketika menafsirkan ayat: &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="text-align: justify; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;img src="file:///C:/DOCUME%7E1/fata/LOCALS%7E1/Temp/msohtmlclip1/01/clip_image016.jpg" height="47" width="406" /&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;“&lt;i&gt;Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya&lt;/i&gt;” (Al-Mulk: 2).&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span style=""&gt; &lt;/span&gt;Tanpanya amal seseorang akan sia-sia tidak bernilai. Untuk itu, dengan ikhlas, akan mencukupi amal yang sedikit seperti yang ditegaskan dalam sebuah riwayat Ad-Dailami, &lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="margin-bottom: 0.0001pt; text-align: right; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;” &lt;/span&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;DecoType Naskh&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;أَخْلِصِ الْعَمَلَ يَجْزِيْكَ القلِيْلُ مِنْهُ&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;span dir="LTR"&gt;&lt;/span&gt;”&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="line-height: normal;"&gt;&lt;i&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;“Ikhlaslah kamu dalam beramal, maka cukuplah amal yang sedikit yang kamu lakukan”.&lt;/span&gt;&lt;/i&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Agar ikhlas dapat terpelihara, tentu ada variabel yang melekat pada setiap amal yang kita lakukan; diantaranya variabel &lt;b&gt;profesionalisme, kompetensi, itqan dan kesungguhan&lt;/b&gt;. Maka amal yang cenderung &lt;b&gt;apa adanya, serampangan, asal jadi, “pokoknya” dan amal yang tidak konsisten&lt;/b&gt; bisa jadi karena ketidak ikhlasan kita dalam menjalankan tugas tersebut. Ini tantangan terberat bagi kita sesungguhnya. Ikhlas inilah yang akan memperkuat potensi &lt;b&gt;spritualitas kita&lt;/b&gt;. Lantas pertanyaan besar kita, “Apakah ruh dan motifasi yang menggerakkan roda amal kita selama ini ???…&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" style="text-align: justify; line-height: normal;"&gt;&lt;span style="font-size: 12pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;Demikianlah khotbah pada kesempatan siang kali ini semoga bermanfaat bagi kita semuanya.&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;  &lt;p class="MsoNormal" dir="RTL" style="text-align: right; line-height: normal; direction: rtl; unicode-bidi: embed;"&gt;&lt;span style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;" lang="AR-SA"&gt;بارك الله لى ولكم فى القرآن العظيم ونفعنى واياكم بما فيه من الايات والذكر الحكيم وتقبل الله منى ومنكم تلاوته انه هو السميع العليم&lt;/span&gt;&lt;span dir="LTR" style="font-size: 18pt; font-family: &amp;quot;Times New Roman&amp;quot;,&amp;quot;serif&amp;quot;;"&gt;&lt;/span&gt;&lt;/p&gt;&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-8035928132820059967?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/8035928132820059967/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/10/membangun-keikhlasan-dalam-beramal.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/8035928132820059967'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/8035928132820059967'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/10/membangun-keikhlasan-dalam-beramal.html' title='Membangun Keikhlasan Dalam Beramal'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-5211644909793247488</id><published>2010-09-30T18:21:00.000-07:00</published><updated>2010-09-30T18:40:36.875-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlaq'/><title type='text'>Birrul Walidain</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TKU7_pIHkOI/AAAAAAAAAPU/2lD-ptw7n-k/s1600/birul+walidain.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 320px; height: 307px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TKU7_pIHkOI/AAAAAAAAAPU/2lD-ptw7n-k/s320/birul+walidain.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5522886482597482722" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Alkisah, ketika Umar sampai di rumah, sepulang mengurusi jenazah Sulaiman, datanglah Abdul Malik menghampirinya. Ia bertanya, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Wahai amirul mukminin, gerangan apakah yang membaringkan Anda di siang bolong ini?”&lt;/span&gt; Umar bin Abdul Aziz sempat kaget, tatkala putranya memanggilnya dengan Amirul Mukminin, bukan dengan panggilan ayah. Ini mengisyaratkan putranya ingin mempertanyakan tanggung jawab ayahnya sebagai pemimpin negara, bukan tanggung jawab sebagai kepala keluarga.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Aku letih dan butuh istirahat”&lt;/span&gt;, jawab sang ayah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Pantaskah Anda beristirahat padahal banyak rakyat yang tertindas?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Wahai anakku, semalam suntuk aku menjaga pamanmu. Nanti, setelah shalat Zhuhur aku akan mengembalikan hak-hak orang yang teraniaya”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Wahai amirul mukminin, siapakah yang menjamin Anda hidup sampai Zhuhur, jika Allah mentaqdirkanmu mati sekarang?”&lt;/span&gt; Mendengar ucapan sang anak, Umar tambah terperanjat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau memerintahkan anaknya mendekat, maka diciumlah pemuda itu sambil berkata &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Segala puji bagi Allah yang telah memberiku seorang anak yang telah membantuku menegakkan agama”&lt;/span&gt;. Selanjutnya beliau perintah juru bicaranya mengumumkan kepada seluruh rakyat. &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Barang siapa yang merasa dianiaya, hendaknya mengadukan nasibnya kepada khalifah”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Itulah salah satu cuplikan kehidupan Abdul Malik, seorang pemuda yang shaleh dan bertanggung jawab. Meskipun Allah memberinya usia relatif singkat, kurang dari dua puluh tahun, namun hidupnya diwarnai oleh ketaqwaan, ibadah dan amar ma'ruf nahi mungkar. Dia tidak segan menegur ayahnya saat dilihatnya lalai dalam menjalankan amanah. Dia tidak sungkan menasihati ayahnya agar selalu teguh pada hukum Allah dalam setiap gerak serta langkahnya. Dia tahu semua itu adalah kewajiban yang harus disampaikan dan bentuk implementasi &lt;span style="font-weight: bold;"&gt;birul walidain&lt;/span&gt; (bakti kepada ibu bapak).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Birul walidain&lt;/span&gt; adalah hak setiap orang tua. “Dan kami wajibkan manusia (berbuat) kebaikan kepada dua orang ibu bapaknya” (QS 29:8). Ia tidak hanya berupa taat, patuh atau turut kepada kehendak orang tua, sebagaimana dipahami oleh sebagian orang. Namun ia lebih dari itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Birul walidain&lt;/span&gt; adalah nasihat anak kepada orang tua manakala mereka sedang meniti jalan dosa. Allah bercerita tentang nabi-Nya Ibrahim AS yang menasihati ayahnya ketika sang ayah menyembah berhala, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;”Wahai ayahku, janganlah kamu menyembah syetan. Sesungguhnya syetan itu durhaka kepada Allah Yang Maha Pemurah. Wahai ayahku, sesungguhnya aku khawatir bahwa kamu akan ditimpa azab dari Allah,maka kamu menjadi kawan bagi syetan” &lt;/span&gt;(QS. 19:144-145)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mungkin masih banyak diantara kita yang orang tuanya masih terperangkap dalam dosa. Sayangnya banyak pula diantara orang-orang muda yang bergelut dalam da'wah membiarkan orang tuanya tersesat. Padahal mereka lebih berhak dida'wahkan ketimbang orang lain.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Birul walidain juga menuntut mu'asyarah bil ma'ruf (bergaul dengan baik) kepada orang tua. Allah berpesan, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Dan bergaullah kepada kedua nya di dunia dengan baik”&lt;/span&gt; (QS 31:15). Dalam sejarah dakwah, banyak sekali kita temukan tokoh-tokoh simpatik yang melegendakan karena baktinya kepada kedua orang tua. Saad bin Abi Waqqas, sebagai contoh, meskipun ibunya musyrik dan mengancam mogok makan jika anaknya tidak mau kembali ke agama semula, beliau tetap menghormati ibunya dan memperlakukannya dengan baik. Bukan sesuatu yang terpuji, jika seseorang muslim, apalagi da'iyah, yang tidak menghormati dan menghargai orang tuanya. Hanya karena beda visi dalam memandang Islam, orang tua divonis kafir atau musyrik.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Banyak sekali contoh kesenjangan yang sebetulnya tidak akan terjadi jika anak mampu menempatkan permasalahan secara wajar. Sebagai contoh kasus pernikahan atau walimah. Banyak orang tua tidak setuju pemisahan antara undangan pria dan wanita. Itu terjadi karena selama ini tradisi yang ada membenarkan dicampurnya undangan laki-laki dan wanita pada satu ruangan. Apatah lagi tradisi tersebut dilegalisir oleh sebagian orang yang dianggap berilmu dan shalih. Kalau saja hubungan sang anak dengan orang tuanya baik, tentunya dia akan mendapatkan kemudahan dalam menghidupkan salah satu sunah Rasulullah SAW, tanpa harus timbul konflik berkepanjangan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita yakin semua orang tua menginginkan anak yang shalih dan bakti seperti Abdul Malik bin Umar. Kita semua tidak pernah mendambakan anak durhaka. Namun yang menjadi pertanyaan, “Apakah kita sudah berbakti kepada orang tua sehingga mengharap keturunan yang baik?” Bukankah ada pepatah, “Bagaimana mungkin bayangan akan lurus jika tongkatnya bengkok?” Dan bagaimana mungkin pula anak akan berbakti jika orang tuanya durhaka. Ingat pesan Rasulullah saw, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Berbaktilah kepada kedua orang tua kalian, niscaya akan berbakti pula anak-anak kalian” &lt;/span&gt;(HR. Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai orang yang sedang meniti jalan dakwah, kita dituntut berlaku bijaksana dalam menghadapi berbagai keganjilan yang ada pada orang tua. Jika mereka belum mau shalat, menutup aurat, dan belum siap menghidupkan sunah Rasulullah saw, kewajiban kita hanya mengingatkan mereka dan tidak ada hak untuk memaksakan kehendak. Kalau saja Sa'ad bin Abi Waqqas, Asma binti Abu Bakar diperintahkan untuk berbuat baik kepada ibu mereka yang musyrik, apalagi kita yang mempunyai orang tua yang muslim, tentu mereka lebih berhak untuk dihormati dan dihargai.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemungkaran dan kebatilan yang dilegalisir sekarang ini, adalah hasil dari upaya musuh-musuh Islam yang prosesnya sudah berjalan lama. Dan untuk mengembalikannya kepada Al-Haq tentunya butuh waktu lama. Itulah yang disampaikan Umar bin Abdul Aziz kepada anaknya ketika sang anak bertanya kenapa kemungkaran yang ada tidak dicegah secepatnya. Kata Umar, &lt;span style="font-style: italic;"&gt;“Hai anakku, umat telah melepaskan ikatan Islam sedikit demi sedikit. Jika aku hapuskan dalam sehari saja, aku khawatir umat akan memberontak dan darah tertumpah. Demi Allah hancurnya dunia lebih ringan bagiku dari pada tertumpahnya setitik darah karena diriku &lt;/span&gt;………………”&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-5211644909793247488?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/5211644909793247488/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/09/birrul-walidain.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/5211644909793247488'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/5211644909793247488'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/09/birrul-walidain.html' title='Birrul Walidain'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TKU7_pIHkOI/AAAAAAAAAPU/2lD-ptw7n-k/s72-c/birul+walidain.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-3599612632568984305</id><published>2010-09-23T20:56:00.000-07:00</published><updated>2010-09-23T20:59:39.382-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tausiah'/><title type='text'>Selamat Berjuang Alumni Ramadhan</title><content type='html'>dakwatuna.com - Marilah kita tingkatkan taqwa kepada Allah swt, dengan sebenar-benarnya taqwa agar Allah berkenan memberikan keteguhan jiwa ini kedalam ketaatan dalam setiap kondisi. Shalawat serta salam semoga terlimpahkan kepada Nabi Muhammad saw, keluarga, sahabat dan juga kepada para pengikutnya yang mudah-mudahan kita semua termasuk di dalamnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tak terasa waktu sudah begitu cepat berlalu mengantarkan manusia dari satu kondisi menuju kondisi yang lain, dimana dari setiap kondisi itu menghasilkan sebuah karakter yang menunjukan satu perwujudan sikap dari seseorang. Sudah hampir sekitar 2 minggu yang lalu kita masih berada dalam sebuah kondisi yang mengajak kita menuju karakter orang bertaqwa yakni ibadah shaum Ramadhan, oleh karena itu maka selama satu bulan yang kita tempuh itu semangatnya harus tetap membara dalam kehidupan di sebelas bulan kemudian.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita semua adalah para Alumni Ramadhan, dimana jiwa-jiwanya adalah jiwa-jiwa yang akan terus bersemangat untuk meneruskan apa-apa yang kita lakukan selama bulan puasa. Para Alumni Ramadhan adalah manusia yang menjadikan hari-harinya di sebelas bulan kemudian kualitas ibadah dan bersikap yang sama dengan menjaga agar tetap stabil. Sebelas bulan kemudian pasca Ramadhan merupakan hari-hari yang berat, namun bagi para Alumni Ramadhan hal itu tetap tak membuatnya bergeming dan terus menerus berusaha tetap menstabilkan kualitas ketaqwaannya kepada Allah sampai kemudian Allah menakdirkan untuk bertemu kembali pada Ramadhan berikutnya. Ketika mendapatkan ujian para alumni ramadhan akan teringat dengan firman Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi?” (Qs. Al-Ankabut:2)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian itu bukan hanya berupa sesuatu yang menyedihkan namun bisa juga dalam bentuk kesenangan, dan sekali lagi para alumni Ramadhan yang sudah selama satu bulan ditempa ia akan menjadi sangat berhati-hati dalam melakukan segala kegiatan karena ia sadar tak ingin menjadi kaum munafik yakni orang yang tak mampu mengambil pelajaran, perhatikanlah firman Allah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dan tidakkah mereka (orang-orang munafik) memperhatikan bahwa mereka diuji sekali atau dua kali setiap tahun, kemudian mereka tidak (juga) bertobat dan tidak (pula) mengambil pengajaran?”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ujian yang datang berupa musibah menghampiri kepada para alumni Ramadhan disikapinya dengan mengucap kalimat istirjaa (pernyataan kembali kepada Allah) dengan berucap; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“(yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan: “Inna lillaahi wa innaa ilaihi raaji’uun” (Al-Baqarah:156) &lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhir-akhir ini kita mendengar banyak sekali ujian berupa musibah ditimpakan kepada bangsa Indonesia ini, Ramadhan tahun ini kita merasakan gempa yang bersumber di laut selatan pulau jawa. Kemudian beberapa hari yang lalu daerah sukabumi pun dilanda gempa yang memang tidak terlalu besar, belum selesai dengan hal tersebut dalam penglihatan kita Allah kembali menampakan kepada kita semua untuk diambil pelajarannya yakni gempa di Sumatera Barat tepatnya di Padang dan Pariaman yang berkekuatan 7,6 skala richter.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang?”&lt;/span&gt; (Al-Mulk :16).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para Alumni Ramadhan yang menerapkan ihsan (yakni merasa diawasi oleh Allah) dalam kehidupannya sadar betul terhadap apa yang tertera dalam hadits bahwa bumi ini akan menjadi saksi atas semua perbuatan kita di muka bumi ini. Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu anhu Rasululullah saw. membaca ayat: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Pada hari itu, bumi menceritakan beritanya.”&lt;/span&gt; (Az-Zalzalah:4)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Para sahabat berkata ,&lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Allah dan Rasul-Nya yang lebih tahu.”&lt;/span&gt; Rasulullah saw bersabda, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;”Di antara cerita bumi ialah bumi menjadi saksi bagi setiap orang laki-laki dan orang perempuan atas apa saja yang telah ia kerjakan di atas bumi. Bumi berkata,’engkau berbuat ini dan itu pada hari ini dan itu, itulah berita yang di beritakan bumi&lt;/span&gt; (diriwayatkan Imam Ahmad). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Astagfirullah… marilah kita memperbanyak istigfar… bumi Indonesia banyak berguncang bisa jadi karena kita terlalu banyak kemaksiatan di muka bumi ini, atau dalam hadits lain dikatakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Tidaklah seseorang melakukan perbuatan-perbuatan maksiat dan ia berada di dalam satu kaum, namun kaum itu tidak mencegahnya walau mereka mampu, melainkan Allah akan menimpa bencana pedih ke atas kaum itu sebelum mereka meninggal.”&lt;/span&gt; ( HR Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban dan Al Asbhahani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita lihatlah bersama wahai para Alumni Ramadhan yang bertaqwa, Bumi Indonesia ini negeri yang kaya namun begitu banyak permasalahan yang menimpa bangsa ini mulai dari krisis multidimensi kehidupan berbangsa, permasalahan korupsi yang sampai sekarang semakin runyam dengan pertarungan yang dikatakan buaya vis a vis cicak, bencana alam yang terus mengiringi kehidupan Indonesia. Bumi Indonesia ini telah Allah anugerahkan kepada kita semua dengan menakdirkan kita menjadi bangsa yang terbesar dalam jumlah pemeluk agama Islam ini, namun kenyataan yang kita lihat bersama adalah kenyataan yang menyedihkan yakni kualitas pemahaman terhadap agama Islam yang begitu lemah sehingga kita hanya seperti buih di lautan yang begitu banyak tapi gampang terhempas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika kemudian negeri indah yang bernama Indonesia ini dihuni oleh warganya yang sholeh-sholehah maka hidup akan lebih tentram, karena orang mukmin itu memahami dengan baik fungsinya yakni nafi’an lighairihi (bermanfaat untuk orang lain). Sebenarnya pula &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar).”&lt;/span&gt; (Qs Ar Rum:41).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi ketika kita membiarkan kemaksiatan terus mendera bangsa ini maka Allah akan terus memberikan pelajaran kepada kita semua untuk terus mengambil pelajaran. Lalu kemudian apakah kita akan terus membiarkan kemaksiatan itu menjadi karakter bangsa ini yang merupakan mayoritas Islam, tersiar kabar di tengah berbagai teguran dari Allah kepada kita akan datang pemeran penebar kemaksiatan untuk bermain film di Indonesia. Sekali lagi wahai para Alumni Ramadhan yang bertaqwa apakah kita akan rela jika bangsa ini mendapatkan murka dari Allah swt dengan membiarkan para penebar kemaksiatan berlenggok menghancurkan generasi yang daya hancurnya lebih dahsyat dari bom bali sekalipun karena mampu menghancurkan beberapa lapis generasi? Marilah kita memohon ampun kepada Allah atas segala kemaksiatan dan sebagai Alumni Ramadhan marilah kita terus stabilkan nilai-nilai ruhiyah dan berusaha semampu kita untuk mencegah kemaksiatan itu berada terus menggerus kehidupan pribadi dan masyarakat.&lt;br /&gt;Tugas Alumni Ramadhan memang berat karena ia akan terus berjuang agar mempertahankan suhu yang sama seperti bulan Ramadhan dalam hal bersikap sholeh dan khusyu dalam beribadah, tapi itu semua tidaklah menjadi sesuatu yang berat jika memang kita ikhlas menjalaninya. Namun bgi para alumni Ramadhan yang sebenarnya hal itu tidaklah mudah karena ia akan terus mengingat-ingat keindahan dan kelezatan iman pada saat Ramadhan dengan kemudian ia tetap menghidupkan malam-malamnya dengan qiyamul lail, merasakan kembali kenikmatan berbuka dengan menghidupkan puasa-puasa sunnah yakni puasa yaumul baidh, puasa senin kamis atau bahkan puasa daud, meneguhkan sikap sholeh social dengan menerapkan sikap ihsan dalam menjalankan aktivitasnya.&lt;br /&gt;Semoga kita semua diberikan oleh Allah kemudahan untuk terus membawa semangat Ramadhan dalam kehidupan selama sebelas bulan kedepan. Amin..selamat berjuang para Alumni Ramadhan… Allahu a’lam&lt;br /&gt;Oleh: Ridwan, SE&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-3599612632568984305?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/3599612632568984305/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/09/selamat-berjuang-alumni-ramadhan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/3599612632568984305'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/3599612632568984305'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/09/selamat-berjuang-alumni-ramadhan.html' title='Selamat Berjuang Alumni Ramadhan'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-2601192194538840719</id><published>2010-09-20T21:17:00.000-07:00</published><updated>2010-09-20T21:18:34.485-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='dunia islam'/><title type='text'>Pendeta Bob Old Pembakar Al Quran Dikabarkan Tewas</title><content type='html'>&lt;a href="http://www.tribun-timur.com/read/artikel/128767/Pendeta-Bob-Old-Pembakar-Al-Quran-Dikabarkan-Tewas"&gt;MAKASSAR&lt;/a&gt;, TRIBUN-TIMUR.COM - Pendeta Bold Old yang pernah membakar Al Quran bersama dengan Pendeta Danny Allen dari Tennessee, Amerika Serikat, dikabarkan tewas setelah mengalami kecelakan pada hari ini. Polisi menemukan Al Quran dan satu kotak korek api di dalam mobilnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Informasi mengenai hal itu bisa ditemukan di http://www.firetrainingsite.com/article-pastor-bob-old-died-in-a-car-crash-sky-news.html. Situs lainnya yakni www.turntoislam.com.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Situs http://www.firetrainingsite.com/ tidak mengambarkan secara jelas mengenai kabar tersebut, kecuali memuat sejumlah laman (link) yang mengabarkan hal itu. Beberapa laman yang dicoba Tribun pada Senin (20/09/2010), sudah tidak bisa lagi diakses dengan alasan koneksi yang terganggu. Mungkin karena saking banyaknya orang yang membaca laman tersebut sehingga server situs itu tidak mampu melayani permintaan pengguna internet.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bob membakar Al Quran bersama Danny Allen pad 11 September lalu untuk memperingati serangan teroris di Amerika Serikat, salah satunya dengan jatuhnya menara World Trade Center.(*)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-2601192194538840719?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/2601192194538840719/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/09/pendeta-bob-old-pembakar-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2601192194538840719'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2601192194538840719'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/09/pendeta-bob-old-pembakar-al-quran.html' title='Pendeta Bob Old Pembakar Al Quran Dikabarkan Tewas'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-3455656217753853992</id><published>2010-08-25T20:57:00.000-07:00</published><updated>2010-08-25T21:11:37.880-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='Idulfitri'/><title type='text'>Khutbah Idhul Fitri 1431 H: Mewujudkan Hakikat Taqwa</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://2.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/THXpYKmC7mI/AAAAAAAAANw/aE_UkIZUOAE/s1600/khutbahjumat.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 89px;" src="http://2.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/THXpYKmC7mI/AAAAAAAAANw/aE_UkIZUOAE/s320/khutbahjumat.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5509566320527732322" /&gt;&lt;/a&gt;الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر الله أكبر &lt;br /&gt;اَلْحَمْدُ لِلّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِيْنُهُ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوْبُ اِلَيْهِ وَنَعُوْذُ بِاللهِ مِنْ شُرُوْرِ اَنْفُسِنَا وَسَيِّئَاتِ اَعْمَالِنَا مَنْ يَهْدِ اللهُ فَلاَ مُضِلَّ لَهُ وَمَنْ يُضْلِلْ فَلاَ هَادِيَ لَهُ. اَشْهَدُ اَنْ لاَ اِلهَ اِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ وَاَشْهَدُ اَنَّ مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ وَالصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ عَلَى نَبِيِّنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى ءَالِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الدِّيْنِ. اَمَّا بَعْدُ: فَيَاعِبَادَ اللهِ : اُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَ اللهِ وَطَاعَتِهِ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ. قَالَ اللهُ تَعَالَى فِى الْقُرْآنِ الْكَرِيْمِ: يَااَيُّهَا الَّذِيْنَ اَمَنُوا اتَّقُوا اللهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلاَ تَمُوْتُنَّ اِلاَّ وَاَنْتُمْ مُسْلِمُوْنَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.&lt;br /&gt;Kaum Muslimin Rahimakumullah.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ramadhan yang telah kita akhiri memberikan kebahagiaan tersendiri bagi kita, hal ini karena ibadah Ramadhan yang salah satunya adalah berpuasa memberikan nilai pembinaan yang sangat dalam, yakni mengokohkan dan memantapkan ketaqwaan kita kepada Allah swt, sesuatu yang amat kita butuhkan dalam kehidupan di dunia maupun di akhirat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Agar pencapaian peningkatan taqwa bisa kita raih dan dapat kita buktikan dalam kehidupan sehari-hari, menjadi penting bagi kita memahami hakikat taqwa yang sesungguhnya. Dalam bukunya Ahlur Rahmah, Syekh Thaha Abdullah al Afifi mengutip ungkapan sahabat Nabi Muhammad saw yakni Ali bin Abi Thalib ra tentang taqwa, yaitu:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;الْخَوْفُ مِنَ الْجَلِيْلِ وَالْعَمَلُ بِالتَّنْزِيْلِ وَاْلإِسْتِعْدَادُ لِيَوْمِ الرَّحِيْلِ وَالرِّضَا بِالْقَلِيْلِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Takut kepada Allah yang Maha Mulia, mengamalkan apa yang termuat dalam at tanzil (Al-Qur’an), mempersiapkan diri untuk hari meninggalkan dunia dan ridha (puas) dengan hidup seadanya (sedikit)&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ungkapan di atas, ada empat hakikat taqwa yang harus ada pada diri kita masing-masing dan ini bisa menjadi tolok ukur keberhasilan ibadah Ramadhan kita.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama, Takut Kepada Allah&lt;/span&gt;. Salah satu sikap yang harus kita miliki adalah rasa takut kepada Allah swt. Takut kepada Allah bukanlah seperti kita takut kepada binatang buas yang menyebabkan kita harus menjauhinya, tapi takut kepada Allah swt adalah takut kepada murka, siksa dan azab-Nya sehingga hal-hal yang bisa mendatangkan murka, siksa dan azab Allah swt harus kita jauhi. Sedangkan Allah swt sendiri harus kita dekati, inilah yang disebut dengan taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, orang yang takut kepada Allah swt tidak akan melakukan penyimpangan dari segala ketentuan-Nya. Namun sebagai manusia biasa mungkin saja seseorang melakukan kesalahan, karenanya bila kesalahan dilakukan, dia segera bertaubat kepada Allah swt dan meminta maaf kepada orang yang dia bersalah kepadanya, bahkan bila ada hak orang lain yang diambilnya, maka dia mau mengembalikannya. Yang lebih hebat lagi, bila kesalahan yang dilakukan ada jenis hukumannya, maka iapun bersedia dihukum bahkan meminta dihukum sehingga ia tidak menghindar dari hukuman. Allah swt berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa"&lt;/span&gt; (QS Ali Imran [3]:133).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai contoh, pada masa Rasul ada seorang wanita yang berzina dan ia amat menyesalinya, dari perzinahan itu ia hamil dan sesudah taubat iapun datang kepada Rasul untuk minta dihukum, namun Rasul tidak menghukumnya saat itu karena kehamilan yang harus dipelihara. Sesudah melahirkan dan menyusui anaknya, maka wanita itu dihukum sebagaimana hukuman untuk pezina yang menyebabkan kematiannya, saat Rasul menshalatkan jenazahnya, Umar bin Khattab mempersoalkannya karena ia wanita pezina, Rasulullah kemudian menyatakan: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَقَدْ تَابَتْ تَوْبَةً لَوْ قُسِمَتْ بَيْنَ سَبْعِيْنَ مِنْ أَهْلِ الْمَدِيْنَةِ لَوَسِعَتْهُمْ وَهَلْ وَجَدْتَ أَفْضَلَ مِنْ أَنْ جَادَتْ بِنَفْسِهَا ِللهِ عَزَّ وَجَلَّ     &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Ia telah bertaubat, suatu taubat yang seandainya dibagi pada tujuh puluh orang penduduk Madinah, niscaya masih cukup. Apakah ada orang yang lebih utama dari seorang yang telah menyerahkan dirinya kepada hukum Allah?"&lt;/span&gt; (HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibadah puasa dan ibadah-ibadah lainnya mendidik kita untuk menjadi orang yang takut kepada Allah swt yang membuat kita akan selalu menyesuaikan diri dengan segala ketentuan-ketentuan-Nya. Kalau kita ukur dari sisi ini, kenyataan menunjukkan bahwa banyak sekali orang yang belum bertaqwa karena tidak ada rasa takutnya kepada Allah swt.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.&lt;br /&gt;Kaum Muslimin Rahimakumullah&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat taqwa yang Kedua kata Ali bin Abi Thalib adalah Beramal Berdasarkan Wahyu. Al-Qur’an diturunkan oleh Allah swt untuk menjadi petunjuk bagi manusia agar bisa bertaqwa kepada-Nya. Karena itu, orang yang bertaqwa akan selalu beramal atau melakukan sesuatu berdasarkan wahyu yang diturunkan oleh Allah swt, termasuk wahyu adalah hadits atau sunnah Rasulullah saw karena ucapan dan prilaku Nabi memang didasari oleh wahyu. Dengan kata lain, seseorang disebut bertaqwa bila melaksanakan perintah Allah swt dan menjauhi larangan-Nya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam konteks inilah, menjadi amat penting bagi kita untuk selalu mengkaji al-Quran dan al Hadits, sebab bagaimana mungkin kita akan beramal sesuai dengannya, bila memahaminya saja tidak dan bagaimana pula kita bisa memahami bila membaca dan mengkajinya tidak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam kehidupan para sahabat, mereka selalu berusaha untuk beramal berdasarkan wahyu, karenanya mereka berusaha mengkajinya kepada Nabi dan para sahabat, bahkan tidak sedikit dari mereka yang suka bertanya. Meskipun mereka suka melakukan sesuatu, tapi bila ternyata wahyu tidak membenarkan mereka melakukannya, maka merekapun berusaha untuk meninggalkannya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika ada beberapa orang sahabat yang dahulunya beragama Yahudi, mereka ingin sekali bisa melaksanakan lagi ibadah pada hari Sabtu dan menjalankan kitab taurat, tapi turun firman Allah swt yang membuat mereka tidak jadi melakukannya, ayat itu adalah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu"&lt;/span&gt; (QS Al Baqarah [2]:208).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.&lt;br /&gt;Kaum Muslimin Yang Berbahagia&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga yang merupakan hakikat taqwa menurut Ali bin Abi Thalib ra  yang harus kita hasilkan dari ibadah Ramadhan kita adalah Mempersiapkan Diri Untuk Akhirat&lt;/span&gt;. Mati merupakan sesuatu yang pasti terjadi pada setiap orang. Keyakinan kita menunjukkan bahwa mati bukanlah akhir dari segalanya, tapi mati justeru awal dari kehidupan baru, yakni kehidupan akhirat yang enak dan tidaknya sangat tergantung pada keimanan dan amal shaleh seseorang dalam kehidupan di dunia ini. Karena itu, orang yang bertaqwa akan selalu mempersiapkan dirinya dalam kehidupan di dunia ini untuk kebahagiaan kehidupan di akhirat. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bila kita sudah menyadari kepastian adanya kematian, maka kita tidak akan mensia-siakan kehidupan di dunia yang tidak lama. Kita akan berusaha mengefektifkan perjalanan hidup di dunia ini untuk melakukan sesuatu yang bisa memberikan nilai positif, sebagai apapun kita. Karena itu bila kita tidak efektif dan orang mengkritik kita, harus kita terima kritik itu denga senang hati. Khalifah Umar bin Abdul Aziz salah satu contohnya.  &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika Umar bin Abdul Aziz telah menerima jabatan sebagai khalifah, dia merasa perlu beristirahat karena kondisi badannya yang sudah amat lelah dan mata yang sudah amat ngantuk, apalagi ia baru saja mengurus keluarganya yang meninggal yakni Khalifah Sulaiman. Baru saja dia merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dan meletakkan kepalanya di atas bantal, tiba-tiba datang Abdul Malik lalu berkata: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ayah, apa yang akan ayah lakukan sekarang?”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku ingin istirahat sejenak anakku”&lt;/span&gt;, jawab Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apakah ayah akan beristirahat, padahal ayah belum mengembalikan harta rakyat yang dirampas secara zalim kepada yang berhak?”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku akan lakukan semua itu nanti setelah zuhur, semalam aku tidak bisa tidur karena mengurus pamanmu”,&lt;/span&gt; jawab Umar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Ayah, siapa yang bisa memberi jaminan bahwa ayah akan tetap hidup sampai zuhur nanti?”&lt;/span&gt;. Tanya Abdul Malik lagi menghentak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mendengar pertanyaan anaknya itu, terbakar rasanya semangat Umar sehingga seperti hilang rasa ngantuk dan lelah yang dialaminya, lalu Umar berkata: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Nak…mendekatlah kepadaku”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setelah Abdul Malik mendekat, Umar mencium keningnya lalu berkata: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Segala puji bagi Allah yang telah menganugerahkan kepadaku anak keturunan yang membantuku dalam agamaku”&lt;/span&gt;. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Khalifah Umar bin Abdul Aziz segera bangkit dari tempat tidurnya dan iapun mengumumkan: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Barangsiapa yang hartanya telah diambil secara zalim, maka hendaklah ia mengangkat permasalahannya”&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Efektifitas waktu hidup yang digunakan membuat Khalifah Umar bin Abdul Aziz sampai kesulitan mencari mustahik karena tingkat kesejahteraan yang tingggi. Harus kita akui banyak diantara kita yang merasa mati masih lama sehingga tidak muncul amal shaleh, baik sebagai pribadi, keluarga, masyarakat maupun organisasi sosial dan politik, keluhan kita adalah tidak punya waktu, kekurangan waktu, karena itu Allah swt mengingatrkan kita semua: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, Maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya" &lt;/span&gt;(QS Al Kahfi [18]:110).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala seseorang sudah melakukan segala sesuatu sebagai bentuk persiapan untuk kehidupan sesudah kematian, maka orang seperti inilah yang disebut dengan orang yang cerdas, meskipun ia bukan sarjana. Karena itu, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَلْكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ الْمَوْتِ&lt;br /&gt;  &lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan nafsunya dan beramal bagi kehidupan sesudah mati"&lt;/span&gt;(HR. Ahmad, Tirmidzi dan Hakim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Allahu Akbar 3x Walillahilhamdu.&lt;br /&gt;Kaum Muslimin Yang Dimuliakan Allah swt&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat taqwa yang &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Keempat menurut Ali bin Abi Thalib adalah Ridha Meskipun Sedikit&lt;/span&gt;. Setiap kita pasti ingin mendapat sesuatu khususnya harta dalam jumlah yang banyak sehingga bisa mencukupi diri dan keluarga serta bisa berbagi kepada orang lain. Namun keinginan tidak selalu sejalan dengan kenyataan, ada saat dimana kita mendapatkan banyak, tapi pada saat lain kita mendapatkan sedikit, bahkan sangat sedikit dan tidak cukup. Orang yang bertaqwa selalu ridha dan menerima apa yang diperolehnya meskipun jumlahnya sedikit, inilah yang disebut dengan qana’ah, sedangkan kekurangan dari apa yang diharapkan bisa dicari lagi dengan penuh kesungguhan dan cara yang halal. Korupsi yang menjadi penyakit bangsa kita hingga sekarang adalah karena tidak ada sikap ridha menerima yang menjadi haknya, akibatnya ia masih saja mengambil hak orang lain dan administrasi serta penguatan hokum atas penyimpangan yang dilakukannya bisa diatur, karenanya Allah swt mengingatkan kita semua dalam firman-Nya:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui"&lt;/span&gt;.(QS Al Baqarah [2]:188).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Suatu ketika, Ali bin Abi Thalib baru pulang lebih sore dari biasanya. Isterinya, Fatimah putri Rasulullah menyambut kedatangan suaminya dengan sukacita. Siapa tahu Ali membawa uang lebih banyak karena kebutuhan di rumah makin besar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesudah melepas lelah, Ali berkata kepada Fatimah, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Aku mohon maaf karena tidak membawa uang sepeserpun.”&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;Tidak nampak sedikitpun kekecewaan pada wajah Fatimah, bahkan ia tetap tersenyum dan bisa memaklumi keadaan suami yang dicintainya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ali amat terharu terhadap isterinya yang begitu tawakkal meskipun ia tidak bisa memasak malam itu karena memang tidak ada bahan makanan yang bisa dimasak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika waktu shalat tiba, seperti biasa Ali lalu berangkat ke masjid untuk menjalankan salat berjama’ah. Sepulang dari shalat, seorang yang sudah tua menghentikan langkahnya menuju rumah. &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Maaf anak muda, betulkah engkau Ali, anaknya Abu Thalib?”&lt;/span&gt;, tanya orang itu.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Betul”&lt;/span&gt;, jawab Ali heran. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang tua itu merogoh kantungnya seraya berkata, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Dulu ayahmu pernah kusuruh menyamak kulit. Aku belum sempat membayar ongkosnya, ayahmu sudah meninggal. Jadi, terimalah uang ini, sebab engkaulah ahli warisnya.”&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan amat gembira Ali mengambil uang itu yang berjumlah 30 dinar. Sesampai di rumah, Ali kemukakan kepada isterinya rizki yang tidak terduga itu. Tentu saja Fatimah sangat gembira ketika Ali menceritakan kejadian itu. Dan ia menyuruh membelanjakannya semua agar tidak pusing-pusing lagi merisaukan keperluan sehari-hari. Tanpa berpikir panjang, Ali langsung berangkat menuju pasar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika hampir tiba ke pasar, Ali melihat seorang fakir menadahkan tangan, &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Siapakah yang mau menghutangkan hartanya untuk Allah, bersedekahlah kepadaku, seorang musafir yang kehabisan bekal di perjalanan.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tanpa berpikir panjang lebar, Ali memberikan seluruh uangnya kepada orang itu dan Ali pulang dengan tangan kosong. Tentu saja melihat sang suami pulang tidak bawa apa-apa, Fatimah terheran-heran. Ali menerangkan peristiwa yang baru saja dialaminya dan ini justeru membuat Fatimah begitu terharu terhadap sang suami. Dengan diiringi senyum yang manis, Fatimah berkata: &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“Apa yang engkau lakukan juga akan aku lakukan seandainya aku yang mengalaminya. Lebih baik kita menghutangkan harta kepada Allah daripada bersifat bakhil yang dimurkai-Nya.”&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sikap menerima membuat kita bisa bersyukur dan bersyukur membuat kita akan memperoleh rizki dalam jumlah yang lebih banyak, bahkan bila jumlahnya belum juga lebih banyak, rasa syukur membuat kita bisa merasakan sesuatu yang sedikit terasa seperti banyak sehingga yang merasakan manfaatnya tidak hanya kita dan keluarga tapi juga orang lain. Inilah diantara makna yang harus kita tangkap dari firman Allah swt: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Dan (ingatlah juga), tatkala Tuhanmu memaklumkan; "Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), Maka Sesungguhnya azab-Ku sangat pedih".&lt;/span&gt; (QS Ibrahim [14]:7).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari uraian di atas dapat kita simpulkan bahwa bertaqwa kepada Allah swt memerlukan kesungguhan sehingga kita dituntut untuk bertaqwa dengan sebenar-benarnya. Akhirnya marilah kita sudahi ibadah shalat Id kita dengan berdoa:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ انْصُرْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ النَّاصِرِيْنَ وَافْتَحْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْفَاتِحِيْنَ وَاغْفِرْ لَنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الْغَافِرِيْنَ وَارْحَمْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّاحِمِيْنَ وَارْزُقْنَا فَاِنَّكَ خَيْرُ الرَّازِقِيْنَ وَاهْدِنَا وَنَجِّنَا مِنَ الْقَوْمِ الظَّالِمِيْنَ وَالْكَافِرِيْنَ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, tolonglah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pertolongan. Menangkanlah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi kemenangan. Ampunilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi pemberi ampun. Rahmatilah kami, sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rahmat. Berilah kami rizki sesungguhnya Engkau adalah sebaik-baik pemberi rizki. Tunjukilah kami dan lindungilah kami dari kaum yang dzalim dan kafir. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ أَصْلِحْ لَنَا دِيْنَناَ الَّذِى هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِنَا وَأَصْلِحْ لَنَا دُنْيَانَ الَّتِى فِيْهَا مَعَاشُنَا وَأَصْلِحْ لَنَا آخِرَتَنَا الَّتِى فِيْهَا مَعَادُنَا وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لَنَا فِى كُلِّ خَيْرٍ وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لَنَا مِنْ كُلِّ شرٍّ &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, perbaikilah agama kami untuk kami, karena ia merupakan benteng bagi urusan kami. Perbaiki dunia kami untuk kami yang ia menjadi tempat hidup kami. Perbikilah akhirat kami yang menjadi tempat kembali kami. Jadikanlah kehidupan ini sebagai tambahan bagi kami dalam setiap kebaikan dan jadikan kematian kami sebagai kebebasan bagi kami dari segala kejahatan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اقْسِمْ لَنَا مِنْ خَشْيَتِكَ مَاتَحُوْلُ بَيْنَنَا وَبَيْنَ مَعْصِيَتِكَ وَمِنْ طَاعَتِكَ مَا تُبَلِّغُنَابِهِ جَنَّتَكَ وَمِنَ الْيَقِيْنِ مَاتُهَوِّنُ بِهِ عَلَيْنَا مَصَائِبَ الدُّنْيَا. اَللَّهُمَّ مَتِّعْنَا بِأَسْمَاعِنَا وَأَبْصَارِنَا وَقُوَّتِنَا مَا أَحْيَيْتَنَا وَاجْعَلْهُ الْوَارِثَ مِنَّا وَاجْعَلْهُ ثَأْرَنَا عَلَى مَنْ عَاداَنَا وَلاَ تَجْعَلْ مُصِيْبَتَنَا فِى دِيْنِنَاوَلاَ تَجْعَلِ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلاَ مَبْلَغَ عِلْمِنَا وَلاَ تُسَلِّطْ عَلَيْنَا مَنْ لاَ يَرْحَمُنَا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, anugerahkan kepada kami rasa takut kepada-Mu yang membatasi antara kami dengan perbuatan maksiat kepadamu dan berikan ketaatan kepada-Mu yang mengantarkan kami ke surga-Mu dan anugerahkan pula keyakinan yang akan menyebabkan ringan bagi kami segala musibah di dunia ini. Ya Allah, anugerahkan kepada kami kenikmatan melalui pendengaran, penglihatan dan kekuatan selamakami masih hidup dan jadikanlah ia warisan bagi kami. Dan jangan Engkau jadikan musibah atas kami dalam urusan agama kami dan janganlah Engkau jadikan dunia ini cita-cita kami terbesar dan puncak dari ilmu kami dan jangan jadikan berkuasa atas kami orang-orang yang tidak mengasihi kami.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ وَالْمُؤْمِنِيْنَ وَالْمُؤْمِنَاتِ اَلأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالأَمْوَاتِ اِنَّكَ سَمِيْعٌ قَرِيْبٌ &lt;br /&gt;مُجِيْبُ الدَّعْوَاتِ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, ampunilah dosa kaum muslimin dan muslimat, mu’minin dan mu’minat, baik yang masih hidup maupun yang telah meninggal dunia. Sesungguhnya Engkau Maha Mendengar, Dekat dan Mengabulkan do’a. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; رَبَّنَا اَتِنَا فِى الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِى الأَخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ya Allah, anugerahkanlah kepada kami kehidupan yang baik di dunia, kehidupan yang baik di akhirat dan hindarkanlah kami dari azab neraka. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh: Drs. H. Ahmad Yani&lt;br /&gt;Penulis 26 Buku, Ketua LPPD Khairu Ummah&lt;br /&gt;Pemimpin Redaksi www.nuansaislam.com &lt;br /&gt;Email: ayani_ku@yahoo.co.id. HP 08129021953&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-3455656217753853992?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/3455656217753853992/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/08/khutbah-idhul-fitri-1431-h-mewujudkan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/3455656217753853992'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/3455656217753853992'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/08/khutbah-idhul-fitri-1431-h-mewujudkan.html' title='Khutbah Idhul Fitri 1431 H: Mewujudkan Hakikat Taqwa'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://2.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/THXpYKmC7mI/AAAAAAAAANw/aE_UkIZUOAE/s72-c/khutbahjumat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-7895297206159410112</id><published>2010-08-24T23:14:00.000-07:00</published><updated>2010-08-24T23:18:13.610-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlaq'/><title type='text'>Arti Sebuah Kejujuran</title><content type='html'>Sesungguhnyua sifat dusta akan membawa kamu kepada kejahatan, dan perbuatan jahat akan membawa ke neraka&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Didalam Islam, akhlaq tidak boleh dilepaskan dari aqidah dan Ibadah. Kalau kita ambil contoh buah, tentu buah ada bijinya, dan biji itulah inti, inti itulah yang disebut aqidah, dimana segala asal yang terjadi didalam kehidupan seorang muslim adalah karena aqidah (karena beriman kepada Allah).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Aqidah hanya akan menjadi omong kosong jika tidak diikuti dengan ibadah sehingga jika ada 0rang mengakui iman sementara tidak ibadah, maka iman orang itu akan dikalahkan oleh syetan, karena masalahnya bukan hanya sekedar mengakui adanya Allah, karena syetan pun mengakui adanya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Syetan mengakuinya bahwa dia diciptakan oleh Allah dari api, itu artinya syetan mengakui bahwa yang menciptakan dia adalah Allah. Maka intinya aqidah diproses oleh ibadah. Jika kita mengakui beriman, cinta kepada Allah, cinta kepada rasul sementara tidak mau beribadah, itu adalah pengakuan yang kosong.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Indikasi benarnya dalam aqidah adalah dilihat dari kulitnya (akhlaqnya) . kulit atau tampilan luar adalah akhlaq. Kalau kulitnya (akhlaqnya) tidak baik maka itu pertanda isinya (aqidahnya) tidak baik. Datang seorang wanita kepada Rasulullah SAW, lalu mengatakan : dia punya teman seorang perempuan yang shalatnya hebat, puasanya kuat, tapi kekurangannya ya Rasulullah, apabila mulutnya terbuka, maka akan lebih ganas dibanding harimau. Ketika mulutnya terbuka selalu ada yang disakiti, menyinggung dan menyakiti perasaan orang. Kesimpulan yang diungkapkan oleh Rasulullah adalah hubungannya antara akhlaq dengan ibadah. Kesimpulan itu adalah “ dia didalam api neraka “. Ini artinya, kalau akhlaqnya tidak benar, maka tidak ada artinya ibadah seorang perempuan tersebut, karena ibadah yang benar akan melahirkan akhlaq yang benar.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jadi akhlaq bukan masalah boleh-boleh saja, ini masalah serius yang menyangkut ibadah dan aqidah. Rasulullah SAW pernah mengungkapkan tiga kali berturut-turut kata-kata “ Laa yu’min “ (tidak beriman). Para sahabat tercengang dan bertanya kepada Rasulullah : ”siapakah itu ya Rasulullah?” . Rasulullah menjawab “ Barang siapa tetangganya tidak merasa aman dari sikap dan prilakunya “. Pembahasan ini bukan pembahasan yang sederhana tapi menyangkut keimanan dan ibadah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau membahas masalah akhlaq, maka tidak boleh terlepas hubungannya dengan aqidah dan ibadah. Semua tujuan manusia di dunai selain mencari pahala dari Allah tentunya adalah untuk beribadah dan membentuk Akhlaq. Contohnya adalah shalat. Tujuan shalat adalah untuk mencegah dari perbuatan keji dan mungkar. Kalau orang terus melakukan shalat sementara tidak lepas dari perbuatan keji dan mungkar, sama seperti pedagang yang terus berdagang tetapi tidak mendapatkan keuntungan sesuai tujuan (tidak mencapai tujuan). Begitupun dengan puasa, zakat haji dan ibadah-ibadah yang lainnya. Jadi , semua aktivitas harus bernilai ibadah harus ada unsur akhlaq dari setiap aktivitas ibadah yang dilakukan oleh manusia itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada satu akhlaq yang sangat mendasar didalam Islam yaitu As Siddqi (jujur), lawannya adalah al kadzibu (dusta atau bohong). Rasulullah bersabda: “ setiap mukmin mungkin saja mempunyai sikap yang jelek,. Tetapi yang tidak boleh adalah al kadzibu (bohong) atau al khianat (khianat). Datang seorang kepada rasulullah dan berkata : “Ya Rasulullah, mungkinkah seorang mukmin itu penakut, mungkinkah seorang mukmin itu bakhil ?”. Jawab Rasulullah : “mungkin”. Sahabat kembali bertanya : “Mungkinkah seseorang mukmin al Kadzab (berdusta) ? Rasulullah menjawab : “Tidak mungkin”. Artinya akhlaq dasar yang paling minimal yang kita miliki yang mengatakan aku beriman kepada Allah adalah jujur. Lalu kalau ada orang mukmin tetapi bohongnya melebihi dari orang kafir, maka inilah yang menjadi masalah kita. Kadang kita sering berbohong tetapi tidak merasa iman kita bermasalah. Jadi, sifat dasar yang harus dimiliki seorang mukmin setelah berikrar dua kalimat syahadat adalah jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika masyarakat dibangun atas dasar kejujuran, maka akan terasa indah dan semua akan saling percaya. Jika diambil salah satu contoh dalam cerita pada masa Rasulullah, ada sebuah masjid yang pernah memiliki dua kiblat sehingga disebut masjid kiblatain, yaitu kiblat yang menghadap Masjid Al-Aqsa dan kiblat yang menghadap Masjidil Haram. Ketika turun ayat tentang perintah berubahnya kiblat dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram, maka Rasulullah mengutus para sahabatnya ba’da shalat dzuhur untuk menyeru kepada masjid-masjid agar merubah kiblatnya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masjid kiblatain dahulunya disebut masjid banu salamah. Ketika utusan Rasulullah tiba di masjid itu, (Masjid Banu Salamah) kaum muslimin ketika itu sedang melaksanakan shalat Ashar, lalu utusan Rasulullah itu meneriakan bahwa kiblat kita sudah berpindah (berubah). Kalau kita bayangkan jika berita itu terjadi pada masa sekarang atau hari ini ? barangkali ada dua kemungkinan, yakni cuek atau mungkin shalatnya akan bubar. Tapi waktu itu karena setiap mukmin itu jujur dan tidak pernah berbohong, maka makmum beserta imam serentak pindah arah kiblatnya karena yang memerintah orang mukmin dan yang mendengarpun orang mukmin. Tapi kalau sekarang, akan terasa repot kalau tidak melakukan cek dan ricek. Karena yang mendengarkan sering bohong dan yang menyampaikannya pun sering bohong yang akhirnya sama-sama saling suudzan (berburuk sangka). Hari ini gosip adalah berita yang saling menarik, dan gosip adalah duit dan kita sendiripun paling senang dengan berita gosip.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mengapa kita tidak jujur ? mengapa kita sering berdusta ?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita sering kali sulit untuk menerima berita, karena kebanyakan berita yang beredar ditengah-tengah kita bukan kebenaran. Pada masa sekarang orang lebih banyak “ berprasangka “ kepada orang lain. Pada zaman Rasulullah pun pernah terjadi prasangka, ada seorang yang berjalan dengan seorang perempuan di tempat yang remang-remang. Lalu orang tersebut itu mengklarifikasi kepada Rasulullah: “ Ya Rasulullah, yang berjalan itu adalah aku dan isrteriku. Rasulullah berkata : ”Jangan letakan dirimu pada tempat dimana orang akan berburuk sangka terhadap dirimu”. Jadi harus timbal balik, yakni kita tidak boleh berburuk sangka kepada orang lain dan juga tidak boleh membuat orang berburuk sangka kepada diri kita. Artinya kalau orang lain tidak berburuk sangka kepada kita, maka kita jangan memposisikan diri kita pada tempat dimana orang lain akan berburuk sangka kepada kita. Karena sering adanya prasangka-prasangka seperti ini, maka kebanyakan kita adalah berprasangka bukan kebenaran. Maka salah satu yang dilarang oleh Rasulullah adalah “ qola waqila “ (katanya, katanya). Akibat terlalu banyak katanya-katanya Akhirnya benarnya tidak dibahas, bahkan berita yang benar A tetapi yang datang kepada orang Z.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sifat yang tidak disukai oleh Allah adalah bohong, dan sifat yang dicintai oleh Allah adalah jujur.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda yang diriwayatkan oleh Aisyah dikatakan bahwa: “ Sifat yang dibenci oleh Rasulullah adalah bohong”. Kalau ada orang yang berbohong sekali, maka tidak akan hilang dalam ingatan Rasulullah sampai orang itu bertaubat. Mengapa bohong itu sangat serius ? dan jujur sangat penting ?. Jujur adalah pintu kebaikan. Bohong adalah pintu kejahatan. Artinya, kalau yang kita buka adalah pintu kejujuran, maka yang akan masuk adalah semua kebaikan. Seballiknya bohong adalah pintu kejahatan, kalau yang dibuka pintu kebohongan maka yang akan masuk adalah seluruh kejahatan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah saw bersabda :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Wajib bagi kamu berlaku jujur, sesungguhnya kejujuran akan membawa kamu kepada kebaikan dan kebaikan akan membawa ke syurga”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika seseorang selalu jujur dan selalu berusaha untuk jujur, maka akan menjadikan dia selalu jujur. Abu Bakar disebut sebagai “ As Sidiq “ karena Beliau benar-benar orang yang jujur dan selalu yang pertama jujur kepada kebenaran. Ketika rasulullah bercerita tentang Isra dan Mi’raj, Abu Bakar tidak pernah berfikir tentang kejadian itu mungkin atau tidak mungkin walaupun secara logika itu tidak mungkin, karena Rasulullah saw seorang yang jujur maka Beliau mengatakan “ engkau benar ya Rasulullah “.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kalau kita berusaha jujur dan benar, Allah akan menjadikan kita orang yang benar. Menjadi orang yang benar tidak akan nyaman kalau bohong. Dalam lanjutan hadits di atas&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Jauhilah sifat dusta ( bohong ). Sesungguhnyua sifat dusta akan membawa kamu kepada kejahatan, dan perbuatan jahat akan membawa ke neraka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ada seorang yang datang kepada Rasulullah ingin memeluk agama Islam tetapi ia sangat menyukai berbuat zina.. Persoalan tersebut jika dibawa kepada seorang psikiater barangkali resepnya akan banyak, Akan tetapi Rasulullah sangat singkat memberikan resepnya, yaitu tidak boleh berdusta (bohong). Apa hubungan zina dengan bohong ? bohong adalah pintunya, jika pintunya dibuka, maka segala dosa itu akan masuk, tapi jika kebohongan itu ditutup maka segala dosa tidak akan masuk. Artinya dari seluruh kejahatan yang kita kerjakan itu akibat kita sering berani berbohong dan berdusta.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh : Marhadi Muhayar, Lc., M.A.&lt;br /&gt;http://www.percikaniman.org/detail_artikel.php?cPub=Hits&amp;cID=409&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-7895297206159410112?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/7895297206159410112/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/08/arti-sebuah-kejujuran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/7895297206159410112'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/7895297206159410112'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/08/arti-sebuah-kejujuran.html' title='Arti Sebuah Kejujuran'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-8652099356099880905</id><published>2010-08-19T19:55:00.000-07:00</published><updated>2010-08-19T20:04:51.952-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tausiah'/><title type='text'>Ramadhan dan Kemerdekaan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TG3u72HW_4I/AAAAAAAAANo/atIFAjxu4zQ/s1600/khutbahjumat.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 89px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TG3u72HW_4I/AAAAAAAAANo/atIFAjxu4zQ/s320/khutbahjumat.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5507320631250059138" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Merupakan nikmat yang sangat besar dan tiada tara, bahwa hari ini kita dipertemukan Allah Azza wa jalla dengan Ramadhan dalam keadaan Islam dan Iman. Dengan pertemuan ini kita mendapatkan kesempatan besar untuk mendapat ampunan dari Allah SWT, sebagaimana sabda Rasulullah SAW:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa yang berpuasa karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.&lt;/span&gt; (Muttafaq 'Alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Juga dalam sabdanya yang lain, saat redaksi shama (puasa) diganti dengan qaama (qiyamullail):&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa yang qiyam (lail) Ramadhan karena iman dan mengharap perhitungan (pahala) akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.&lt;/span&gt; (Muttafaq 'Alaih)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka ini adalah kesempatan besar, sekaligus nikmat yang agung. Akan tetapi, peluang besar ini juga menjadi sebuah kecelakaan bagi orang-orang yang menyia-nyiakannya sehingga ia keluar dari Ramadhan tanpa ampunan dari Rabb-nya. Maka malaikat Jibril pun mendoakan dengan diamini Rasulullah:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;بَعُدَ مَنْ أَدْرَكَ رَمَضَانَ، فَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Celakalah seorang yang memasuki bulan Ramadhan namun dia tidak diampuni&lt;/span&gt; (HR. Hakim dan Thabrani)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Ramadhan kita kali ini bertepatan dengan HUT Kemerdekaan Republik Indonesia ke-65. Kita pun perlu mensyukuri nikmat kemerdekaan itu. Bahwa kemerdekaan itu kita raih di bulan Ramadhan pada tanggal 17 Agustus 1945, para pendahulu kita pun telah menyatakan bahwa ia merupakan rahmat dari Allah SWT. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Di samping itu, sungguh peristiwa ini menjadi penguat bagi salah satu nama bulan Ramadhan. Yakni syahrul jihad. Bahwa Ramadhan adalah bulan di saat kaum muslimin memiliki gairah besar untuk berjihad menegakkan agama Allah, bukan bulan yang memperlemah umat Islam dalam hari-hari yang penuh kelesuan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka sejarah umat bicara. Perang Badar terjadi pada bulan Ramadhan dan kaum muslimin menuai kemenangan yang gemilang. 313 pasukan Islam berhasil mengalahkan 1000 pasukan kafir Quraisy yang bersenjatakan lengkap. Kemenangan gemilang pertama yang diraih umat Islam ini kemudian menjadi penguat eksistensi kaum muslimin di Madinah dan pembuka bagi kemenangan-kemenangan Islam berikutnya. Adakah pakar militer saat itu yang bisa memprediksi bahwa Rasulullah dan para sahabatnya bisa memenangkan peperangan? Dan kemenangan jihad ini terjadi di bulan Ramadhan!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Enam tahun kemudian terjadi peristiwa yang jauh lebih besar dan mempesona. Inilah penaklukan paling indah dalam sejarah umat manusia. Penaklukan tanpa korban jiwa. Kemenangan besar tanpa tetesan darah! Sepuluh ribu pasukan Islam yang dipimpin oleh Rasulullah memasuki Makkah dengan tenang, menang tanpa perlawanan. Bukan hanya kemenangan secara fisik yang membuat pasukan Makkah tidak berani memberontak, tetapi juga kemenangan jiwa sehingga keimanan masuk ke jiwa-jiwa mayoritas penduduk Makkah menggantikan seluruh kekufuran dan permusuhan mereka. Maka, tak ada satupun yang membela saat 360-an berhala di sekeliling ka’bah dihancurkan. Tak ada yang meratapi atau melakukan demontrasi saat berhala-berhala itu dilenyapkan. Sebab, sesaat sebelum dilenyapkan dari masjidil haram, Allah telah melenyapkan dari hati mereka. Inilah jihad dan kemenangan besar yang juga terjadi di bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;650 tahun kemudian juga terjadi peperangan yang dikenal dengan nama Ain Jaluth. Pasukan Islam melawan pasukan Tartar. Dua tahun sebelumnya Tartar di bawah pimpinan Hulako Khan telah menyerang Baghdad. Maka, bulan-bulan berikutnya adalah masa penderitaan dan kekalahan kaum muslimin, jatuhnya Baghdad, serta terbunuhnya khalifah. Hingga akhirnya jihad dikumandangkan yang terkenal dengan sebutan Perang Ain Jaluth. Kaum muslimin berhasil menuai kemenangan atas Tartar. Dan ini juga terjadi pada bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Masih banyak sejarah jihad yang dimenangkan kaum muslimin di bulan Ramadhan.&lt;br /&gt;Pada Ramadhan tahun 15 Hijrah, terjadi perang Qadisiyyah dimana orang-orang Majusi di Persia ditumbangkan. Pada Ramadhan tahun 53 H, umat Islam memasuki pulau Rhodes di Eropa. Pada bulan Ramadhan tahun 91 H, umat Islam memasuki selatan Andalusia. Pada Ramadhan tahun 92 H., umat Islam keluar dari Afrika dan membuka Andalusia dengan komandan Thariq bin Ziyad.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika Ramadhan telah menjadi bulan jihad, maka mari kita berdiri untuk memandangi wajah negeri ini. Sudahkah ia merdeka secara hakiki? Dan sudahkah kita mendapatkan kemerdekaan hakiki sebagai umat Islam Indonesia?&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kemerdekaan pertama yang harus dimiliki oleh manusia adalah kemerdekaan dari segala bentuk peribadatan kepada selain Allah&lt;/span&gt;. Jika seorang manusia masih dicekam ketakutan kepada sesama manusia, atau makhluk lain, lalu bisakah ia disebut merdeka? Padahal manusia sama derajatnya di sisi Allah. Yang membedakan hanyalah ketaqwaannya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa&lt;/span&gt; (QS. Al-Hujurat : 13)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika dengan sesama manusia saja tidak boleh menghamba, maka bagaimanakah kiranya orang yang menghamba kepada makhluk lain selain manusia yang kedudukannya lebih rendah. Baik itu makhluk hidup, makhluk ghaib, maupun materi seperti harta dan kekuasaan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kemerdekaan pertama adalah kemerdekaan aqidah&lt;/span&gt;. Bahwa kita hanya beribadah kepada Allah, takut kepada Allah, dan berharap hanya pada Allah. Bertauhid dengan benar. Sehingga seorang mukmin tidak lagi memiliki kekhawatiran dan ketakutan, Bila hal ini terjadi, maka kita merdeka!&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling tinggi (derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman.&lt;/span&gt; (QS. Ali Imran : 139)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemerdekaan beraqidah ini tentu saja berimplikasi pada kemerdekaan menjalankan syariat. Maka jika Islam hendak dilaksanakan secara kaffah tetapi justru &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;dihalangi dan dibatasi, sesungguhnya kemerdekaan hakiki belum kita peroleh.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kemerdekaan hakiki berikutnya mensyaratkan kemerdekaan ekonomi dari riba dan kemiskinan sistemik&lt;/span&gt;. Maka kita lihat, selain membangun masjid, Rasulullah di Madinah juga membangun pasar. Para pebisnis Islam seperti Abdurrahman bin Auf juga bergerak untuk memerdekakan ekonomi Madinah dari dominasi ribawi Yahudi. Akhirnya, kehidupan ekonomi membaik. Pelaksanaan zakat yang menjadi salah satu rukun Islam juga mendukung perekonomian umat, mengurangi kesenjangan dan menciptakan keharmonisan hubungan dalam bermasyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika ekonomi terjajah, mudah sekali seseorang atau sebuah negara sekalipun didikte untuk mengikuti segala kemauan pihak yang berkuasa secara ekonomi. Jika keputusan-keputusan hidup kita atau kebijakan negara ini kemudian tidak mandiri melainkan diintervensi asing karena ketergantungan ekonomi, sudahkah kita merdeka? Pada hakikatnya belum. Karena merdeka berarti tidak dipengaruhi oleh siapapun dan bebas menentukan jalan hidup agar sesuai dengan kehendak Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kita jadi merenung, kalau begitu ada benarnya ungkapan:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كاد الفقر أن يكون كفرا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Hampir saja kemiskinan menyebabkan kekufuran&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah,&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kemerdekaan hakiki juga berarti kita merdeka untuk memperbanyak kebaikan sekaligus merdeka dari anasir-anasir negatif atau kemaksiatan.&lt;/span&gt; Hari ini kita mendapatkan fakta bahwa, muslimah yang berjilbab sebagian masih kesulitan bekerja di tempat publik dengan alasan jilbabnya; entah itu rumah sakit atau yang lainnya. Masih ada instansi-instansi yang tidak memberikan kesempatan luas kepada kaum muslimin untuk melaksanakan shalat tetap pada waktunya. &lt;br /&gt;Sebaliknya, kita seakan dibanjiri dengan berbagai kemaksiatan yang sebagiannya tidak bisa kita hadang karena masuk dalam wilayah privasi dan menerobos dalam keluarga kita. Media elektronik yang kaya dengan kemaksiatan namun miskin pendidikan, lokalisasi dan perjudian yang dilindungi, serta pergaulan bebas yang bahkan difasilitasi dengan penjualan kondom secara legal benar-benar membuat kemerdekaan tidak mencapai hakikatnya. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Belum lagi ketika hak umat untuk hidup sejahtera harus terampas karena praktik korupsi yang meraja lela. Baru beberapa hari yang lalu, koran-koran nasional memberitakan bahwa korupsi di berbagai daerah demikian parah, hingga masuk kategori menggurita. Lalu yang dirugikan tentu saja adalah umat, rakyat kecil yang senantiasa taat membayar pajak. Tentu banyak hal yang menjadi catatan hingga kita sampai pada kesimpulan bahwa kemerdekaan sejati belum menjadi milik kita, umat Islam Indonesia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Jamaah Jum’at yang dirahmati Allah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu apa yang bisa kita perbuat untuk meraih kemerdekaan hakiki? QS. An-Nisa ayat 97 memberikan ibrah kepada kita mengenai orang yang berdiam diri dalam keterjajahan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الَّذِينَ تَوَفَّاهُمُ الْمَلَائِكَةُ ظَالِمِي أَنْفُسِهِمْ قَالُوا فِيمَ كُنْتُمْ قَالُوا كُنَّا مُسْتَضْعَفِينَ فِي الْأَرْضِ قَالُوا أَلَمْ تَكُنْ أَرْضُ اللَّهِ وَاسِعَةً فَتُهَاجِرُوا فِيهَا فَأُولَئِكَ مَأْوَاهُمْ جَهَنَّمُ وَسَاءَتْ مَصِيرًا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri, (kepada mereka) malaikat bertanya : "Dalam keadaan bagaimana kamu ini?". Mereka menjawab: "Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)". Para malaikat berkata: "Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?". Orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,&lt;/span&gt; (QS. An-Nisa' : 97)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ibnu Katsir dalam tafsirnya menyebutkan asbabun nuzul ayat ini. Bahwa ada sebagian orang makkah yang berislam secara sembunyi-sembunyi. Namun mereka tidak ikut hijrah ke Madinah. Maka saat perang Badar, mereka dipaksa oleh kafir Quraisy untuk ikut berperang di pihak mereka. Saat melihat orang dari kelompok ini terbunuh, sebagian sahabat yang tahu hendak mendoakan mereka, namun Allah SWT menurunkan ayat ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Artinya apa? Kita tidak boleh &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;berdiam diri dalam kelemahan&lt;/span&gt;. Kita tidak boleh menyerah dalam kondisi yang tidak ideal. Maka bulan Ramadhan merupakan momentum yang sangat tepat bagi kita untuk bangkit. Bangkit dalam aqidah Islam yang benar, bangkit untuk menjalankan Islam. Bangkit untuk menunjukkan semua potensi kita. Bahwa kita bisa. Bahwa kita, dengan identitas keislaman kita, siap mencapai kemerdekaan hakiki. Mencapai hidup yang mulia dan berazam mendapatkan ridha dan surga-Nya.&lt;br /&gt;وقل رب اغفر وارحم و انت خير الراحمين&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://muchlisin.blogspot.com/2010/08/khutbah-jumat-ramadhan-dan-kemerdekaan.html&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-8652099356099880905?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/8652099356099880905/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/08/ramadhan-dan-kemerdekaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/8652099356099880905'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/8652099356099880905'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/08/ramadhan-dan-kemerdekaan.html' title='Ramadhan dan Kemerdekaan'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TG3u72HW_4I/AAAAAAAAANo/atIFAjxu4zQ/s72-c/khutbahjumat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-4537047660182649458</id><published>2010-08-19T18:58:00.000-07:00</published><updated>2010-08-19T19:02:39.378-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tausiah'/><title type='text'>Kewajiban Kita Terhadap Al Quran</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TG3iJpnRPyI/AAAAAAAAANg/5QdazFLV4TM/s1600/khutbahjumat.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 89px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TG3iJpnRPyI/AAAAAAAAANg/5QdazFLV4TM/s320/khutbahjumat.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5507306574761246498" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Kita panjatkan puji syukur ke hadirat Allah SWT. Kita ucapkan shalawat dan salam untuk junjungan kita Nabi Muhammad, untuk segenap keluarga dan sahabatnya, serta siapa saja yang menyerukan dakwahnya hingga hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan tercinta, saya sampaikan salam penghormatan Islam, salam penghormatan dari Allah, yang baik dan diberkahi: Assalaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seseorang layak heran terhadap sikap kebanyakan manusia terhadap kitab Allah SWT: Al-Qur'anul Karim. Ikhwan sekalian, sebagaimana saya katakan sebelumnya, sikap kebanyakan manusia di masa-masa sekarang ini terhadap kitab Allah ibarat sekelompok manusia yang diliputi kegelapan dari segala penjuru. Mereka kebingungan, berjalan tanpa petunjuk apa pun. Kadang-kadang mereka jatuh ke jurang, kadang-kadang membentur batu, dan kadang-kadang saling bertabrakan. Keadaan mereka terus demikian, tersesat membabi buta dan berjalan dalam kegelapan yang pekat. Padahal di hadapan mereka ada sebuah tombol elektrik yang andaikata mereka tekan dengan jari, maka gerakan sedikit itu dapat menyalakan sebuah lampu yang terang-benderang. Inilah Saudara-saudaraku, perumpamaan umat manusia sekarang dan sikap mereka terhadap kitab Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Seluruh dunia ini tersesat: dalam kegelapan yang pekat. Seluruh alam berjalan tanpa petunjuk. Berbagai sistem telah bangkrut, masyarakat telah hancur, nasionalisme telah jatuh. Setiap kali manusia membuat sistem baru untuk diri mereka, segera sistem itu hancur berantakan. Hari ini, manusia tidak mendapatkan jalan selain berdoa, bersedih, dan menangis. Sungguh aneh, karena di hadapan mereka sebenarnya terdapat Al-Qur'anul Karim, kitab Allah SWT.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كالعيس في البيداء يقتلها الظماء&lt;br /&gt;والماء فوق ظهورها محمول&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bak unta mati kehausan di padang pasir&lt;br /&gt;Sedangkan air terpikul di atas punggungnya&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak mendapatkan jalan petunjuk, padahal di hadapan mereka ada cahaya yang sempurna.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَكِنْ جَعَلْنَاهُ نُورًا نَهْدِي بِهِ مَنْ نَشَاءُ مِنْ عِبَادِنَا وَإِنَّكَ لَتَهْدِي إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ [الشورى/52]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tetapi Kami jadikan Al-Qur'an itu cahaya, yang Kami tunjuki dengannya siapa yang Kami kehendaki di antara hamba-hamba Kami. Dan sesungguhnya Kami benar-benar memberi petunjuk kepada jalan yang lurus. (QS. Asy-Syura: 52)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَالَّذِينَ آَمَنُوا بِهِ وَعَزَّرُوهُ وَنَصَرُوهُ وَاتَّبَعُوا النُّورَ الَّذِي أُنْزِلَ مَعَهُ أُولَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ [الأعراف/157]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Adapun orang-orang yang beriman kepadanya, memuliakannya, menolongnya, dan mengikuti cahaya terang yang diturunkan kepadanya, mereka itulah orang-orang yang beruntung. (QS. Al-A'raf: 157)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَهْلَ الْكِتَابِ قَدْ جَاءَكُمْ رَسُولُنَا يُبَيِّنُ لَكُمْ كَثِيرًا مِمَّا كُنْتُمْ تُخْفُونَ مِنَ الْكِتَابِ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ قَدْ جَاءَكُمْ مِنَ اللَّهِ نُورٌ وَكِتَابٌ مُبِينٌ (15) يَهْدِي بِهِ اللَّهُ مَنِ اتَّبَعَ رِضْوَانَهُ سُبُلَ السَّلَامِ وَيُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ بِإِذْنِهِ وَيَهْدِيهِمْ إِلَى صِرَاطٍ مُسْتَقِيمٍ (16) [المائدة/15، 16]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hai Ahli Kitab, sesungguhnya telah datang kepada kalian Rasul Kami, menjelaskan kepada kalian banyak dari isi Al-Kitab yang kalian sembunyikan, dan banyak (pula yang) dibiarkannya. Sesungguhnya telah datang kepada kalian cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan Kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan dan mengeluarkan mereka dari gelap gulita kepada cahaya terang benderang dengan izin-Nya, dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus. (QS. Al-Maidah: 15-16)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ لِتُخْرِجَ النَّاسَ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ [إبراهيم/1]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Inilah Kitab yang Kami turunkan kepadamu agar kamu mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. (QS. Ibrahim: 1)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;فَآَمِنُوا بِاللَّهِ وَرَسُولِهِ وَالنُّورِ الَّذِي أَنْزَلْنَا وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ [التغابن/8]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Maka berimanlah kalian kepada Allah, Rasul-Nya, dan cahaya (Al- Qur'an) yang telah Kami turunkan. Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan. (QS. At-Tagbabun: 8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan sekalian, kembali saya ingin katakan bahwa barangkali suatu hal yang wajar jika orang-orang kafir yang mata mereka belum dibuka untuk melihat cahaya ini, berjalan tanpa petunjuk dalam kehidupan mereka. Ini logis dan dapat diterima, karena Allah SWT berfirman,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَمَنْ لَمْ يَجْعَلِ اللَّهُ لَهُ نُورًا فَمَا لَهُ مِنْ نُورٍ [النور/40]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dan barangsiapa yang tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, maka ia tiada memiliki cahaya sedikit pun. (QS. An-Nur: 40)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimana pula halnya dengan orang-orang mukmin yang mengimani, membenarkan, mencintai, menghormati dan mengagungkannya, yang tidak ada satu pun dari rumah-rumah mereka dan tidak satu pun dari kantong-kantong baju mereka yang tidak terdapat mushaf dari Kitabullah. Ikhwan sekalian, orang-orang kafir telah menipu mereka dengan cahaya itu, menjauhkan mereka dari petunjuk, menyesatkan mereka dari |alan, dan menjauhkan tangan mereka dari sumber mulia dan dari tombol elektrik ini; kadang-kadang dengan jerat politik di saat lain dengan parangkap ilmu duniawi.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَعْلَمُونَ ظَاهِرًا مِنَ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَهُمْ عَنِ الْآَخِرَةِ هُمْ غَافِلُونَ [الروم/7]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka hanya mengetahui kehidupan dunia yang lahir, sedangkan tentang kehidupan akhirat mereka lalai. (QS. Ar-Rum: 7)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka terus memperdayakan; terkadang dengan harta benda, kadang-kadang melalui hawa nafsu, kadang-kadang dengan tipu muslihat, dan di saat lain dengan kekuatan, paksaan, dan kekejaman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai Ikhwan sekalian, semua sarana ini terus digunakan para penganut kekafiran. Orang-orang kafir itu menjauhkan manusia dan kaum muslimin dari petunjuk. Sekian lamanya kaum muslimin mengikuti dan berlari di belakang kesesatan mereka. Akibatnya, mereka lupa kepada sumber petunjuk ini dan mengekor saja di belakang orang-orang kafir. Padahal Allah SWT telah memperingatkan mereka dari tindakan itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;ا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ (149) بَلِ اللَّهُ مَوْلَاكُمْ وَهُوَ خَيْرُ النَّاصِرِينَ (150) [آل عمران/149، 150]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang-orang beriman, jika kalian mengikuti orang-orang kafir, niscaya mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), lantas jadilah kalian orang-orang yang merugi. Tetapi (ikutilah Allah), Allah-lah Pelindung kalian, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong. (QS. Ali Imran: 149-150)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan sekalian, karena Allah mengetahui bahwa orang-orang kafir terkadang mengintimidasi orang-orang beriman dengan kekuatan yang mereka miliki, maka Allah SWT ingin mencabut pengaruhnya dari hati kaum muslimin.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;سَنُلْقِي فِي قُلُوبِ الَّذِينَ كَفَرُوا الرُّعْبَ بِمَا أَشْرَكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَمَأْوَاهُمُ النَّارُ وَبِئْسَ مَثْوَى الظَّالِمِينَ [آل عمران/151]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurun-kan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka adalah neraka; dan alangkah buruknya tempat kembali orang-orang yang zhalim. (QS. Ali Imran: 151)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kemudian Allah swt. menyebutkan peristiwa nyata untuk menjadi pengiring bagi dalil yang tegas itu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَقَدْ صَدَقَكُمُ اللَّهُ وَعْدَهُ إِذْ تَحُسُّونَهُمْ بِإِذْنِهِ حَتَّى إِذَا فَشِلْتُمْ وَتَنَازَعْتُمْ فِي الْأَمْرِ وَعَصَيْتُمْ مِنْ بَعْدِ مَا أَرَاكُمْ مَا تُحِبُّونَ مِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الدُّنْيَا وَمِنْكُمْ مَنْ يُرِيدُ الْآَخِرَةَ ثُمَّ صَرَفَكُمْ عَنْهُمْ لِيَبْتَلِيَكُمْ وَلَقَدْ عَفَا عَنْكُمْ وَاللَّهُ ذُو فَضْلٍ عَلَى الْمُؤْمِنِينَ [آل عمران/152]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Allah telah memenuhi janji-Nya kepada kalian, ketika kalian membunuh mereka dengan izin-Nya sampai pada saat kalian lemah dan berselisih dalam urusan itu dan mendurhakai perintah (Rasul) sesudah Allah memperlihatkan kepada kalian apa yang kalian sukai. Di antara kalian ada yang menghendaki dunia dan di antara kalian ada yang menghendaki akhirat. Kemudian Allah memalingkan kalian dari mereka untuk menguji kalian; dan sesungguhnya Allah telah memaafkan kalian. Dan Allah mempunyai karunia bagi orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 152)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan sekalian, demikianlah. Allah swt. memperingatkan orang-orang mukmin dengan Al-Qur'an, jangan sampai mereka mengikuti jalan orang-orang kafir atau tertipu oleh tipu muslihat dan trik-trik mereka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا فَرِيقًا مِنَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ يَرُدُّوكُمْ بَعْدَ إِيمَانِكُمْ كَافِرِينَ [آل عمران/100]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang-orang beriman, jika kalian mengikuti sebagian dari orang-orang yang diberi Al-Kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kalian menjadi kafir setelah kalian beriman. (QS. Ali Imran: 100)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ (102) وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا [آل عمران/102، 103]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang-orang beriman, bertaqwalah kepada Allah dengan sebenar-benar taqwa dan janganlah kalian mati kecuali dalam keadaan muslim. Dan berpegangteguhlah kalian semua pada tali (agama) Allah, dan janganlah kalian berpecah-belah. (QS. Ali Imran: 102-103)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا إِنْ تُطِيعُوا الَّذِينَ كَفَرُوا يَرُدُّوكُمْ عَلَى أَعْقَابِكُمْ فَتَنْقَلِبُوا خَاسِرِينَ [آل عمران/149]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menaati orang-orang kafir, niscaya mereka mengembalikan kalian ke belakang (kepada kekafiran), lalu jadilah kalian orang-orang yang merugi. (QS. Ali Imran: 149)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang-orang kafir itu diciptakan dengan memiliki watak menipu dan memperdaya orang-orang beriman.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَدَّ كَثِيرٌ مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ لَوْ يَرُدُّونَكُمْ مِنْ بَعْدِ إِيمَانِكُمْ كُفَّارًا حَسَدًا مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِهِمْ مِنْ بَعْدِ مَا تَبَيَّنَ لَهُمُ الْحَقُّ [البقرة/109]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagian besar Ahli Kitab berkeinginan untuk mengembalikan kalian kepada kekafiran setelah kalian beriman karena kedengkian (yang timbul) dari diri mereka, setelah nyata bagi mereka kebenaran. (QS. Al-Baqarah: 109)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ كَمَا كَفَرُوا فَتَكُونُونَ سَوَاءً [النساء/89]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka ingin supaya kalian menjadi kafir sebagaimana mereka telah menjadi kafir, sehingga kalian dan mereka sama. (QS. An-Nisa': 89)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنْ يَثْقَفُوكُمْ يَكُونُوا لَكُمْ أَعْدَاءً وَيَبْسُطُوا إِلَيْكُمْ أَيْدِيَهُمْ وَأَلْسِنَتَهُمْ بِالسُّوءِ وَوَدُّوا لَوْ تَكْفُرُونَ [الممتحنة/2]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Jika mereka menangkap kalian, niscaya mereka bertindak sebagai musuh bagi kalian dan melepaskan tangan dan lidah mereka kepada kalian dengan menyakiti, dan mereka ingin supaya kalian menjadi kafir. (QS. Al-Mumtahanah: 2)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan sekalian, jelas sekali bahwa dada mereka tidak akan terbebas dari keinginan ini, yaitu keinginan agar orang-orang beriman kembali menjadi kafir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلَا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا [البقرة/217]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mereka tidak henti-hentinva memerangi kalian sampai mereka dapat mengembalikan kalian dari agama kalian jika mereka mampu. (QS. Al-Baqarah: 217)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ini merupakan ilustrasi yang tepat mengenai perasaan orang-orang kafir terhadap orang-orang beriman. Sekalipun demikian, orang-orang yang beriman didominasi oleh rasa toleransi, sehingga mereka melupakan peringatan ini.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;هَا أَنْتُمْ أُولَاءِ تُحِبُّونَهُمْ وَلَا يُحِبُّونَكُمْ وَتُؤْمِنُونَ بِالْكِتَابِ كُلِّهِ وَإِذَا لَقُوكُمْ قَالُوا آَمَنَّا وَإِذَا خَلَوْا عَضُّوا عَلَيْكُمُ الْأَنَامِلَ مِنَ الْغَيْظِ قُلْ مُوتُوا بِغَيْظِكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ بِذَاتِ الصُّدُورِ (119) إِنْ تَمْسَسْكُمْ حَسَنَةٌ تَسُؤْهُمْ وَإِنْ تُصِبْكُمْ سَيِّئَةٌ يَفْرَحُوا بِهَا وَإِنْ تَصْبِرُوا وَتَتَّقُوا لَا يَضُرُّكُمْ كَيْدُهُمْ شَيْئًا إِنَّ اللَّهَ بِمَا يَعْمَلُونَ مُحِيطٌ (120) [آل عمران/119، 120]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beginilah kalian ini. Kalian mencintai mereka padahal mereka tidak mencintai kalian, dan kalian beriman kepada semua kitab. Jika berjumpa dengan kalian, mereka berkata, 'Kami beriman.' Apabila mereka menyendiri, mereka menggigit ujung jari lantaran marah bercampur benci kepada kalian. Katakanlah, 'Binasalahlah kalian karena kemarahan kalian itu.' Sesungguhnya Allah mengetahui segala isi hati. Jika kalian memperoleh kebaikan, mereka bersedih hati, tetapi jika kalian ditimpa bencana, mereka bergembira karenanya. Jika kalian bersabar dan bertaqwa, tipu daya mereka tidak membahayakan kalian sedikit pun. Sesungguhnya Allah mengetahui segala yang mereka kerjakan. (QS. Ali Imran: 119-120)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Meskipun ada peringatan semacam ini dan kitab Allah telah mengungkap keadaan jiwa mereka sedemikian rupa, namun setelah ini semua, kita tetap menjerumuskan diri kita ke jurang dan berjalan mengikuti orang-orang kafir. Bagaimana tidak, kita masih berperilaku sebagaimana perilaku orang-orang kafir, padahal mereka menipu kita dengan segala sarana dan cara. Cahaya ini memang tidak dimiliki oleh orang orang kafir, namun mereka cukup bergem-bira bilamana berhasil menjauhkan kita darinya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagaimanakah kondisi yang terjadi sekarang, wahai Ikhwan sekalian? Kondisi yang terjadi adalah, orang-orang kafir tidak percaya kepada cahaya ini, sedangkan orang-orang beriman tidak mengetahuinya. Kondisi ini sungguh ironis. Kondisi yang membawa manusia kepada segala macam penderitaan. Karena itu, orang-orang yang telah mengambil petunjuk Al-Qur'an wajib menyelamatkan diri sendiri sekaligus orang lain. Lantas apakah kewajiban kita sebagai orang yang telah beriman kepada Al-Qur'an? Ikhwan sekalian, kewajiban kita terhadap Al-Qur'anul Karim ada empat:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;1. Hendaklah kita memiliki keyakinan yang sungguh-sungguh dan kuat bahwa tidak ada yang dapat menyelamatkan kita kecuali sistem sosial yang diambil dan bersumber dari kitab Allah SWT ini. Sistem sosial apa pun yang tidak mengacu atau tidak berlandaskan kepada Al-Qur'anul Karim pasti bakal menuai kegagalan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Misalnya, banyak orang mengatasi problema ekonomi dengan terapi tambal sulam, "tidak menggemukkan dan tidak pula sekedar menghilangkan lapar". Sementara Al-Qur'anul Karim telah menggariskan aturan tentang zakat, mengharamkan riba, mewajibkan kerja, melarang pemborosan, sekaligus menanamkan kasih sayang antarsesama manusia. Dengan arahan semacam ini problema kemiskinan tentu dapat segera dipecahkan. Tanpa solusi ini, tidak mungkin terpecahkan. Selain model ini, solusi hanya ibarat pil penenang sementara. Contoh lain adalah problem kesehatan. Ikhwan sekalian, kalian mendapati mereka ibarat orang yang membuka kran berdiameter tiga milimeter, sedangkan di bawahnya terdapat bak yang berdiameter tiga meter. Mereka membuat rumah-rumah sakit keliling dan klinik-klinik kesehatan, tetapi akar penyakit tidak diberantas. Misalnya, taraf hidup yang masih rendah. Padahal Islam menghendaki peningkatan taraf hidup dan pemberantasan berbagai kemungkaran. Rasulullah SAW bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَمْ تَظْهَرِ الْفَاحِشَةُ فِى قَوْمٍ قَطُّ حَتَّى يُعْلِنُوا بِهَا إِلاَّ فَشَا فِيهِمُ الطَّاعُونُ وَالأَوْجَاعُ الَّتِى لَمْ تَكُنْ مَضَتْ فِى أَسْلاَفِهِمُ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Tidaklah perilaku keji terlihat nyata di tengah-tengah suatu kaum, sehingga mereka sendiri memperlihatkannya, kecuali akan banyak penyakit menular menimpa mereka, yang tidak pernah menimpa orang-orang sebelum mereka. (HR. Ibnu Majah, Hakim, Thabrani, Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan sekalian, contoh lain misalnya pemberantasan kriminalitas. Apakah kita akan menjebloskan pencuri ke penjara agar ia mengasah keahliannya kepada dedengkot-dedengkot kriminalitas sehingga semakin lama masa tinggalnya di penjara, semakin tinggi pula keahliannya dalam melakukan tindak kriminal? Andaikata nash Al-Qur'an berikut ini diambil, "Atau diasingkan dari negeri (tempat kediamannya)", niscaya hal ini akan memberikan banyak manfaat kepada negara. Bagaimana pendapat Anda jika sistem ini diterapkan secara keseluruhan? Ikhwan sekalian, solusinya hanya Islam. Islam tidak menerima persekutuan. Karena itu, kita wajib percaya bahwa hanya Islam yang layak menyelamatkan umat ini dari setiap bencana yang menimpa dalam seluruh aspek kehidupan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;2. Maka dari itu, kaum muslimin wajib menjadikan kitab Allah sebagai sahabat karib, kawan bicara, dan guru. Kita harus membacanya. Jangan sampai ada hari yang kita lalui sedangkan kita tidak menjalin hubungan dengan Allah swt. melalui Qur'an. Demikianlah keadaan para pendahulu kita, kaum Salaf, semoga Allah meridhai mereka. Mereka tidak pernah kenyang dengan Al-Qur'anul Karim. Mereka tidak pernah meninggalkannya. Bahkan mereka mencurahkan waktunya untuk itu, sehingga Rasulullah SAW harus turun tangan untuk melarang mereka berlebihan di dalamnya. Setidaknya, Saudaraku, hendaklah kita membaca Al-Qur'an secara rutin, meskipun sedikit. Sunah mengajarkan agar kita mengkhatamkannya tidak lebih dari satu bulan dan tidak kurang dari tiga hari. Sayidina Umar bin Abdul Aziz apabila disibukkan oleh urusan kaum muslimin, beliau mengambil mushaf dan membacanya walaupun hanya dua atau tiga ayat. Beliau berkata, "Agar saya tidak termasuk mereka yang menjadikan Al-Qur'an sebagai sesuatu yang ditinggalkan." Rasulullah SAW bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;من قرأ اية من كتاب الله يكل حرف عشر أمثالها ومن يستمع لها كانت له نورا يوم القيامة&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Barangsiapa membaca satu ayat dari Kitabullah, maka ia memperoleh sepuluh kebaikan untuk setiap huruf. Barangsiapa mendengarkannya, maka itu akan menjadi cahaya baginya pada hari kiamat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Orang yang telah menghafalkan Al-Qur'an kemudian melupakannya, ia telah melakukan satu dosa besar. Karena itu, Ikhwan sekalian, Anda harus rajin membaca Al-Qur'anul Karim dan menetapkan bacaan rutin dari kitab Allah SWT untuk diri Anda. Hendaklah kalian tekun melaksanakannya, sebagai peneladanan terhadap para pendahulu umat ini, sebagai pelaksanaan perintah Allah SWT dan agar mendapatkan manfaat dari kandungan kitab-Nya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;3. Setelah itu, ketika membaca Al-Qur'an kita harus memperhatikan adab-adab membacanya dan ketika mendengarkan kita juga harus memperhatikan adab-adab mendengarnya. Hendaklah kita berusaha merenungkan dan meresapinya. Rasulullah SAW bersabda,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ هَذَا الْقُرْآنَ نَزَلَ بِحُزْنٍ فَإِذَا قَرَأْتُمُوهُ فَابْكُوا فَإِنْ لَمْ تَبْكُوا فَتَبَاكَوْا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya Al-Qur'an ini turun dengan kesedihan, maka jika kamu membacanya, hendaklah kamu menangis, jika kamu tidak menangis, maka buatlah seolah-olah dirimu menangis. (HR. Ibnu Majah, Baihaqi)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi, ini artinya adalah, bahwa jika hati Anda belum dapat konsentrasi sampai pada tingkat menghayatinya, hendaklah Anda berusaha untuk menghayatinya. Janganlah setan memalingkan Anda dari keindahan perenungan sehingga Anda tidak mendapatinya. Tekunlah! Andaikan dalam membaca Anda hanya dapat menggerakkan lidah, tetap bacalah! Hendaklah Anda menyediakan waktu untuk menghafal dan mengulang. Usahakan agar Anda benar-benar meresapi kandungan makna Al-Qur'an. Banyak riwayat menceritakan bahwa pada suatu malam Sayidina Umar bin Khathab ra. pergi berkeliling kota. Tiba-tiba beliau mendengar seseorang membaca,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالطُّورِ (1) وَكِتَابٍ مَسْطُورٍ (2) فِي رَقٍّ مَنْشُورٍ (3) وَالْبَيْتِ الْمَعْمُورِ (4) وَالسَّقْفِ الْمَرْفُوعِ (5) وَالْبَحْرِ الْمَسْجُورِ (6) إِنَّ عَذَابَ رَبِّكَ لَوَاقِعٌ (7) مَا لَهُ مِنْ دَافِعٍ (8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang. Demi bukit Thur. Dan demi kitab yang ditulis. Pada lembaran yang terbuka. Dan demi Baitul Makmur. Dan demi atap yang ditinggikan (langit). Dan demi laut yang di dalam tanah- nya ada api. Sesungguhnya siksa Tuhanmu pasti terjadi. Tidak ada yang dapat mencegahnya. (QS. At-Thur: 1-8)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika mendengar bacaan ini, beliau berkata, "Inilah sumpah yang benar, demi Tuhan Pemilik Ka'bah." Beliau lantas tersungkur pingsan. Beliau digendong oleh seorang sahabat yang bernama Aslam dan dibawa ke rumahnya. Beliau sakit selama tiga puluh hari, dijenguk oleh masyarakat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Akhi, demikian halnya dengan Umar bin Abdul Aziz. Suatu ketika beliau datang ba'da isya'. Beliau lantas berwudhu dan berdiri melaksanakan shalat. Beliau membaca,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;احْشُرُوا الَّذِينَ ظَلَمُوا وَأَزْوَاجَهُمْ وَمَا كَانُوا يَعْبُدُونَ (22) مِنْ دُونِ اللَّهِ فَاهْدُوهُمْ إِلَى صِرَاطِ الْجَحِيمِ (23) وَقِفُوهُمْ إِنَّهُمْ مَسْئُولُونَ (24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;(Kepada malaikat diperintahkan) kumpulkanlah orang-orang zhalim dan teman sejawat mereka beserta apa yang selalu mereka sembah, selain Allah. Lantas tunjukkan kepada mereka jalan menuju neraka Jahim. Dan hentikan mereka, sesungguh- nya mereka akan ditanya. (QS. Ash-Shafat: 22-24)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Beliau terus mengulang-ulang ayat, "Dan hentikanlah mereka, sesungguhnya mereka akan ditanya," sampai muadzin datang untuk mengumandangkan adzan subuh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Demikianlah, Ikhwan sekalian, penghayatan mereka terhadap kitab Al Qur'anul Karim. Pada zaman Imam Syafii, jika mereka ingin meresapi kitab Allah di Makkah, mereka mengirimkan surat kepada beliau, agar beliau membacakan kitab Allah. Beliau tidak pernah terlihat menangis, seperti pada hari tersebut. Hendaklah kita juga membaca AlQur'an dengan bacaan yang membuahkan. Jika Al-Qur'an ini dapat menyentuh hati orang-orang kafir, yang merupakan manusia paling jauh kemung-kinannya untuk menghayati kitab Allah, maka bagaimana pula dengan kita? Lihatlah Utbah bin Rabi'ah (seorang kafir), ketika mendengar bacaan Al-Qur'an dari Rasulullah SAW, ia berkata,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إن له لحلاوة وإن عليه لطلاوة وإن أعلاه لمثمر وإن أسفله لمغدق وما هو من كلام البشر&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sesungguhnya bacaan ini mengandung kelebatan dan keindahan. Atasnya membuahkan, bawahnya menyejukkan. Sungguh, ini bukan perkataan manusia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Begitu pula yang terjadi pada Najasyi dan kaumnya ketika mendengar Ja'far bin Abi Thalib membaca Al-Qur'an. Sekonyong-konyong mata mereka dialiri oleh air mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Lalu bagaimana dengan orang-orang yang beriman? Seharusnya, ketika orang-orang beriman membaca kitab Allah swt. adalah sebagaimana yang difirmankan-Nya,&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;اللَّهُ نَزَّلَ أَحْسَنَ الْحَدِيثِ كِتَابًا مُتَشَابِهًا مَثَانِيَ تَقْشَعِرُّ مِنْهُ جُلُودُ الَّذِينَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ ثُمَّ تَلِينُ جُلُودُهُمْ وَقُلُوبُهُمْ إِلَى ذِكْرِ اللَّهِ ذَلِكَ هُدَى اللَّهِ يَهْدِي بِهِ مَنْ يَشَاءُ وَمَنْ يُضْلِلِ اللَّهُ فَمَا لَهُ مِنْ هَادٍ [الزمر/23]&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Allah telah menurunkan sebaik-baik perkataan, yaitu Al-Qur'an yang serupa (mutu ayat-ayatnya) lagi ber- ulang-ulang; gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut kepada Tuhannya, kemudian kulit dan hati mereka menjadi tenang pada waktu mengingat Allah. Itulah petunjuk Allah, dengan kitab itu Dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang disesatkan Allah, maka tidak ada seorang pun yang mampu memberikan petunjuk kepadanya. (QS. Az-Zumar: 23)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;4. Akhi, setelah kita beriman bahwa Al-Qur'an adalah satu-satunya penyelamat, kita wajib mengamalkan hukum-hukumnya. Hukum-hukum Al-Qur'anul Karim menurut yang saya ketahui, terbagi menjadi dua:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;a. Hukum-hukum individu yang berkaitan dengan masing-masing orang, seperti shalat, puasa, zakat, haji, taubat, serta akhlak, yang meliputi kejujuran, menepati janji, kesaksian, dan amanat. Ini semua, wahai Saudaraku, merupakan hukum-hukum yang berhubungan dengan manusia secara umum. Setiap orang dapat melaksanakannya sendiri. Ketika Anda membaca Al-Qur'an, Anda harus mematuhi hukum-hukum dan batasan-batasannya. Barangsiapa yang belum pernah shalat, kemudian membaca firman Allah SWT, "Dan dirikanlah shalat," (QS. An-Nur: 56) maka ia harus melaksanakan shalat. Dan ketika membaca, "Dan janganlah kamu mengurangi takaran dan timbangan manusia," (QS. Al-A'raf: 85) maka Anda harus memenuhi hak setiap orang. Seharusnya Anda tidak perlu menunggu orang lain untuk melaksanakan hal ini. Sesuatu yang halal itu sudah jelas dan yang haram juga sudah jelas.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;b. Kedua adalah hukum-hukum yang berkaitan dengan masyarakat, atau hukum-hukum yang berkaitan dengan penguasa. Ini semua merupakan kewajiban negara, misalnya menegakkan hudud (sanksi hukum), jihad, dan masalah-masalah yang merupakan tugas negara dalam Islam. Negara wajib melaksanakannya. Jika negara tidak melaksanakannya, ia bertanggung jawab di hadapan Allah swt. Kewajiban rakyat dalam keadaan demikian adalah menuntut pelaksanaannya. Sesungguhnya Islam tidak membebaskan umat dari tanggung jawab. Sekarang, bagaimana umat dapat mewujudkan hal ini? Hendaklah umat bersatu padu. Hendaklah umat menyatukan kata, menuntut, dan terus menuntut. Hendaklah umat menggunakan segala cara untuk menyampaikan tuntutan ini, khususnya jika sistem kenegaraan yang berlaku seperti sistem kenegaraan di Mesir. Jika demikian, tidak ada alasan bagi siapa pun untuk tidak menyatakan hal ini dengan terus terang. Umat tidak dapat dilepaskan dari kewajiban mengawasi negara.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan sekalian, hendaklah kita menyatukan barisan dan menyatukan kata, sehingga kita menjadi kuat, diperhitungkan, dan mempunyai suara agar negara dapat memandang kenyataan yang ada. Dengan demikian, cepat atau lambat kita akan sampai kepada tujuan, insya Allah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Semoga shalawat dan salam dilimpahkan kepada junjungan kita, Muhammad, juga kepada segenap keluarga dan sahabatnya. [Hasan Al-Banna, Sumber: Ceramah-Ceramah Hasan Al-Banna]&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-4537047660182649458?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/4537047660182649458/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/08/kewajiban-kita-terhadap-al-quran.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/4537047660182649458'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/4537047660182649458'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/08/kewajiban-kita-terhadap-al-quran.html' title='Kewajiban Kita Terhadap Al Quran'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TG3iJpnRPyI/AAAAAAAAANg/5QdazFLV4TM/s72-c/khutbahjumat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-1786597156362738902</id><published>2010-08-01T21:39:00.000-07:00</published><updated>2010-08-01T21:44:45.217-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tausiah'/><title type='text'>10 Indikasi “Gagal” Meraih Keutamaan Ramadhan</title><content type='html'>Kegagalan-kegagalan dibawah ini bukanlah suatu klaim yang pasti.Itu adalah hak Alloh semua.Tetapi setidaknya kita memiliki perhitungan terhadap indikasi tersebut agar Ramadhan ini menjadikan diri kita lebih berkualitas dan lulus dari pendidikan Ramadhan,10 indikasi tersebut adalah :&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. “Warming up” yang kurang optimal sebelum Ramadhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Warming up adalah memperbanyak ibadah sunnah sebelum Ramadhan yaitu pada bulan Sya’ban yang berfungsi sebagai pemanasan bagi ruhani dan fisik untuk memasuki bulan Ramadhan. Misalnya berpuasa sunnah, memperbanyak ibadah shalat,tilawatul Al-Qur’an,ibadah malam,berzikir dan amalan lainnya sehingga akan menjadikan suasana hati dan tubuh kondusif.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Target untuk menghatamkan Al-Qur’an pada bulan Ramadhan tidak tercapai&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Minimal 1 kali harus bisa menghatamkan Al-Qur’an dalam bulan Ramadhan, Abdullah bin Umar bertanya kepada Rosulullah,”berapa lama sebaiknya seseorang menghatamkan Al-Qur’an?”Rasul menjawab,”Satu kali dalam sebulan.”Abdullah bin Umar mengatakan,”aku mampu untuk lebih dari satu kali untuk menghatamkan Al-Qur’an.”Rasul berkata lagi,”kalau begitu bacalah dalam satu pekan.”Tapi Abdullah bin Umar mengatakan bahwa dirinya mampu untuk membaca seluruh Al-Qur’an lebih cepat dari satu pekan.Kemudian Rasul mengatakan,”kalau begitu,bacalah dalam waktu tiga hari.”&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Tidak dapat menjaga perkatan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Hakikat puasa tidak hanya terletak dalam menahan lapar dan haus saja, tetapi juga mengajak pelakunya untuk menahan diri dari berbagai penyimpangan,salah satunya adalah penyimpangan mulut seperti membicarakan keburukan orang, mengeluarkan kata-kata kasar,membuka rahasia,mengadu domba,berdusta dan sebagainya. Rasulullah SAW mengatakan bahwa dusta akan menjadikan puasa sis-sia (HR Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mulut merupakan salah satu bagian tubuh yang paling sukar dikendalikan namun memiliki nilai yang sangat mahal.Rasulullah berpesan’adakalanya kalimat buruk yang ringan diucapkan oleh seseorang,tapi karena Alloh tidak ridho dengan kalimat itu,maka orang itu tercampak ke dalam api neraka.Sebaliknya’adakalanya seseorang mengucapkan kalimat baik yang ringan,tapi karena Alloh ridho dangan kalimat itu maka ia masuk kedalam surga (HR Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Tidak dapat menjaga pandangan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Mata merupakan penerima informasi paling efektif yang bisa memberi rekaman dalam otak dan jiwa seseorang.Memori yang tertangkap oleh mata lebih sulit terhapus ketimbang informasi yang diperoleh dari indera lainnya.Karenanya memelihara mata menjadi sangat penting untuk membersihkan jiwa dan pikiran dari berbagai kotoran.Salah mengarahkan pandangan,bila terus berulang akan menumbuhkan suasana kusam dan tidak nyaman dalam jiwa dan pikiran. Akibatanya nikmat ibadah (contoh Sholat) tidak dapat kita raih.Ini sebabnya Islam mewasiatkan sikap hati-hati dalam menggunakan nikmat mata.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Meninggakan ibadah malam Ramadhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasulullah menganjurkan untuk menghidupkan malam-malam di bulan Ramadhan dengan sholat dan doa-doa tertentu.Amal ibadah khusus di bulan Ramadhan ini adalah shalat Tarawih.Tanpa menghidupkan malam dengan ibadah tarawih,tentu seseorang akan kehilangan momentum berharga.Selain itu doa-doa khusus yang insya Alloh akan di ijabah oleh Alloh SWT di dalam sholat tarawih antara lain.”Allohumma inni as aluka ridhaka wal jannah wa na’udzu bika min sakhatika wannar.”Ya Alloh aku memohon keridhaan-Mu dan surga-Mu dan aku memohon dari kemarahan-Mu dan dari neraka-Mu.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;6. Pelampiasan dendam ketika berbuka puasa&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Menjadikan saat berbuka puasa sebagai kesempatan‘balas dendam’dari upaya menahan haus dan lapar selama siang hari.Bila hal ini terjadi maka pendidikan puasa akan hilang.Puasa pada hakekatnya adalah pendidikan bagi jiwa (tarbiyatun nafs) untuk mampu mengendalikan diri dari menahan nafsu. “Puasa itu adalah perisai” sabda Rasulullah seperti yang di riwayatkan Imam Bukhari.Hasil pendidikan puasa akan tercermin dalam pribadi orang yang lebih bisa sabar, menahan diri, tawakkal, pasrah, tidak emosional,tenang dalam menghadapi berbagai persoalan.Puasa menjadi kecil dan tak bernilai dan lemah unsur pendidikannya ketika upaya menahan dan mengendalikan nafsu itu hancur oleh pelampiasan nafsu yang dihempaskan saat berbuka.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;7. Tidak mengoptimalkan pengeluaran infaq dan sadaqah&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Rasululloh seperti digambarkan dalam hadist,menjadi sosok yg paling pemurah dan dermawan di bulan Ramadhan,hingga kedermawannya mengalahkan angin yg bertiup.Di bulan inilah amal kebajikan bisa bernilai puluhan bahkan ratusan kali lipat dibanding bulan-bulan lainnya.Momentum seperti ini sangat berharga dan tidak boleh di sia-siakan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;8. Hari-hari terakhir sibuk dengan persiapan lahir&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika menjelang Idul Fitri sibuk dengan persiapan lahir,tapi tidak sibuk dengan perpisahan batin terutama pada 10 hari malam terakhir untuk memperbanyak ibadah. Lebih banyak berfikir untuk merayakan Idul Fitri dengan berbagai kesenangan, tapi melupakan suasana akan berpisah dengan bulan mulia tersebut.Rasululloh dan para sahabat mengkhususkan 10 malam terakhir dengan berdiam diri di dalam masjid, meninggalkan kesibukan duniawi. Mereka memperbanyak ibadah,dzikir dan berupaya meraih keutamaan malam seribu bulan,saat diturunkannya Al-Qur’an.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;9. Idul fitri dirayakan sebagai hari yang ‘merdeka’&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Fenomena ini terjadi akibat pelaksanaan puasa yg tidak sesuai dengan adabnya. Orang yg berpuasa dengan baik tentu tidak akan menyikapi Ramadhan sebagai kerangkeng.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;10. Tidak ada tindak lanjut setelah meninggalkan Ramadhan&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Amal yg dilakukan pada satu bulan Ramadhan adalah bekal pasokan agar kaimanan dan ruhani seseorang untuk menghadapi sebelas bulan setelahnya.namun orang akan gagal meraih keutamaan Ramadhan saat ia tidak berupaya untuk menghidupkan amal-amal ibadah yang dilakukan pada saat bulan Ramadhan,seperti shalat sunnah,membaca Al-Qur’an,ibadah malam dll.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;http://id.netlog.com/happynriyono/blog/blogid=6203&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-1786597156362738902?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/1786597156362738902/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/08/10-indikasi-gagal-meraih-keutamaan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/1786597156362738902'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/1786597156362738902'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/08/10-indikasi-gagal-meraih-keutamaan.html' title='10 Indikasi “Gagal” Meraih Keutamaan Ramadhan'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-6976871767801322540</id><published>2010-07-29T20:22:00.000-07:00</published><updated>2010-07-29T20:26:28.955-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tausiah'/><title type='text'>Ikhlaskah Saya?</title><content type='html'>&lt;span style="font-style:italic;"&gt;“…dan tidaklah kalian diperintah kecuali beribadah kepada Allah dengan ikhlas…….” (QS 98:5).&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ikhwan wa akhawat fillah, telah kita ketahui bersama bahwa syarat diterimanya amal adalah benar dan ikhlas. Benar mencontoh Rasulullah, ikhlas ditujukan semata untuk mencari keridhaan Allah. Kedua syarat itu tentunya mesti mengiringi setiap amal yang kita lakukan agar kita layak memperoleh surga Allah nanti di yaumil akhir.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara tentang ikhlas ada tiga ciri keikhlasan yang perlu kita tahu. Pertama memiliki perasaan sama bila dipuji atau dicela. Tidak bangga atau gembira ketika dipuji dan tidak jengkel atau marah ketika dicela. Kedua tidak merasa berjasa atau berprestasi dengan amalnya. “Karena sayalah Islam semerbak di  kecamatan ini, dan sayalah yang pertama merintis pembinaan di kampus itu”, adalah contoh ketidakikhlasan. Ketiga mengharapkan pahala amal itu di akhirat, tidak di dunia,  … &lt;span style="font-style:italic;"&gt;“in ajriya illa ‘alalladzii fatharani&lt;/span&gt;, sesungguhnya upah kami adalah dari Allah yang menciptakan kami…” (QS 11:51).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berikut ini sejumlah ilustrasi yang mungkin dapat memantapkan azam kita untuk selalu ikhlas dalam beramal.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kisah pertama. &lt;/span&gt;Seorang Arab Badui, tidak disebut namanya, datang kepada Rasulullah kemudian beriman mengikuti Rasul dan meminta untuk ikut hijrah sampai akhirnya ikut Perang Khaibar. Pada saat pembagian ghanimah dia berkomentar “apa ini”? sahabat menjawab “jatah kamu yang telah disiapkan Rasulullah”, “aku ikut kamu ya Rasul bukan karena ini, tapi aku ingin leherku tertusuk anak panah, aku mati dan aku masuk surga”. Kemudian terjadi perang lagi dan sahabat Arab Badui ini ikut berperang dan terbunuh, lehernya terkena anak panah. Pada saat itu jasadnya dibawa kepada Rasulullah.&lt;br /&gt;Rasul menyolatkannya dan berdoa “ya Allah ini seorang hambamu keluar berhijrah di jalanmu kemudian terbunuh mati syahid dan aku menjadi saksi baginya.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kisah kedua&lt;/span&gt;. Ada kisah populer yang disebut Shahibun Naqab, tentang seorang prajurit di waktu peperangan di masa Umayyah yang dipimpin Maslamah bin Abdul Malik. Ketika terjadi pengepungan sebuah benteng musuh tak ada satupun sahabat yang berhasil membuka benteng itu. Dalam kesempatan itulah prajurit ini masuk dengan melubangi tembok benteng (maka disebut naqab artinya lubang). Lewat lubang yang dia buat itulah tentara Islam bisa mengalahkan musuh. Sehabis peperangan Maslamah meminta agar tentara yang melubangi tembok melapor padanya. Setelah sekian lama tidak ada yang melapor, akhirnya datanglah seorang bertopeng menemui Maslamah. “Aku akan beritahu siapa tentara yang melubangi benteng itu, dengan syarat: pertama, jangan tanya siapa namanya, kedua jangan dicatat dalam sejarah, ketiga jangan diberi imbalan apapun.” Kemudian Maslamah menyanggupi. Lalu orang bertopeng itu memberitahu bahwa dialah orangnya dan segera setelah itu dia pergi meninggalkan Maslamah. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kisah ketiga &lt;/span&gt;tentang Imam Syafi’i yang memesankan kepada murid-muridnya agar janganlah menyebutkan namanya atau menghubungkan satu hurufpun kepada dirinya sebagai penguat argumentasi kebenaran. Maksudnya “ini menurut Imam Syafi’i, ini diambil dari Kitab Al Umm karya Imam Syafi’i.” Bahkan Imam Syafi’i mengatakan saya tidak pernah mendebat seseorang atau berdiskusi dengan seseorang untuk menjatuhkan dia atau untuk mengalahkan dia melainkan saya berharap ketika saya berdiskusi dengannya kebenaran muncul dari dirinya sendiri.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwan wa akhawat fillah, &lt;/span&gt;keinginan kita untuk senantiasa ikhlas hendaknya jangan menjadi penghalang kita untuk menjadi gamang atau takut beramal. Ulama memberikan batasan : “meninggalkan amal karena manusia itu riya, karena takut dilihat orang kemudian tidak mau beramal itu juga riya, sementara beramal untuk manusia itu syirik, dan ikhlas terlepas dari keduanya.” Artinya janganlah karena takut riya kemudian kita enggan beramal. Semestinya terus perbanyak amal tanpa perduli dilihat atau tidak dilihat manusia namun berusahalah untuk tidak terjatuh pada riya.&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ikhwan wa akhawat fillah, &lt;/span&gt;ketahuilah bahwa semerbaknya amal dilatarbelakangi oleh keikhlasan. Tersebarluasnya dakwah ke seluruh penjuru dunia adalah contoh nyata hasil kerja pribadi-pribadi ikhlas. Ketika ruang gerak mereka di negaranya dibatasi mereka mencari ladang lain yang memungkinkan untuk tumbuh suburnya dakwah. Dalam skala kecil,  aktivis-aktivis dakwah yang ikhlas di negeri ini tidak mencukupkan dirinya untuk hanya berkorban menjalankan kerja dakwah di kampus-kampus dan sekolah-sekolah,  namun terus beranjak merambah berbagai kalangan. Masjid-masjid, perkantoran, ibu-ibu arisan, pembantu rumah tangga, pedagang-pedagang dan lain-lain menjadi lahan dan obyek garapan mereka.  Meskipun dalam prakteknya mereka mendapat imbalan berupa ‘pengganti transport’, tapi bisa dipastikan bahwa bukan untuk itu mereka berdakwah. Karena ketika mereka memulai dakwahnya mereka tidak berangkat dari keinginan mencari nafkah lewat jalan itu. Sungguh, walaupun tidak mendapat imbalan mereka akan terus berdakwah di ladang tersebut. Itulah bukti keikhlasan mereka. &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;Sebagai penutup, Imam Syahid Hasan Al Bana menjelaskan tentang ikhlas dalam rukun bai’ah kedua. “Ikhlas adalah seorang akh muslim dengan perkataannya, amalnya, jihadnya  dan semuanya diniatkan karena Allah swt, mengharapkan ridhaNya dan balasan yang baik tanpa melihat keuntungan maupun penampilan, titel di depan atau dibelakang namanya. Dan dengan demikian dia menjadi prajurit aqidah dan fikrah, bukan prajurit atau pejuang kepentingan dan manfaat.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;“Sesungguhnya amal seseorang bergantung pada niat, dan dia akan memperoleh apa yang dia niatkan...” ( Al Hadits)&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-6976871767801322540?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/6976871767801322540/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/07/ikhlaskah-saya.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/6976871767801322540'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/6976871767801322540'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/07/ikhlaskah-saya.html' title='Ikhlaskah Saya?'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-2236980227836644064</id><published>2010-07-15T19:44:00.000-07:00</published><updated>2010-07-15T19:55:21.079-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='tausiah'/><title type='text'>Penghambat Keshalihan</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://1.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TD_I6-7Mn2I/AAAAAAAAALQ/PfkZ5bnhZCc/s1600/khutbahjumat.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 89px;" src="http://1.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TD_I6-7Mn2I/AAAAAAAAALQ/PfkZ5bnhZCc/s320/khutbahjumat.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5494330986064551778" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Sebagai muslim, setiap kita pasti menginginkan menjadi orang yang shaleh, sebab jangankan kita, Nabi-Nabi saja menginginkannya, padahal seorang Nabi tentu saja termasuk orang shaleh. Hal ini karena, keshalehan akan membuat seseorang bisa dimasukkan ke dalam surga. Diantara Nabi yang meminta agar dimasukkan ke dalam kelompok orang yang shaleh adalah Nabi Sulaiman as sebagaimana disebutkan dalam firman Allah swt: &lt;br /&gt; &lt;br /&gt;فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;"Maka dia tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh".&lt;/span&gt; (QS An Naml [27]:19).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Namun, untuk menjadi shaleh ada hambatan-hambatan yang menghadang sehingga setiap kita harus mewaspadainya, bahkan mengatasi agar jangan sampai sifat-sifat yang menjadi penghambat keshalehan ini ada pada diri kita masing-masing. Ali bin Abi Thalib yang sering disebut sebagai pintu ilmu dan gudang ilmunya adalah Rasulullah saw, mengemukakan adanya sifat-sifat yang menjadi hambatan untuk menjadi shaleh, beliau berkata seperti yang dikutip oleh Imam Nawawi Al Bantani dalam kitabnya Nashaihul Ibad:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;لَوْلاَ خَمْسُ خِصَالٍ لَصَارَ النَّاسُ كُلُّهُمْ صَالِحِيْنَ أَوَّلُهَا الْقَنَاعَةُ بِالْجَهْلِ وَالْحِرْصُ عَلَى الدُّنْيَا وَالشُّحُّ بِالْفَضْلِ وَالرِّيَاءُ فِى الْعَمَلِ وَاْلإِعْجَابُ بِالرَّأْيِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jika tidak ada lima sifat tercela, niscaya manusia seluruhnya akan menjadi orang shaleh, kelima sifat tercela itu adalah: merasa senang dengan kebodohan, rakus terhadap harta keduniaan, bakhil dengan kelebihan harta yang dimiliki, riya dalam setiap amal yang dilakukan dan senantiasa membanggakan pendapat sendiri&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dari ungkapan Ali bin Abi Thalib di atas, lima penghambat untuk menjadi orang yang shaleh harus kita pahami agar kita bisa mencegahnya dari diri kita masing-masing.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Senang Dengan Kebodohan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kejahiliyahan yang diterjemahkan dengan kebodohan bisa dipahami bodoh dalam arti intelektual yakni tidak memahami ilmu tentang nilai-nilai kebaikan dan kebenaran atau bisa juga dipahami mengetahui ilmu tentang kebenaran tapi tidak menjalani kehidupan dengan baik dan benar. Kejahiliyahan seperti inilah yang dibenahi oleh Rasulullah saw, karena itu jangan sampai ada seorang muslim yang justeru senang dengan kebodohan. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara garis besar, Al-Qur’an menyebutkan kejahiliyahan dalam tiga bentuk. &lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Pertama&lt;/span&gt; adalah jahiliyah dalam masalah ketuhanan, yakni menjadikan selain Allah swt sebagai tuhannya. Tuhan dalam Islam adalah sesuatu yang tidak bisa dibuat, tidak bisa dilihat dengan pandangan mata, tidak ada sesuatu yang bisa menyamainya, bahkan tuhan itu justeru yang mencipta segala sesuatu, bukan dicipta oleh sesuatu. Karena itu, umat Nabi Musa diangap jahil karena mereka meminta dibuatkan tuhan, dalam kaitan ini Allah swt berfirman:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;وَجَاوَزْنَا بِبَنِي إِسْرَائِيلَ الْبَحْرَ فَأَتَوْاْ عَلَى قَوْمٍ يَعْكُفُونَ عَلَى أَصْنَامٍ لَّهُمْ قَالُواْ يَا مُوسَى اجْعَل لَّنَا إِلَـهاً كَمَا لَهُمْ آلِهَةٌ قَالَ إِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan Kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu, maka setelah mereka sampai kepada satu kaum yang tetap menyembah berhala mereka. Bani Israil berkata: Hai Musa, buatlah untuk kami sebuah tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa tuhan (berhala)”. Musa menjawab: “Sesungguhnya kamu ini adalah kaum yang tidak mengetahui/jahil”&lt;/span&gt; (QS Al A’raf [7]:138).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Kedua&lt;/span&gt;, jahiliyah dalam masalah syariah atau hukum, yakni berhukum kepada hukum selain dari hukum Allah atau hukum yang bertentangan dengan hukum-Nya. Itu sebabnya, seorang muslim jangan menggunakan hukum yang lain kecuali hukum Allah atau jangan gunakan hukum yang bertentangan dengan hukum-hukum Allah swt yang disebutkan dalam firman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللّهِ حُكْماً لِّقَوْمٍ يُوقِنُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki dan (hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang yakin&lt;/span&gt; (QS Al Maidah [5]:50).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;Ketiga, &lt;/span&gt;jahiliyah dalam masalah akhlak atau prilaku yang tidak sejalan dengan nilai-nilai yang datang dari-Nya, misalnya saja penampilan seorang wanita yang tidak islami, sikap sombong, pembicaraan yang tidak bermanfaat, perzinahan dll. Allah swt berfirman dalam kaitan menceritakan kasus yang terjadi pada Nabi Yusuf as: Yusuf berkata:&lt;br /&gt; &lt;br /&gt;قَالَ رَبِّ السِّجْنُ أَحَبُّ إِلَيَّ مِمَّا يَدْعُونَنِي إِلَيْهِ وَإِلاَّ تَصْرِفْ عَنِّي كَيْدَهُنَّ أَصْبُ إِلَيْهِنَّ وَأَكُن مِّنَ الْجَاهِلِينَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai daripada memenuhi ajakan mereka kepadaku. Dan jika tidak Engkau hindarkan dariku tipu daya mereka, tentu akan akan cenderung (memenuhi keinginan mereka) dan tentulah aku termasuk orang-orang yang bodoh &lt;/span&gt;(QS Yusuf [12]:33).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Rakus Terhadap Harta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Setiap orang pasti membutuhkan harta untuk bisa memenuhi segala kebutuhannya dalam hidup ini, karenanya harta harus dicari dengan cara yang halal dan mensyukuri bila telah memperolehnya, baik dalam jumlah yang sedikit apalagi banyak. Agar kita bisa dan tetap menjadi shaleh dalam kaitan dengan harta, maka jangan sampai kita menjadi orang yang rakus. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Kerakusan dalam harta biasanya ditandai dengan menginginkan harta yang banyak dengan cara yang tidak halal atau ia ingin agar orang lain tidak mendapatkannya sehingga dalam suatu usaha ia melakukan penguasaan atau monopoli yang mernyebabkan orang lain tidak mendapatkan peluang untuk berusaha. Disamping itu orang rakus menjadi iri terhadap orang lain yang memiliki harta sehingga ia berusaha agar tidak ada orang yang menyainginya, bahkan rakus terhadap harta membuat orang tidak peduli terhadap ketentuan hukum sehingga Allah swt memperingatkan kita semua dengan firman-Nya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ تَأْكُلُواْ أَمْوَالَكُم بَيْنَكُم بِالْبَاطِلِ وَتُدْلُواْ بِهَا إِلَى الْحُكَّامِ لِتَأْكُلُواْ فَرِيقاً مِّنْ أَمْوَالِ النَّاسِ بِالإِثْمِ وَأَنتُمْ تَعْلَمُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan janganlah sebahagian kamu memakan harta sebahagian yang lain di antara kamu dengan jalan yang bathil dan (janganlah) kamu membawa (urusan) harta itu kepada hakim, supaya kamu dapat memakan sebahagian daripada harta benda orang lain itu dengan (jalan berbuat) dosa, padahal kamu Mengetahui. &lt;/span&gt;(QS Al Baqarah [2]:188)&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Bakhil Terhadap Harta.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Memiliki sifat bakhil atau kikir dalam kaitan dengan harta membuat seseorang akan terhindar dari keshalehan, hal ini karena bakhil merupakan sifat tercela yang seharusnya dihindari, bila tidak, maka ia akan menjadi orang yang rugi dalam kehidupannya di dunia dan akhirat, Allah swt berfirman yang artinya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt; وَمَن يُوقَ شُحَّ نَفْسِهِ فَأُوْلَئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan siapa yang dihindarkan dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung &lt;/span&gt;(QS Al Hasyr [59]:9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena manusia menjadi tidak shaleh, maka kekikiran telah mengakibatkan binasanya suatu umat, hal ini karena mereka melakukan pertumpahan darah dan ternodalah nilai-nilai kehormatan yang mereka miliki, disinilah salah satu letak pentingnya bagi kita untuk menjauhi kekikiran, Rasulullah saw bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Jauhilah kekikiran, karena sesungguhnya ia telah membinasakan orang-orang sebelum kalian, mendorong mereka menumpahkan darah dan menghalalkan semua yang diharamkan Allah &lt;/span&gt;(HR. Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, kekikiran jangan dipandang sebagai sesuatu yang membuat seseorang beruntung hanya karena hartanya tidak berkurang, tapi sebenarnya ia mengalami kerugiaan yang nyata, misalnya orang lain menjadi tidak suka kepadanya, ketenangan jiwa hilang dari dirinya, sedangkan di akhirat dia lebih merugi lagi, Allah swt berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَلاَ يَحْسَبَنَّ الَّذِينَ يَبْخَلُونَ بِمَا آتَاهُمُ اللّهُ مِن فَضْلِهِ هُوَ خَيْراً لَّهُمْ بَلْ هُوَ شَرٌّ لَّهُمْ سَيُطَوَّقُونَ مَا بَخِلُواْ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلِلّهِ مِيرَاثُ السَّمَاوَاتِ وَالأَرْضِ وَاللّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sekali-kali, janganlah orang yang bakhil dengan harta yang Allah berikan kepada mereka dari karunia-Nya, bahwa kebakhilan itu baik bagi mereka. Sebenarnya kebakhilan itu adalah buruk bagi mereka. Harta yang mereka bakhilkan itu akan dikalungkan di leher mereka pada hari kiamat &lt;/span&gt;(QS Ali Imran [3]:180). &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;4. Riya Dalam Amal&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riya adalah melakukan kebaikan bukan karena Allah, tapi karena ingin dilihat orang, dipuji atau ada pamrih dalam amalnya. Riya merupakan perbuatan dan sifat orang-orang munafik, karenanya seorang muslim jangan sampai memiliki sifat yang satu ini karena dengan begitu sulit baginya untuk menjadi orang yang shaleh. Dalam konteks ini pula, dikenal istilah sum’ah yang berasal dari kata samma’a yang maksudnya adalah menampakkan amalnya kepada manusia yang semula tidak diketahuinya dengan maksud agar orang yang sudah tahu amalnya itu akan memujinya, Allah swt berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ الْمُنَافِقِينَ يُخَادِعُونَ اللّهَ وَهُوَ خَادِعُهُمْ وَإِذَا قَامُواْ إِلَى الصَّلاَةِ قَامُواْ كُسَالَى يُرَآؤُونَ النَّاسَ وَلاَ يَذْكُرُونَ اللّهَ إِلاَّ قَلِيلاً&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya orang munafik itu menipu Allah dan Allah akan membalas tipuan mereka. Dan apabila mereka berdiri untuk shalat, mereka berdiri dengan malas. Mereka bermaksud riya dihadapan manusia. Dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali &lt;/span&gt;(QS An Nisa [4]:142).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Riya merupakan bagian dari kemusyrikan, namun ia tergolong syirik yang kecil, Rasulullah saw sangat khawatir bila hal ini terjadi pada umatnya, karena sebanyak dan sebagus apapun amal seorang muslim, bila ternyata mengandung kemuyrikan meskipun sangat kecil, tidak ada nilai apa-apanya dihadapan Allah swt, Rasulullah saw bersabda: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya sesuatu yang paling aku takutkan terjadi pada kalian adalah syirik yang kecil. Sahabat bertanya: “apakah syirik yang kecil itu ya Rasulullah?”. Rasulullah menjawab: “Riya” &lt;/span&gt;(HR. Ahmad).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;5. Membanggakan Pendapat&lt;/span&gt; &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Membanggakan pendapat sendiri menjadi penghambat keshalehan karena dengan demikian seseorang akan meremehkan pendapat orang lain meskipun pendapat tersebut benar. Karena itu mau mendengar pendapat orang lain, apalagi memang meminta pendapat orang lain menjadi sesuatu yang sangat baik. Bila seseorang tidak mau menerima pendapat yang benar, bagaimana mungkin ia akan menjadi shaleh.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Oleh karena itu, para sahabat telah mencontohkan kepada kita bagaimana mereka mau menerima pendapat orang lain yang benar meskipun harus mencabut kembali pendapatnya yang tidak tepat, Umar bin Khattab merupakan salah satu contoh dalam masalah ini ketika ia mencabut kembali pendapatnya yang salah dalam masalah melarang pemberian mahar atau mas kawin dalam jumlah yang banyak. &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, mau menjadi shaleh atau tidak sangat tergantung pada usaha kita masing-masing dalam hidup ini dan sebagai muslim yang baik niscaya setiap kita akan berusaha kearah itu.&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-2236980227836644064?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/2236980227836644064/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/07/penghambat-keshalihan.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2236980227836644064'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/2236980227836644064'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/07/penghambat-keshalihan.html' title='Penghambat Keshalihan'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://1.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TD_I6-7Mn2I/AAAAAAAAALQ/PfkZ5bnhZCc/s72-c/khutbahjumat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-581698945698874531</id><published>2010-07-15T17:59:00.000-07:00</published><updated>2010-07-15T18:04:07.202-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlaq'/><title type='text'>MACAM-MACAM SEDEKAH (2)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://4.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TD-v_qe42LI/AAAAAAAAALI/XQuBp682g_U/s1600/khutbahjumat.JPG"&gt;&lt;img style="float:left; margin:0 10px 10px 0;cursor:pointer; cursor:hand;width: 118px; height: 89px;" src="http://4.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TD-v_qe42LI/AAAAAAAAALI/XQuBp682g_U/s320/khutbahjumat.JPG" border="0" alt=""id="BLOGGER_PHOTO_ID_5494303578685757618" /&gt;&lt;/a&gt;&lt;br /&gt;Banyak cara yang bisa kita lakukan dalam hidup ini agar kita termasuk ke  dalam kelompok orang yang bersedekah, meskipun harta tidak kita miliki.  Hal ini karena sedekah memang tidak hanya bisa dilakukan dengan  memberikan harta kepada orang lain. Pada tulisan yang lalu, ada tiga  bentuk sedekah yang bisa kita lakukan, yakni bekerja dengan tangan  sehingga kita bisa memenuhi nafkah diri dan keluarga, membantu orang  lain yang membutuhkan pertolongan dan melakukan amar makruf nahi munkar.  Melalui tulisan yang singkat ini, ada beberapa hal lagi hal yang harus  kita lakukan dalam hidup ini untuk mendapatkan nilai sedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;1. Perkataan Yang Baik&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Berbicara merupakan hal yang tidak bisa dipisahkan dalam kehidupan  manusia. Karena itu, dunia ini tidak pernah sepi dari aktivitas  berbicara. Adanya aktivitas berbicara membuat suatu kejadian bisa  diinformasikan, ilmu pengetahuan bisa diajarkan dan nilai-nilai  kebenaran atau kebaikan bisa disebarluaskan. Namun, dengan aktivitas  bicara keburukan, kebathilan atau kemunkaran juga bisa diinformasikan,  kesombongan bisa ditunjukkan dan permusuhan antar sesama manusia bisa  terjadi di seluruh dunia.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bagi seorang mukmin yang ingin memiliki kepribadian yang terpuji, ia  akan selalu berusaha berbicara dalam kerangka kebaikan dan kebenaran.  Karenanya, hal ini menjadi ukuran keimanan seseorang, dalam satu hadits  Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِا اللهِ وَالْيَوْمِ اْلأَخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا  أَوْ لِيَصْمُتْ.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata  yang baik atau diam&lt;/span&gt; (HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Manakala seseorang sudah berbicara yang baik, maka ia telah menunjukkan  salah satu manfaat dari keberadaannya sebagai manusia, sehingga  berbicara yang baik termasuk dalam kategori sedekah yang pada dasarnya  setiap kita bisa melakukannya. Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;وَالْكَلِمَةُ الطَّيِّبَةُ صَدَقَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Perkataan yang baik adalah sedekah &lt;/span&gt;(HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bila manusia tidak bisa berbicara yang baik, disamping hal  itu berbahaya bagi orang lain, sebenarnyan juga amat berbahaya bagi  dirinya sendiri, karena memang dosa terbesar atau terbanyak dari sekian  dosa yang dilakukan manusia adalah dosa yang bersumber dari lisannya,  Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;إِنَّ أَكْثَرَ خَطَايَا اِبْنِ آدَمَ فِى لِسَانِهِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya kebanyakan dosa anak Adam berada pada lidahnya&lt;/span&gt; (HR.  Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;2. Berlaku Adil.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Secara harfiyah, adil artinya meletakkan sesuatu pada tempatnya. Karena  itu, adil adalah memberikan hak kepada setiap orang yang berhak dan  menghukum orang yang bersalah sesuai dengan tingkat kesalahannya.  Menegakkan keadilan merupakan salah satu perintah Allah swt yang sangat  penting, sebagaimana firman-Nya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sesungguhnya Allah menyuruh kamu  menyampaikan amanat kepada yang berhak menerimanya, dan menyuruh kamu  apabila menetapkan hukum diantara manusia supaya kamu menetapkan dengan  adil. Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya  kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui &lt;/span&gt; (QS An Nisa [4]:58).&lt;br /&gt; &lt;br /&gt; Manakala kita bisa berlaku adil kepada orang lain dalam kehidupan ini,  maka kitapun termasuk orang yang bersedekah meskipun harta tidak kita  miliki, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَعْدِلُ بَيْنَ اْلإِثْنَيْنِ صَدَقَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Berlaku adil antar dua orang adalah sedekah &lt;/span&gt;(HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bersikap dan bertindak secara adil memang menjadi sesuatu yang amat  dibutuhkan. Dalam kehidupan manusia, baik satu orang dengan orang lain,  kelompok dengan kelompok hingga negara dengan negara, kadangkala terjadi  perselisihan, namun hal ini tidak boleh dibiarkan terus berlangsung.   Karena itu, perselisihan harus ditengahi atau didamaikan oleh seorang  penengah yang adil sehingga kedua kelompok yang bertikai dapat  mewujudkan kedamaian, Allah swt berfirman: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan jika ada dua golongan  dari orang-orang mu’min berperang, maka damaikanlah antara keduanya.  Jika salah satu dari kedua golongan itu berbuat aniaya terhadap golongan  yang lain, maka perangilah golongan yang berbuat aniaya itu sehingga  golongan itu kembali kepada perintah Allah. Jika golongan itu telah  kembali (kepada perintah Allah), maka damaikanlah antara keduanya dengan  adil dan berlaku adillah, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang  berlaku adil &lt;/span&gt;(QS Al Hujurat [49]:9).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Namun, sebelum jauh melangkah untuk berlaku adil di tengah-tengah  masyarakat, seorang muslim amat ditunjuk untuk berlaku adil terhadap  anggota keluarganya sendiri, misalnya berlaku adil terhadap anak.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Apabila orang tua mempunyai anak, apalagi lebih dari satu, maka sebagai  orang tua haruslah bersikap dan berlaku adil terhadap setiap anaknya  itu, termasuk kepada anak yang berbeda jenis kelaminnya. Meskipun  demikian, berlaku adil kepada anak bukanlah berarti sama jumlahnya dalam  pemberian, tapi harus sesuai dengan tingkat kebutuhannya. Rasulullah  saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;  إتَّقُوا اللهَ وَاعْدِلُوْا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Bertaqwalah kepada Allah dan berlaku adillah diantara anak-anakmu&lt;/span&gt; (HR.  Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hadits yang lain, Rasulullah saw juga bersabda:&lt;br /&gt;سَوُّوْا بَيْنَ أَوْلاَدِكُمْ ِفى الْعَطِيَّةِ وَلَوْ كُنْتُ مُفَضِّلاُ  أَحَدٌا لَفَضَّلْتُ النِّسَاءَ&lt;br /&gt;Persamakan diantara anak-anakmu dalam pemberian, dan seandainya aku  boleh memberikan kelebihan kepada salah satu diantara mereka, pasti akan  aku berikan kepada anak peremuan (HR. Ahmad dan Tirmidzi).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Selain berlaku adil kepada anak, seseorang juga harus berlaku adil   kepada isterinya, apalagi bila beristeri lebih dari satu, baik adil  dalam bentuk memberikan nafkah, pembagian waktu maupun perhatian, Allah  swt menekankan hal ini dalam firman-Nya: &lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Dan jika kamu takut tidak akan  dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim (bilamana  kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu  senangi : dua, tiga atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan  dapat berlaku adil, Maka (kawinilah) seorang saja, atau budak-budak yang  kamu miliki. yang demikian itu adalah lebih dekat kepada tidak berbuat  aniaya&lt;/span&gt; (QS An Nisa [4]:3).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight:bold;"&gt;3. Mendamaikan Orang Yang Bermusuhan&lt;/span&gt;.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Bermusuhan merupakan sesuatu yang sangat tidak menyenangkan dalam  kehidupan kita. Jangankan bila hal itu terjadi pada kita, terjadinya  pada orang lain saja membuat kita amat prihatin. Salah satu dampak  negatif yang kita rasakan dari terjadinya permusuhan adalah tidak adanya  ketenangan dan keamanan. Karena itu, permusuhan antar seseorang atau  kelompok tidak boleh kita biarkan terus berlangsung, harus dilakukan  upaya mendamaikan siapapun yang berselisih dan bermusuhan. Bila ini kita  lakukan, maka kitapun akan mendapatkan salah satu dari sedekah yang  paling utama, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;أَفْضَلُ الصَّدَقَةِ إِصْلاَحُ ذَاتِ الْبَيْنِ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Sedekah yang paling utama adalah mendamaikan orang yang bermusuhan &lt;/span&gt; (HR.Thabrani dan Bazzar).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena hal ini merupakan sedekah yang paling utama, maka mendamaikan  orang yang bermusuhan menjadi sedekah yang paling disukai oleh Allah swt  dan Rasul-Nya sebagaimana disebutkan dalam satu hadits:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;يَا أَبَا أَيُّوْبَ, أَلاَ أَدُلُّكَ عَلَى صَدَقَةٍ يُحِبُّهَا اللهُ  وَرَسُوْلُهُ؟ تُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ إِذَا تَبَاغَضُوْا وَتَفَاسَدُوْا&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style:italic;"&gt;Wahai Abu Ayyub, maukah kamu aku tunjukkan suatu sedekah yang Allah dan  Rasul-Nya mencintainya?. Perbaiki hubungan antara manusia bila mereka  saling benci dan merusak &lt;/span&gt;(HR. Thabrani).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, semakin kita pahami betapa besar peluang kita untuk  bisa bersedekah seandainya kita tidak punya harta untuk disedekahkan.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Drs. H. Ahmad Yani&lt;br /&gt;Email: ayani_ku@yahoo.co.id&lt;div class="blogger-post-footer"&gt;&lt;img width='1' height='1' src='https://blogger.googleusercontent.com/tracker/7279323257230728936-581698945698874531?l=www.khutbah-jumuah.co.cc' alt='' /&gt;&lt;/div&gt;</content><link rel='replies' type='application/atom+xml' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/feeds/581698945698874531/comments/default' title='Poskan Komentar'/><link rel='replies' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/07/macam-macam-sedekah-2.html#comment-form' title='0 Komentar'/><link rel='edit' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/581698945698874531'/><link rel='self' type='application/atom+xml' href='http://www.blogger.com/feeds/7279323257230728936/posts/default/581698945698874531'/><link rel='alternate' type='text/html' href='http://www.khutbah-jumuah.co.cc/2010/07/macam-macam-sedekah-2.html' title='MACAM-MACAM SEDEKAH (2)'/><author><name>Choirul Fata</name><uri>http://www.blogger.com/profile/10490176885482940580</uri><email>noreply@blogger.com</email><gd:image rel='http://schemas.google.com/g/2005#thumbnail' width='32' height='24' src='http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TCwrJ3qNj1I/AAAAAAAAAKA/X3IGMejiSSg/S220/Foto003.jpg'/></author><media:thumbnail xmlns:media='http://search.yahoo.com/mrss/' url='http://4.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TD-v_qe42LI/AAAAAAAAALI/XQuBp682g_U/s72-c/khutbahjumat.JPG' height='72' width='72'/><thr:total>0</thr:total></entry><entry><id>tag:blogger.com,1999:blog-7279323257230728936.post-468459777955308337</id><published>2010-07-08T04:53:00.000-07:00</published><updated>2010-07-08T04:58:28.125-07:00</updated><category scheme='http://www.blogger.com/atom/ns#' term='akhlaq'/><title type='text'>MACAM-MACAM SEDEKAH (1)</title><content type='html'>&lt;a onblur="try {parent.deselectBloggerImageGracefully();} catch(e) {}" href="http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TDW9NxjQFxI/AAAAAAAAAKo/5IJT8o20KIM/s1600/khutbahjumat.JPG"&gt;&lt;img style="float: left; margin: 0pt 10px 10px 0pt; cursor: pointer; width: 148px; height: 112px;" src="http://3.bp.blogspot.com/_4l69xKtPODc/TDW9NxjQFxI/AAAAAAAAAKo/5IJT8o20KIM/s320/khutbahjumat.JPG" alt="" id="BLOGGER_PHOTO_ID_5491503364985329426" border="0" /&gt;&lt;/a&gt;Secara harfiyah, sedekah berasal sari kata shadaqa yang artinya benar.  Dari makna ini, bisa kita tarik kesimpulan bahwa kebenaran keimanan dan  keislaman seseorang salah satunya harus dibuktikan dengan sedekah. Dalam  Ensiklopedi Hukum Islam, jilid 5 hal 1617, definisi sedekah adalah:  Pemberian dari seorang muslim secara sukarela tanpa dibatasi oleh waktu  dan jumlah tertentu; suatu pemberian yang dilakukan oleh seseorang  sebagai kebajikan yang mengharap ridha Allah swt dan pahala semata”.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dengan demikian, salah satu yang harus dilakukan oleh kaum muslimin  dalam hidupnya adalah bersedekah. Ini akan membuat keberadaannya terasa  bermanfaat besar, tidak hanya bagi diri dan keluarganya, tapi juga bagi  orang lain. Namun, banyak orang yang merasa tidak bisa bersedekah karena  tidak banyak harta yang dimilikinya. Memang banyak diantara kita yang  memahami bahwa sedekah itu mesti dengan harta, padahal banyak cara yang  bisa kita lakukan untuk bersedekah meskipun kita tidak punya harta,  sehingga tidak ada alasan bagi kita untuk tidak mau bersedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Karena itu, bagi kita yang tidak punya banyak harta jangan berkecil hati  karena kita bisa bersedekah dalam banyak hal, sedangkan orang yang  punya harta bisa bersedekah lagi dengan selain harta. Melalui tulisan  ini akan kita bahas beberapa hal yang bisa kita lakukan sehingga kitapun  tergolong orang yang bersedekah.&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;1. Bekerja Dengan Tangan.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Sebagai muslim, idealnya kita menjadi orang-orang yang dapat memberi  manfaat kebaikan yang sebesar-besarnya kepada orang lain, karena itu  setiap muslim harus berusaha dengan kerja tangannya agar minimal ia bisa  memenuhi kebutuhan dirinya dan tidak menjadi beban bagi orang lain.  Karena itu dapat memenuhi kebutuhan diri sendiri termasuk dalam kategori  bersedekah, apalagi bila ia bisa memberikan manfaat bagi orang lain.  Dalam hadits dari Abu Burdah, Rasulullah saw bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;عَلَى كُلِّ مُسْلِمٍ صَدَقَةٌ. قَالُوْا: يَارَسُوْلَ اللهِ اَرَاَيْتَ  اِنْ لَمْ يَجِدْ؟. قَالَ: يَعْمَلُ ِبيَدِهِ فَيَنْفَعُ نَفْسَهُ  وَيَتَصَدَّقَ. قَالُوْا: اَرَأَيْتَ اِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ؟. قَالَ:  يُعِيْنُ ذَا الْحَاجَةِ الْمَلْهُوْفِ. قَالُوْا: أَرَأَيْتَ اِنْ لَمْ  يَفْعَلْ؟. قَالَ: يَأْمُرُ بِالْمَعْرُوْفِ. قَالُوْا: أَرَأَيْتَ اِنْ  لَمْ يَفْعَلْ؟ قَالَ: يُمْسِكُ عَنِ الشَّرِّ فَاِنَّهَا صَدَقَةٌ&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;Setiap muslim harus bersedekah. Para sahabat bertanya: “Wahai Nabi  Allah, bagaimana dengan orang yang tidak memiliki harta?”. Beliau  bersabda: “Bekerjalah dengan tangannya sehingga ia bermanfaat bagi  dirinya lalu bersedekah”. Mereka bertanya lagi: “Bagaimana kalau ia  tidak punya?”. Beliau bersabda: “Membantu orang yang membutuhkan  lagi  meminta pertolongan”. Mereka bertanya lagi: “Kalau tidak bisa?”. Beliau  bersabda: “Hendaklah ia melakukan kebajikan dan menahan diri dari  kejahatan, karena keduanya merupakan sebaik-baik sedekah baginya &lt;/span&gt;(HR.  Bukhari).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt; Usaha yang kita lakukan adalah yang halal sehingga kita tidak mengemis,  karena mengemis itu hanya menjatuhkan harga diri kita dihadapan  manusia, hal ini tercermin dalam satu hadits Rasulullah saw yang memuji  orang yang berusaha secara halal meskipun harus bekerja keras dengan   hasil yang tidak banyak, beliau bersabda:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;َلأَنْ يَحْمِلَ الرَّجُلُ حَبْلاً فَيَحْتَطِبَ بِهِ, ثُمَّ يَجِيءَ  فَيَضَعَهُ فِى السُّوْقِ, فَيَبِيْعَهُ ثُمَّ يَسْتَغْنِى بِهِ,  فَيُنْفِقُهُ عَلَى نَفْسِهِ خَيْرٌلَهُ مِنْ اَنْ يَسْأَلَ النَّاسَ,  اَعْطَوْهُ اَوْمَنَعُوْهُ.&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;&lt;br /&gt;Seseorang yang membawa tambang lalu pergi mencari dan mengumpulkan kayu  bakar lantas dibawanya ke pasar untuk dijual dan uangnya digunakan untuk  mencukupi kebutuhan dan nafkah dirinya, maka itu lebih baik dari  seseorang yang meminta-minta kepada orang-orang yang terkadang diberi  dan kadang ditolak &lt;/span&gt;(HR. Bukhari dan Muslim).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-weight: bold;"&gt;2. Membantu Orang Lain.&lt;/span&gt;&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Dalam hidup ini kita pasti membutuhkan pertolongan orang lain, cepat  atau lambat, sehebat apapun kita. Bahkan semakin tinggi kedudukan  seseorang dan semakin banyak hartanya tingkat ketergantungannya pada  orang lain semakin besar, karenanya tidak pantas kita berlaku sombong  hanya karena kita memiliki sedikit kelebihan. Dalam Islam, kita amat  ditekankan untuk melakukan apa yang disebut dengan ta’awun atau tolong  menolong (kerjasama) yang dibingkai dalam kebaikan dan ketaqwaan, bukan  dalam dosa atau kemaksiatan, Allah swt berfirman:&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;&lt;span style="font-style: italic;"&gt;dan tolong-menolonglah  kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan taqwa, dan jangan  tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran dan bertaqwalah kamu  kepada Allah, Sesungguhnya Allah amat berat siksa-Nya&lt;/span&gt; (QS Al Maidah  [5]:2).&lt;br /&gt;&lt;br /&gt;Ketika kita mampu memberikan pertolongan atau bantuan kepada orang lain,  maka kitapun harus melakukannya dengan niat yang ikhlas karena Allah  swt, sekecil apapun bentuk bantuan yang bisa kita berikan, misalnya saja  kendaraan seseorang mengalami kerusakan di jalan raya dan harus  didorong untuk menghidupkannya lagi, maka kitapun ikut mendorongnya, itu  juga se
